Oleh: benmashoor | 27 Februari 2009

Maulid Nabi saw adalah nikmat terbesar

Allah swt memerintahkan semua hambanya agar selalu mengingat akan segala karunia nikmat-Nya, baik yang dilimpahkan secara umum maupun secara khusus kepada seseorang. Perintah tersebut tercantum dalam kitabullah berupa ayat-ayat muhkamat yang tidak memerlukan penta’wilan atau penafsiran apa pun juga. Tidak diragukan lagi oleh segenap kaum muslimin.

Tidak diragukan lagi oleh segenap kaum muslimin sejak masa kelahiran Islam hingga abad kita sekarang ini, bahwa junjungan kita Nabi Muhammad saw baik dalam kelahirannya maupun dalam semua hal-ihwalnya adalah satu nikmat besar, bahkan yang terbesar, dari segala nikmat yang dilimpahkan Allah swt kepada hamba-hamba-Nya secara umum. Dari nikmat yang terbesar itu segenap manusia, terutama kaum muslimin, memperoleh manfaat yang menjamin kebahagiaannya di dunia dan akhirat.

Dalam kitab shahih Bukhari diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwa pada suatu saat ketika Rasulullah saw saw menyebut ayat suci yang artinya ‘Tahukah engkau orang yang menggantikan nikmat Allah dengan kekufuran[1]. Beliau mengatakan, ‘Demi Allah, mereka itu adalah orang-orang kafir Quraisy, sedangkan aku adalah nikmat Allah’.

Jika Rasulullah saw sendiri telah menegaskan bahwa beliau adalah nikmat Allah, maka dengan sendirinya kelahiran beliau di alam wujud ini pun merupakan nikmat juga. Eksistensi seseorang manusia pilihan Allah si alam wujud ini tidak dapat dipisahkan sama sekali dari kelahirannya, sebab kelahiran itu sendiri adalah awal proses eksistensinya di alam wujud. Akal sehat tidak dapat mengingkari kenyataan itu sebagai suatu kebenaran, dan setiap orang beriman tidak akan mengingkari kebenaran

Kelahiran Nabi Muhammad saw adalah nikmat umum yang dilimpahkan Allah swt dan harus disyukuri dan diingat atau diperingati oleh setiap hamba-hamba-Nya. Keharusan ini terdapat dalam alquran. Dengan demikian maka kesimpulan logis yang wajib diterima dengan baik ialah mengingat atau memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw merupakan suatu hal yang diperintahkan Allah swt.

Kalau setiap prakarsa baru dinilai sebagai bid’ah dhalalah dan diharamkan pelaksanaannya seperti diantaranya melaksanakan peringatan maulid Nabi saw, tentu khalifah Abubakar dan Umar tidak akan memerintahkan Zaid bin Tsabit supaya mengumpulkan dan membukukan ayat-ayat alquran, bahkan pasti akan melarang dan mengharamkannya. Jika terjadi yang demikian itu. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana keadaan Islam dan kaum muslimin yang tidak mempunyai mushaf tertulis yang satu dan sama.

Para sahabat Nabi saw pada awalnya berpendapat bahwa pembukuan alquran adalah bid’ah sayyiah (bid’ah yang tercela). Mereka khawatir jika pembukuan itu akan mengakibatkan rusaknya kemurnian agama Islam. Umar bin Khattab sendiri sampai merasa takut jika di kemudian hari alquran akan lenyap karena wafatnya para sahabat Nabi saw yang hafal alquran. Ia mengemukakan kekhawatirannya itu pada khalifah Abubakar dan mengusulkan agar khalifah memerintahkan pembukuan alquran, tetapi ketika itu khalifah Abubakar menolak usul Umar. Namun tidak berapa lama kemudian Allah swt membukakan fikiran khalifah Abubakar, maka sepakatlah dua orang sahabat Nabi saw itu memerintahkan pelaksanaan pembukuan alquran. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya :

Setelah banyak penduduk Yamamah meninggal dunia akibat suatu peperangan, Abubakar memanggil saya (zaid bin Tsabit) untuk datang ke tempatnya dan di sana sudah terdapat Umar. Abubakar mengatakan kepada saya : Aku didatangi Umar dan ia berkata kepadaku, bahwa kematian banyak menimpa orang-orang penghafal alquran, yaitu pada waktu terjadinya perang Yamamah. Ia sangat khawatir jika kematian akan menimpa lebih banyak lagi para penghafal alquran di berbagai tempat, sehingga akan banyak sekali ayat-ayat alquran yang hilang. Ia berpendapat, sebaiknya aku memerintahkan pembukuan alquran. Ketika itu aku menjawab, bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah saw ? Umar berkata : itu merupakan hal yang baik. Dalam keadaan Umar masih terus mengulangi usulnya, Allah swt membukakan dadaku seperti telah dibukakan pada dada Umar, dan akhirnya aku sependapat sama dengan Umar’.

Jika segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh kaum muslimin segenerasi dengan Nabi saw, kemudian sekarang ini dilakukan oleh kaum muslimin seluruhnya dinilai sebagai prakarsa sesat, maka kita dapat bertanya dan memeriksa diri kita masing-masing, bid’ah atau prakarsa sesat manakah yang kita tidak hayati sekarang ini. Segi kehidupan kita sebagai individu maupun sebagai masyarakat, dewasa ini hampir seluruhnya tidak sama dengan segi-segi kehidupan kaum msulimin yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad saw dan para khalifah Rasyidun.

Semakin jelas, bahwa syariat Islam sama sekali tidak melarang diadakannya peringatan-peringatan maulid Nabi saw bahkan menganjurkannya sebagai suatu prakarsa baik yang perlu dilestarikan pengamalannya, mengingat banyaknya manfaat yang berguna bagi kemaslahatan Islam dan kaum muslimin. Yang dilarang oleh syariat ialah bentuk-bentuk peringatan atau perayaan yang mengundang berbagai macam maksiat, atau mengandung berbagai macam jenis kemungkaran seperti pesta pora yang bersifat mubadzir, bukan peringatan maulidnya yang dilarang, melainkan kemungkaran itulah yang dilarang. Kebajikan tidak dapat dicampur adukan dengan kemungkaran, sama dengan yang haq tidak boleh dicampuradukan dengan yang batil. Kalau alasannya adalah bahwa melaksanakan peringatan maulid itu tidak mempunyai dalil aqli (akal) dan syar’i, maka jawabannya sudah jelas pada uraian sebelumnya, orang yang melarang justru itulah yang seharusnya memberikan dalil.

Tidak ada salahnya jika kita menyelenggarakan peringatan maulid dengan mengadakan pidato-pidato, ceramah-ceramah dan pelajaran-pelajaran khusus, baik di masjid, balai pertemuan maupun melalui mass media, selama peringatan itu diselenggarakan menurut cara-cara yang sesuai dengan ajaran syariat, tidak riya[2] dan tidak berlebih-lebihan. Kegiatan seperti itu diharapkan dapat mengingatkan kaum muslimin kepada soal-soal yang bersangkutan dengan agama mereka, paling tidak yang hadir mendapatkan kesegaran jiwa dan melepaskan sementara kesibukan sehari-harii mengenai urusan duniawi yang tidak ada habis-habisnya. Mengenai manfaat peringatan, Allah swt telah berfirman, ‘Dan ingatkanlah, karena peringatan itu sesungguhnya bermanfaat bagi orang-orang yang beriman’.[3]


[1] Surat Ibrahim ayat 28.

[2] Mencari nama baik dan pujian orang demi memperoleh status sosial di masyarakat dan mencari manfaat keduniaan lainnya.

[3] Surat al-Dzariyat ayat 55.


Kategori

%d blogger menyukai ini: