Oleh: benmashoor | 22 Desember 2008

Ayat alqur’an yang mengisyaratkan adanya kafaah

Dalam alquran surat al-Baqarah ayat 232, Allah swt berfirman :

وإذا طلّقتم النساء فبلغن أجلهنّ فلا تعضلوهنّ أ ن ينكحن أزواجهنّ. إذا ترا ضوا بينهم بالمعروف .

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan calon suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf.”

Maksud dari ayat tersebut adalah, wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan percaya kepada Rasul-Nya, jika kalian menjatuhkan talak kepada istri-istri kalian hingga habis iddahnya dan bekas suami mereka atau orang lain hendak mengawini mereka dan mereka juga menghendaki demikian, maka janganlah kalian (wali-wali mereka) mencegah mereka melakukan perkawinan jika keduanya sudah suka sama suka berdasarkan syariat dan adat, yaitu tidak ada di dalamnya sesuatu yang diharamkan atau yang tidak mengandung kebaikan dan dapat menodai mereka (kaum wanita) sehingga kaum kerabat mereka pun ikut ternoda karenanya.

Berkata Ibnu Jarir al-Thobari dalam tafsirnya :

Ayat ini merupakan dalil kuat yang menjelaskan kesahihan pendapat yang menyatakan tidak ada pernikahan tanpa wali dari pihak ayah. Sesungguhnya Allah swt telah menyebutkan dalam firman-Nya bahwa wali dapat mencegah dan melarang wanita yang ingin menikah tanpa walinya. Maka berhati-hatilah kepada wanita yang ingin menikahkan dirinya sendiri tanpa walinya. tetapi jika ia berkehendak mengambil wali dalam pernikahannya, maka walinya tidak boleh mencegah dan melarangnya.

Menurut Imam Syafii, inilah satu-satunya ayat yang menunjukkan kekuatan status wali. Hal ini diperkuat lagi oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Turmudzi dan Ibnu Majah dari Abu Musa al-Asy’ari : ‘Tidak ada pernikahan tanpa wali’.

Berkata Ibnu Mundzir, tidak satupun didapati sahabat yang bertentangan dengan hadits tersebut. Diantara yang mendukung hadits tersebut adalah Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khottob, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Aisyah, Hasan Basri, Ibnu Musayyab, Ibnu Sabramah, Abi Laila, Keluarga Nabi saw, Ahmad, Ishaq, Syafii, dan jumhur ulama. Mereka berpendapat bahwa tidak sah akad nikah tanpa wali.

Dalam tafsir al-Maraghi dijelaskan :

Bahwa dalam firman Allah swt tersebut, kata بينهم (diantara mereka) menunjukkan tidak ada halangan bagi seorang lelaki untuk melamar wanita (janda) tersebut langsung kepada dirinya dan bersepakat dengannya untuk melakukan perkawinan. Pada saat itu diharamkan pada walinya menahan dan menghalang-halanginya melakukan pernikahan dengan orang yang melamarnya.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh firman-Nya dalam kata بالمعروف menunjukkan bahwa melarang atau mempersulit seorang janda melakukan perkawinan, hanya diperbolehkan jika ternyata lelaki yang melamarnya tidak sepadan (tidak sekufu’) dengan janda tersebut. Misalnya, seorang wanita terhormat hendak kawin oleh lelaki berakhlaq rendah yang dapat merusak kehormatan wanita tersebut serta mencemarkan kerabat dan sanak familinya. Jika memang demikian, maka wajib bagi walinya mengalihkannya dari lelaki tersebut dengan nasehat dan petunjuk yang bijaksana.

Sebagian ahli fiqih ada yang memperbolehkan melarang wanita kawin jika ternyata mahar yang diserahkan oleh pelamar masih di bawah mahar yang sepadan (mitsil). Tetapi harus diingat, bahwa jika yang dating melamar adalah seorang lelaki yang baik perangainya serta berakhlaq mulia dan diharapkan dapat membina suatu rumah tangga yang baik, tetapi ia tidak bisa membayar mahar yang banyak atau sulit dilakukan olehnya, maka saat itu wajib bagi walinya menikahkannya dan tidak boleh mencegahnya.

Adapun yang menjadi ukuran kafa’ah (sepadan) adalah menurut adat istiadat yang berlaku pada masyarakat umumnya. Jadi bukan menurut ukuran golongan elite atau yang berpangkat dan berkedudukan tinggi. Apa yang dianggap oleh masyarakat umum tidak cocok dengan wanita dan status keluarganya, maka hal itu boleh dijadikan alasan bagi walinya untuk mencegah terjadinya perkawinan, sebab akibatnya akan membawa malapetaka yang lebih berat. Sebagaimana seorang wali pun tidak berhak memaksanya menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Sebab, hal ini sering membawa malapetaka dan kerusakan pada rumah tangga.

Berkata Abu al-Abbas dalam kitab fatawa-nya, setelah menyebutkan ayat tersebut dan sampai pada firman Allah swt yang berbunyi بالمعروف, menunjukkan bahwa sesungguhnya seorang wanita yang rela dinikahkan tidak dengan cara yang baik, yaitu jika para walinya menghalanginya untuk menikah dengan yang tidak sekufu’. Sebaliknya wanita yang menikah dengan cara yang baik yaitu pernikahan yang sekufu’.

Sayid Rasyid Ridha dalam tafsir al-Manar mengatakan, para ahli fiqih telah mengambil dalil dari ayat ini bahwa menghalangi pernikahan yang tidak sekufu bukanlah suatu yang haram, seperti menghalangi pernikahan seorang wanita yang mulia dalam suatu kaum dengan seorang lelaki hina yang akan membawa wanita tersebut ke dalam derajat yang rendah.


Kategori

%d blogger menyukai ini: