Oleh: benmashoor | 27 Januari 2009

Umar Muhdhar bin Abdurrahman Assegaf

Imam Umar Muhdahr lahir di Tarim. Beliau dibesarkan dalam ketaatan kepada Allah swt dan dididik dalam asuhan ayahnya, maha guru kaum shalihin, al-arif rabbani, hafal alqur’an dan kitab Minhaj al-Thalibin seperti beliau hafal surat al-fatihah yang ia pelajari dari ayah dan gurunya. Beliau mempunyai daya hafal yang luar bias maka jika ia disodori kitab maka kitab tersebut dihafalnya dalam jangka waktu yang cepat.

Selain kepada ayahnya,beliau belajar fikih kepada Syaikh Abu Bakar bin Muhammad Bafadhal. Kepada gurunya tersebut beliau mempelajari kitab Minjah, Tanbieh, Ihya dan Tafsir yang hampir saja beliau menghafal kitab-kitab tersebut. Khusus ilmu batin beliau belajar kepada ayahnya.

Imam Umar Muhdhar seorang yang banyak bermujahadah,riyadhoh dalam amal-amal soleh,meninggalkan kesenangan dan kenikmatan,sedikit makan malam maupun siang,bahkan beliau tidak makan kurma selama tiga puluh tahun. Beliau berkata : “Kurma dapat menimbulkan nafsu syahwat, karena itu aku melarang diriku sendiri untuk makan kurma’. Beliau menunaikan ibadah haji ke baitullah selama empat puluh hari perjalanan tanpa merasakan makanan dan air, akan tetapi kekuatannya tidak berkurang dan tidak merasa lelah dalam perjalanan tersebut. Beliau pernah tinggal di sisi makam nabi Hud as selama selama satu bulan tidak makan kecuali hanya beberapa ekor ikan. Seperti saudaranya Abubakar assakran, beliau juga menguasai ilmu-ilmu tentang ketuhanan dan alam malakut serta rahasia alam gaib. Keadaan tersebut mulai diketahui sejak ayahnya masih hidup. Maka ayahnya berkata,’ Kami temukan pada Umar sesuatu yang membuat kami mengetahui bahwa ia termasuk golongan auliya’ Allah.’ Beliau dapat membaca lafadz al-Tatief dalam satu nafas sebanyak seribu kali, begitu juga lafadz al-hafidz.

Murid-murid Imam Umar Muhdhar yang utama diantaranya syaikh Abdullah Alaydrus dan saudaranya syaikh Ali bin Abibakar assakran, syaikh Ahmad bin Abibakar, syaikh Ahmad bin Umar bin Ali bin Umar bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam, sayid Husin bin al-Faqih Ahmad bin Alwi, sayid Muhammad bin Abdullah bin Ali, al-Faqih Muhammad bin Ali Bazaqfam, syaikh Abubakar bin Abi Qubail.

Pada zamannya, tidak ada satu orangpun yang dapat melebihi keutamaannya. Al-allamah Muhammad bin Ali al-khirrid berkata,’Saya mendengar ayahku berkata : Sesungguhnya pada diri syaikh Umar Muhdahr terpelihara delapan puluh macam karamah’.

Berkata syaikh Abdullah Alaydrus,’Suatu hari saya mendengar syaikh Umar berkata, jika dikumpulkan semua keluarga Ba’alawi yang ada dan ditimbang, maka timbangan tersebut sama dengan timbangan saya seorang diri. Berkata Sulthonah az-Zubaidiyah,’ Saya melihat syaikh Umar Muhdhar bin Abdurrahman Assegaf di suatu qubah dari cahaya yang naik menuju langit dan semua auliya’ berada di bawahnya, sedangkan ia di atasnya seperti bintang.’

Imam Umar Muhdhar wafat ketika sedang sujud pada shalat dzuhur hari Senin tanggal dua belas Dzulqoidah tahun 833 hijriyah dan dimakamkan di Tarim.


Kategori

%d blogger menyukai ini: