Oleh: benmashoor | 25 Juli 2008

Husein Asy-Syahid

Sayyidina Husein (Abu Abdillah) adalah cucu dan buah hati Rasulullah. Ia lahir pada hari kelima dari bulan Sya’ban tahun keempat hijriyah. Al-Hakim mengemukakan sebuah hadits dalam kitab sahihnya, yang bersumber dari sahabat Yahya al-‘Amiri, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Husein dariku dan aku dari Husein. Ya Allah cintailah orang yang mencintai Husein. Husein adalah salah seorang asbath’.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad, Abu Ya’la serta Ibnu Asakir dari Jabir bin Abdullah, saya telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa suka melihat seorang pemimpin para pemuda ahli surga, maka hendaklah ia melihat kepada Husein bin Ali’.

Sayyidina Husein gugur sebagai syahid, pada hari Jum’at, hari kesepuluh (Asyura) dari bulan Muharram, tahun 61 hijriyah di padang Karbala, suatu tempat di Iraq yang terletak antara Hulla dan Kuffah. Ibnu Hajar memberitahukan sebuah hadits dari suatu sumber yang diriwayatkan dari Ali, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Pembunuh Husein kelak akan disiksa dalam peti api, yang beratnya sama dengan siksaan separuh penduduk dunia’.[1]

Abu Na’im meriwayatkan bahwa pada hari terbunuhnya sayyidina Husein, terdengar jin meratap dan pada hari itu juga terjadi gerhana matahari hingga tampak bintang-bintang di tengah hari bolong. Langit di bagian ufuk menjadi kemerah-merahan selama enam bulan, tampak seperti warna darah.

Sayyidina Husein sungguh telah memasuki suatu pertempuran menentang orang yang bathil dan mendapatkan syahidnya di sana. Menurut al-Amiri, Sayidina Husein dikarunia 6 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Dan dari keturunan sayyidina Husein yang meneruskan keturunannya hanya Ali al-Ausath yang diberi gelar Zainal Abidin. Sedangkan Muhammad, Ja’far, Ali al-Akbar, Ali al-Ashgor , Abdullah , tidak mempunyai keturunan (ketiga nama terakhir gugur bersama ayahnya sebagai syahid di Karbala). Sedangkan anak perempuannya adalah : Zainab, Sakinah dan Fathimah.[2]


[1] Al-Syablanji, Op Cit, hal 210.

[2] Al-Masyhur, Op Cit, Jilid 1, hal. 29.


Kategori

%d blogger menyukai ini: