Oleh: benmashoor | 28 April 2009

Abdullah bin Abubakar Alaydrus

Imam Abdullah lahir di Tarim pada tanggal sepuluh dzulhijjah tahun 811 hijriyah. Kakeknya Abdurrahman Assegaf merasa senang dengan kelahirannya dan berkata : Dia adalah seorang sufi dan gelarnya Alaydrus. Alaydrus adalah gelar auliya dan nama seorang ahli sufi besar. Beliau pemimpin para sufi di zamannya, sesuai dengan doa ayahnya yang meminta kepada Allah dalam khalwatnya agar memberinya keturunana yang soleh dan berbakti, mempunyai derajat dan nama besar.

Kakeknya wafat ketika ia berusia delapan tahun dan selanjutnya beliau dididik oleh ayahnya dengan didikan yang sempurna. Ketika berusia enam belas tahun ayahnya pun wafat dan selanjutnya beliau didik oleh pamannya syaikh Umar Muhdhar dan menikahkan dengan anak perempuannya. Pamannya selalu mengajarkan jalan para ulama solihin dan memakaikannya pakaian sufi. Syaikh Abdullah Alaydrus berkata : Saya diajari oleh pamanku tentang rahasia nama-nama Allah dan saya belajar pula kepadanya ilmu-ilmu hitungan. Beliau belajar alquran kepada syaikh Muhammad bin Umar Ba’alawi, belajar fiqih kepada al-faqih Saad bin Ubaidillah bin Abi Ubad, syaikh Abdullah Baharawah, al-Faqih Abdullah Bagushair, al-Faqih Ali bin Muhammad Abi Ammar.

Imam Abdullah mulai bermujahadah ketika berusia tujuh tahun, beliau juga pernah berpuasa selama tujuh tahun berturut-turut dan berbuka hanya dengan tujuh butir kurma, tidak makan apapun selain itu. Beliau berkata :Pada awalnya aku menelaah kitab-kitab fiqih dan mendorong aku untuk bermujahadah dengan memperbanyak lapar. Beliau pernah lebih dua puluh tahun sedikit tidur baik malam maupun siang, sehingga derajat beliau menjadi syaikhul akbar, beliau selalu menutup diri dari ketenaran.

Murid-murid Imam Abdullah di antaranya saudaranya sendiri syiakh Ali bin Abi Bakar Sakran, syaikh Umar bin Abdurrahman shahibul hamra, syaikh Abdullah bin Ahmad Baaktsir, sayid Ahmad Qasam bin Ali syaibah, syaikh Muhammad bin Ali al-Afif al-Hamdani al-Hajrani. Beliau selalu melazimkan membaca kitab ihya ulumuddin dan hamper saja beliau hafal kitab tersebut serta menganjurkan kepada murid dan sahabatnya untuk membaca dan mengkajinya. Sebaliknya beliau melarang sahabatnya untuk mengkaji kitab Futuhatul Makiyah dan beliau memerintahkan untuk berkhusnuzhon saja kepada syaikh Muhyidin Ibnu Arabi bahwa beliau adalah salah satu auliya’ Allah.

Imam Abdullah menginfaqkan hartanya untuk kaum fuqara dan masakin, sangat tawadhu’ terhadap kaum faqir miskin, tegas terhadap para penguasa sehingga para raja cinta dan tunduk kepadanya, lembut perkataannya. Kitab yang dibaca antara lain Tanbih, Minhaj, Khulasoh. Dalam ilmu tauhid dan hakikat, beliau pernah berkata dengan perkataan yang lembut : Jika aku ingin, aku dapat menafsirkan huruf alif hingga seratus jilid, tapi itu tidak aku lakukan. Beliau mengarang kitab al-Kibrit al-Ahmar dan mensyarahkan qsidah yang dikarang oleh pamannya syaikh Umar Muhdhar.

Imam Abdullah Alaydrus wafat pada hari Minggu sebelum waktu zawal tanggal dua belas ramadhan tahun 865 hijriyah.


Kategori

%d blogger menyukai ini: