Oleh: benmashoor | 25 Oktober 2008

Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam

Imam Ahmad lahir dan dibesarkan di Tarim. Di samping belajar dengan ayahnya, Imam Ahmad juga belajar kepada saudaranya Alwi dan Abdullah, karena beliau adalah anak yang paling kecil dari ayahnya. Beliau juga seorang yang hafal alquran. Imam Muhammad bin Ali al-Faqih a-Muqaddam berkata : ‘Anakku ada lima, Alwi, Abdullah, dan Abdurrahman mewarisi dzatku sedangkan Ali dan Ahmad mewarisi sifatku’.

Imam Ahmad selalu berjalan di atas thoriqah ayahnya, diantaranya banyak berpuasa, silaturahmi, berdzikir baik malam dan siang, sangat suka beruzlah menghindari diri dari bercampur dengan manusia. Menurut beliau, banyak bercampur dengan manusia mewariskan kebangkrutan amal. Beliau seorang yang zuhud dan tawadhu’ terhadap orang yang lebih tua dan yang lebih muda.

Syaikh Sahal bin Abdullah bin Muhammad bin Hikam Baqasyir berkata : ‘Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memberi berkahnya kepada Nabi Muhammad saw, dan dari Nabi saw diberikan kepada para salihin dan orang-orang yang berziarah pertama ke makam sayid Ahmad sambil berkata : Assalamu’alaikum wahai  sayid Ahmad, engkau telah mendapatkan berkah dari Nabi saw dan berkah Nabi saw dari Allah swt.

Imam Ahmad wafat sebagai syahid pada tahun 706 hijriyah, di makamkan dekat masjid al-arifbillah Syaikh Abdullah bin Ibrahim Baqasyir. Makamnya terkenal di kalangan masyarakat sekitar dan diperbaharui pada awal abad sepuluh. Di antara keturunan Imam Ahmad adalah para sayid dari famili Ba’umar, Albar, Khaneman, Ba’ali, Bilfaqih, Albiedh, Balghaits, Al-Jufri, Al-kaf, Al-Bahar, Al-Shofi.


Kategori

%d blogger menyukai ini: