Oleh: benmashoor | 25 Agustus 2009

Ali bin Abubakar As-Sakran

Syaik Ali bin Abubakar Sakran lahir di Tarim pada tahun 818 hijriyah, hafal alquran dan membacanya mujawwad dengan dua riwayat yaitu Abi Amru dan Nafi’, hafal kitab al-Hawi karangan al-Quzwani (baik kitab fiqih dan kitab nahwu), beliau juga seorang  guru besar ilmu syariat.

Kakeknya meninggal ketika ia berusia tiga tahun. Ketika ibunya mengandung, ayahnya syaikh Abubakar Sakran memberitahukan kepada isterinya bahwa anak yang dikandungnya mempunyai maqam yang agung. Syaikh Abubakar Sakran berkata : Sesungguhnya ketika anakku sedang dalam kandungan telah terkumpul pada diri syaikh Ali dua jenis ilmu, akan tetapi hal tersebut masih tersembunyi dan akan terlihat sebelum rambutnya memutih’.

Dan ketika syaikh Ali lahir  berkata kakeknya al-Muqaddam Tsani Abdurrahman Assaqaf, ‘Sesungguhnya kelahiran anak Abubakar adalah kelahiran seorang sufi’. Pada malam ke tujuh kalahirannya berkata saudaranya syaikh Abdullah Alaydrus : ‘Namakan ia dengan Ali’.

Sesudah ayahnya wafat, beliau diasuh oleh pamannya syaikh Umar Muhdhar , yang menjaganya dari hal-hal yang merusak serta mendidiknya dengan kebaikan. Ketika pamannya wafat, beliau masuk khalwat. Dalam khalwatnya beliau mendengar suatu panggilan : ‘Ya ayyuhannafsu mutmainah irji’I ila robbika radhiyamatammardiyah’, kemudian beliau keluar dari khalwatnya dan membaca kitab ihya ulumuddin, maka dibacanya kitab tersebut sampai dua puluh lima kali tamat, setiap tamat dalam membaca kitab tersebut, saudaranya syaikh Abdullah Alaydrus mengundang para fuqaha dan masakin untuk mengadakan tasayakuran.

Guru-guru beliau di antaranya ayahnya Abubakar Sakran, pamannya syaikh Umar Muhdhar, syaikh Saad bin Ali, syaikh Shondid, Muhammad bin Ali shohib shohib Aidid. Belajar fiqih dan hadits kepada al-faqih Ahmad bin Muhammad Bafadhal. Beliau juga belajar ke Syihir, Gail Bawazir. Di Gail Bawazir beliau belajar kepada para fuqaha dari keluarga Ba’amar, al-Baharmiz, syaikh Abdullah bin Abdullah bin Abdurrahman Bawazir, dan tinggal di sana selama empat tahun. Setelah itu beliau pergi ke Aden belajar kepada Imam Mas’ud bin Saad Basyahil, kemudian mennaikan ibadah haji ke baitullah pada tahun 849 hijriyah dan tinggal di rubat Baziyad serta belajar kepada ulama di kota tersebut. Kemudian beliau berziarah ke makam Rasulullah saw dan membaca kita al-Bukhari kepada Imam Zainuddin Abi Bakar al-Atsmani di masjid nabawi.

Murid-murid syaikh Ali bin Abibakar Sakran di antaranya anak-anaknya yang bernama Umar, Muhammad, Abdurrahman, Alwi, Abdullah dan sayid Umar bin Abdurrahman shohibul Hamra, syaikh Abubakar  al-Adeni  Alaydrus, syaikh Muhammad bin Ahmad Bafadhal, syaikh Qasim bin Muhammad bin Abdullah bin syaikh Abdullah al-Iraqi, syaikh Muhammad bin Sahal Baqasyir, syaikh Muhammad bin Abdurrahman Bashuli.

Syaikh Ali seorang  auliya’ yang mempunyai kefasihan lidah, terkumpul padanya keutamaan dan kepemimpinan, beliau juga banyak mengkaji kitab Tuhfah dan mengamalkan isinya, banyak shalat malam dan sesudahnya beliau banyak menangis, seorang yang mempunyai sifat qanaah, tawadhu’. Di antara keistimewaannya jika shalat, beliau lupa akan kehidupan duniawi dan tidak pernah membicarakan dunia dalam majlisnya. Beliau pernah ditanya oleh gurunya syaikh Said bin Ali pada keadaan menghadapi sakaratul maut, ‘Apa yang engkau tinggalkan?’ Beliau menjawab hanya kamar ini.

Berkata saudaranya Abdullah Alaydrus, ‘Orang yang paling dekat hatinya kepada Allah adalah hati saudaraku Ali’. Berkata pula syaikh Abdullah Alaydrus, ‘Sesungguhnya apa yang ada pada diriku karena saudaraku Ali, jika terbenam sinar matahari saudaraku Ali, maka terbenam pula sinar matahariku’. Berkata syaikh Umar Muhdhar kepada anaknya Fathimah sebelum dinikahi dengan syaikh Ali, ‘Wahai Fathimah, nanti engkau akan menikah dengan seorang wali quthub’.

Syaikh Muhammad bin Hasan Jamalullail berkata : ‘Dalam shalat aku berdoa kepada Allah swt agar diperlihatkan kepada seseorang yang mempunyai rahasia-rahasia-Nya dalam zaman ini, maka aku melihat dalam mimpiku seorang lelaki mengambil tanganku dan membawanya kepada syaikh Ali’.

Syaikh Ali seorang yang berjalan di atas thariqah kefakiran yang hakiki, dalam thawafnya beliau berdoa : ‘Allahumma ij’alni nisfal faqir’ (Ya Allah jadikanlah aku dalam keadaan setengah fakir), tidak mempunyai perasaan benci kepada satu orang pun, membaca hizib di antara isya dan setelah hingga terbit matahari. Beliau juga hafal alquran dalam waktu empat puluh hari.

Kitab yang telah dibacanya : Riyadhus Salihin, Minhajul Abidin, al-Arbain, Risalah al-Qusyairiyah, al-Awarif al-Ma’arif, I’lamul Huda, Bidayatul Hidayah, al-Muqtasid al-Asna, al-Ma’rifah, Nasyrul Mahatim, Sarah Asmaul Husna dan lainnya.

Sebagian ulama berkata : ‘ Sesungguhnya memandang beliau menghilangkan kekotoran jiwa, kedudukan dan rahasia al-faqih al-muqaddam ada pada beliau’. Berkata  syaikh Muhammad bin Ali al-Khirrid ; ‘Memandang beliau adalah obat bagi yang melihat, dan perkataannya obat penawar yang mujarrab’.

Syaikh Ali bin Abibakar Sakran wafat pada hari Minggu tanggal dua belas bulan Muharram tahun 895 hijriyah dalam usia 77 tahun. Keturunan beliau di antaranya adalah keluarga al-Wahath, al-Musayyah, al-Umar Faqih, al-Bin Ahsan (Banahsan) , al-Masyhur, al-Zahir, al-Hadi dan al-Shahabuddin.


Kategori

%d blogger menyukai ini: