Oleh: benmashoor | 27 Februari 2009

Waktu pelaksanaan maulid

Peringatan maulid Nabi saw yang saat ini dilakukan memang tidak dikenal dan tidak pernah diadakan pada zaman Nabi saw masih hidup. Oleh karena itu, peringatan maulid Nabi saw sebagaimana yang lazim kita kenal dewasa ini merupakan prakarsa baru atau sering disebut orang dengan istilah bid’ah (mengadakan sesuatu yang dahulunya tidak ada). Akan tetapi, tidak semua prakarsa atau bid’ah itu buruk. Mengenai prakarsa yang berkenaan dengan soal peringatan maulid Nabi saw jelas merupakan prakarsa baik yang patut dihargai. Sebab prakarsa tersebut mengandung banyak kebajikan, didukung oleh dalil-dalil syar’i, dan sudah menjadi tradisi baik kaum muslimin sedunia.

Bentuk-bentuk peringatan yang diselenggarakan oleh kaum muslimin di mana-mana, pada umumnya adalah baik, sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam, dan menambah tebalnya rasa kecintaan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Dalam peringatan maulid Nabi saw semua yang hadir mengucapkan shalawat dan salam serta mengagungkan kemuliaan beliau sesuai dengan perintah Allah swt yang berbunyi :

Sesungguhnya Allah swt dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bershalawat baginya dan sampaikanlah salam sejahtera kepadanya’.[1]

Menurut kaidah hukum syara’, sesuatu yang diminta supaya dilakukan hukumnya adalah mathlub, yakni hampir sama kuatnya dengan amr atau perintah. Dengan demikian maka jelaslah, bahwa mengadakan peringatan maulid Nabi saw tidak dapat dilepaskan dari kegiatan memenuhi sesuatu yang diminta (mathlub) oleh agama. Sedangkan kegiatan untuk memenuhi tuntutan agama adalah kewajiban yang tak boleh diabaikan.

Dari pertemuan-pertemuan yang diadakan untuk memperingati maulid Nabi saw, banyak sekali manfaat yang didapat. Antara lain pengetahuan tentang riwayat hidup Nabi saw, sejarah perjuangan beliau, dan akhlaq serta budi pekerti luhur beliau yang dapat dijadikan suri teladan bagi kaum muslimin dalam kehidupan sehari-hari. Sekalipun yang hadir tidak memahami pembacaan kitab maulid yang ditulis dalam bahasa Arab, namun dengan sepenuh hati dan sepenuh perasaan mereka mengikutinya dengan khidmat dan dengan khusu’ mengagungkan kebesaran Allah serta mengagungkan kemuliaan Rasulullah saw, dengan penuh harapan memperoleh keridhoan Allah swt dan kebajikan yang sebesar-besarnya.

Mengenai penyelenggaraan peringatan maulid Nabi saw tidak harus tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal, dan tidak pula harus tepat pada hari Senin, sekalipun waktu-waktu tersebut adalah yang paling afdhal.[2] Peringatan bisa diadakan pada hari dan waktu apa saja, bila disebabkan oleh sesuatu hal tidak bisa diadakan tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal atau pada hari Senin. Misalnya, peringatan dapat diadakan pada hari Jum’at, yaitu hari yang oleh agama Islam dinyatakan sebagai hari raya, hari terciptanya bapak manusia sedunia, Nabi Adam as. Diselenggarakannya peringatan maulid Nabi saw pada hari Jum’at mengandung hikmah besar, karena mencakup dua peristiwa sejarah yang maha penting dalam kehidupan umat manusia, yaitu peristiwa terciptanya bapak manusia dan menhormati hari raya yang dinyatakan oleh Nabi dan Rasul terakhir, Nabi Muhammad saw.


[1] Surat al-ahzab ayat 56.

[2] Seorang penulis Islam,Ustadz Ahmad Jauhari menginginkan agar peringatan maulid Nabi saw tidak hanya berlangsung dalam waktu sehari sja, tetapi berlangsung selama sebulan penuh, agar para ulama memperoleh waktu yang cukup untuk menyebarluaskan nilai-nilai abadi yang terdapat di dalam kehidupan Rasulullah saw.


Kategori

%d blogger menyukai ini: