Oleh: benmashoor | 8 November 2008

Abdurrahman Assaqaf (al-Muqaddam al-Tsani)

Imam Abdurrahman Assaqaf lahir di Tarim. Beliau tumbuh dan belajar ilmu di Tarim, Gail, Aden dan daerah lainnya serta membagi waktunya antara Tarim, Syibam, Du’an, Barum dan Aden. Iunya bernama Aisyah binti Abibakar bin Ahmad bin Muhammad al-faqih al-muqaddam yang dikuburkan di Qasam. Beliau adalah seorang penghimpun ilmu-ilmu aqli dan naqli yang dipelajarinya dari syaikh Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Muhammad al-faqih al-muqaddam, syaikh Ali bin Salim at-Tarimi, syaikh Ali bin Said Basolib, syaikh Abdullah bin Thohir ad-duani, Abubakar Ba’abad asy-syibami. Di antara gurunya yang terakhir ini, beliau berkesempatan untuk mengunjunginya setiap tahun.

Sedangkan murid-muridnya adalah anak-anaknya, sayid Muhammad bin Hasan Jamalullail, Abdurrahman bin Muhammad Khatib dan anaknya syaikh Muhammad bin Abdurrahman Khatib, Ahmad bin Umar shahib masof, Saad bin Ali Madihij, Abdurrahman bin Ali Khatib, Abdullah bin Muhammad Basarahil, Abdullah bin Ahmad al-Amudi dan lainnya yang tersebar di penjuru Hadramaut. Beliau adalah seorang mursyid, membangun masjid dan mewakafkannya, mengeluarkan infaq untuk kaum lemah, janda dan anak yatim setiap hari.

Syaikh Abdurrahman Assaqaf adalah seorang pemimpin para wali al-arifin, seorang waliyullah yang menguasai ilmu ketuhan yang sempurna, beliau seorang ahli mujahadah, bahkan tidak tidur pulas selama tiga puluh tiga tahun. Ketika ditanya sebabnya, Imam Abdurrahman Assaqaf menjawab : Bagaimana aku dapat tidur pulas, bila aku miring ke kanan aku melihat surge dan bila aku miring ke kiri aku melihat neraka.

Imam Abdurrahman Assaqaf membaca alquran dalam sehari semalam delapan kali khatam, empat kali khatam di waktu malam hari dan empat kali khatam di waktu siang hari. Pada siang hari beliau dua kali khatam alquran antara waktu subuh dan zuhur, satu kali khatam antara waktu zuhur dan ashar yang dibacanya dalam dua rakaat shalat dan satu kali khatam yang dibacanya setelah waktu ashar. Beliau sering beribadah di sisi makam nabi Hud as sampai berbulan-bulan hanya dengan memakan segenggam roti setiap harinya. Tempat beliau beribadah tersebut masih terpelihara sampai sekarang.

Para wali dan kaum ulama solihin memberikan penghormatan kepada beliau dan mereka menyaksikan bahwa pada zamannya tidak ada satu orang pun yang dapat melebihi kedudukan beliau dari segala sisi. Mereka juga berkata bahwa anak-anak beliau adalah para wali quthub yang agung.

Imam Abdurrahman Assaqaf sering membaca kitab al-wajiz dan al-muhazzab, dan hamper saja beliau hafal isi kitab tersebut. Beliau membaca kitab tersebut kepada gurunya al-allamah Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Muhammad al-faqih al-muqaddam. Beliau pergi ke Gail dan membaca kitab Ihya Ulumuddin, ar-risalah, al-awarif kepada al-faqih Muhammad bin Saad Basyahil dan syaikh Muhammad bin Abibakar Ba’abad. Kemudian beliau pergi ke Aden untuk belajar kepada al-qadhi Muhammad bin Said Kaban tentang ilmu nahwu dan shorof serta ilmu-ilmu bahasa Arab lainnya. Beliau juga sangat menguasai ilmu usul, ma’ani, bayan, tafsir, hadits, sehingga mengangkat martabat beliau sebagai seorang guru besar dan ahli ibadah di zamannya. Di samping itu beliau berziarah dan shalat di masjid yang berada di seluruh Tarim pada setiap malamnya.

Imam Abdurrahman Assaqaf telah mencapai derajat kaum ahli hakikat, beliau telah dipakaikan khirqah yang membentengi dirinya dari tipuan dunia, Allah swt telah menghilangkan sifat cinta dunia dan sifat tercela dari hatinya, sebaliknya Allah swt menggantinya dengan sifat-sifat yang terpuji dan kesungguhan dalam mengerjakan amalan-amalan hati. Beliau juga seorang petani kurma yang berhasil di Tarim dan Mispalah. Setiap menancapkan satu batang pohon kurma ke tanah, beliau membacakan surat Yasin sampai batang kurma yang akan ditanam habis.

Imam Abdurrahman Assaqaf wafat pada hari Kamis tanggal dua puluh tiga Sya’ban tahun 819 hijriyah dan dimakamkan pada hari Jum’at pagi.

Di antara kata-kata mutiaranya :

1. Obatnya hati adalah tidak tergantung pada makhluq

2. Barangsiapa yang tidak mempunyai wirid, maka ia seperti kirid (monyet).

3. Barangsiapa yang tidak menelaah dan mempelajari kiyab Ihya, maka ia tidak mempunyai rasa malu.

4.Semua manusia membutuhkan ilmu, ilmu membutuhkan amal, amal membutuhkan akal, akal membutuhkan taufik, dan taufik adalah pemberian Allah swt. Setiap ilmu tanpa diamalkan adalah batil, setiap ilmu dan amal tanpa iman, akan naik mengawang-awang tidak sampai pada tujuannya. Setiap ilmu, amal dan iman tanpa mengetahui cara untuk mengerjakannya akan ditolak. Setiap ilmu, amal, iman dan cara mengerjakannya tanpa sifat wara’, maka ia akan merugi.

5. Barangsiapa tidak membaca kitab al-muhazzab, maka ia tidak mengenal kaidah-kaidah madzhab.


Kategori

%d blogger menyukai ini: