Oleh: benmashoor | 15 Agustus 2008

Madzhab Ahlul Bait dalam menghadapi masalah-masalah khilafiyah

Dalam kitabnya al-Da’wah al-Tammah halaman 130 dengan judul : ‘Meninggalkan perdebatan tentang perbedaan pendapat yang terjadi di antara sahabat’ , Imam al-Haddad berpendapat sudah seharusnya dihentikan segala macam pembicaraan tentang perselisihan yang telah terjadi di antara sahabat Rasulullah saw yang menyebabkan peperangan dan fitnah. Diantaranya dari melebih-lebihkan dan membesar-besarkan sesuatu yang tidak jelas tentang pembunuhan Usman bin Affan ra, hal yang terjadi antara Ali bin Abi Thalib dengan Talhah, Zubair dan Aisyah dalam perang Jamal, dan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah serta Amru bin Ash dalam perang Siffin. Orang-orang yang beriman dituntut kelembutan dalam beragama menghadapi persoalan para sahabat Rasulullah saw agar mendapatkan jalan keluar yang tepat yang membawa kepada sebaik-baiknya solusi, sehingga tidak meninggalkan keutamaan dan keagungan mereka, disebabkan mereka adalah manusia yang terpercaya, pilihan dan mulia. Orang-orang beriman dijadikan sebagai ikutan bagi mereka dengan jalan kebaikan[1], perumpamaan Allah dalam alquran tentang mereka, dalam firmannya :

“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata : Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Surah Al-Hasyr ayat 10)

Hal ini juga termasuk kepatuhan terhadap perintah Rasulullah saw dalam sabdanya :

“Jika disebutkan di antara kamu (tentang masalah yang diperselisihkan), maka

diamlah kamu.”

Madzhab ahlul bait menerima semua yang disebutkan dalam kitab alquran dan sunnah nabi tentang keutamaan-keutamaan mereka, dan meyakini bahwa mereka adalah generasi terbaik, seperti yang disabdakan Rasulullah saw : “Sebaik-baiknya kalian adalah generasiku, kemudian yang datang setelah itu, kemudian yang datang setelah itu, kemudian yang datang setelah itu…”

Rasulullah saw bersabda :

Perhatikanlah aku dalam urusan sahabat dan shihrku. Siapa yang memperhatikanku dalam urusan mereka, Allah swt akan memperhatikan dan menjaganya di dunia dan akhirat. Siapa yang tidak memperhatikanku dalam urusan mereka, Allah swt akan tidak akan memperhatikannya di dunia dan akhirat. Jika Allah tidak memperhatikannya di dunia dan akhirat, maka ia tidak akan mendapat syafaatnya.

Al-Allamah al-Imam Ahmad bin Hasan al-Atthas yang terkenal dengan kitabnya berjudul Tanwir al-Aglas berkata : “Para sahabat adalah manusia yang paling utama setelah para nabi, dan sahabat yang paling utama adalah khalifah yang empat, dan paling utamanya khalifah empat yaitu Abu Bakar al-Shiddiq, Umar al-Faruq, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Ini adalah madzhab ahlu sunnah wal jama’ah. Semua mereka adalah terpercaya dan bersih dari kesalahan. Mereka di bagi menjadi tiga : Muhajirin, Anshor dan sahabat yang beriman kepada Rasul saw dan sahabatnya.

Para sahabat semuanya terpercaya dan mempunyai keutamaan, dan apa yang terjadi di antara sahabat bersikap diam adalah wajib hukumnya, sesuai dengan syair yang terdapat dalam kitab alZubad :

“Dan apa yang terjadi diantara sahabat, kita bersikap diam atasnya.”

Allah swt akan memperbaiki keadaan dan menyatukan mereka dalam rahmat-Nya di tempat yang mulia. Jika ada sebagian manusia masih saja membicarakan kekurangan beberapa sahabat, yang pasti hal itu bukanlah contoh perilaku dari salaf mereka dalam masalah tersebut. Hal itu merupakan hasil dari tulisan-tulisan yang mencampuradukan antara yang hak dan yang bathil. Dan kebenaran didapat dengan mengikuti prilaku salaf yang harus dijadikan pedoman dan dikerjakan. Siapa saja yang menyimpang dari manhaj yang lurus ini dan mengira tidak akan mendapatkan manfaat dari nasehat dan peringatan ini akan menyesal di kemudian hari. Kita berlindung kepada Allah dari orang-orang yang mengatakan bahwa kita tidak mempunyai ilmu tentang hal itu atau berkata kita berpegang kepada hal tidak benar atau kita mengerjakan tanpa kebaikan.

Sayid al-Allamah Abubakar bin Abdurrahman bin Shihab menekankan apa yang ditulis oleh pengarang buku yang berjudul ‘Syiah di Indonesia’ berupa bait-bait syair yang memberikan pandangan kepada kita tentang sebagian masalah khilafiah yang terjadi, pada dasarnya bait-bait tersebut menunjukkan suatu sikap yaitu diam terhadap apa yang terjadi di antara sahabat, yang merupakan manhaj keluarga dan salafnya. Petunjuk yang menjadikannya tasayyu’ dengan pengertian madzhab tidak ditemukan sama sekali dalam kehidupan sebenarnya. Syair-syairnya menunjukkan harapan akan keadilan dalam mengupas suatu masalah. Tidak ada bedanya apakah Ibnu Shihab seorang Sunni atau Imamiyah, hal itu menunjukkan bahwa beliau tetap berpegang pada madzhab keluarganya. Dan tidaklah syair-syairnya menjadi dalil bagi siapa saja orang yang ingin menyangkal tentang manhaj keluarganya. Berkata al-Allamah Ibnu Shihab dalam diwannya :

Agama kami mencintai ahlul bait Rasulullah saw

Cinta yang menggugurkan dosa-dosa

Begitu pula cinta kepada dua sahabat yang mulia yang memperkuat agama

Dengan keduanya Allah jadikan fitnah dan menyelamatkan

Dari penyimpangan yang membingungkan pandangan

Untuk Usman yang dikenal mempunyai keutamaan

Dan kebaikan yang diperolehnya dengan kemudahan

Merekalah yang pertama diberi kabar gembira

Dengan surga sebagai tempat yang kekal kemudian.

Berkata Ibnu Syihab dalam kitabnya Raspah al-Shodi :

“Wajib atas semua manusia dan ahlil bait al-syarif khususnya menghormati dan mengagungkan para sahabat Rasulullah saw dan mencintai semuanya disebabkan mereka adalah ‘nujum al-hidayah’ dan rijal al-riwayah wa al-dirayah’, mereka manusia yang paling utama setelah para nabi, dan Allah telah memuji atas mereka di dalam kitab-Nya dan telah diceritakan dalam hadits-hadits shahih.”

Rasulullah saw bersabda :

“Sesungguhnya Allah swt telah memilih sahabatku di dunia ini setelah para nabi

dan rasul.”

“Allah, Allah, bersama sahabatku janganlah membuat marah mereka sesudahku. Siapa yang mencintai mereka berarti telah mencintaiku, siapa yang membenci mereka berarti telah membenciku. Siapa yang membenciku berarti telah membenci Allah swt.”

“Sahabatku seperti bintang, siapa yang berpegangan kepada mereka akan selamat.”

“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya (kekuasaan-Nya) sekiranya seseorang dari kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, ia tidak akan mencapai satu mud dari mereka bahkan belum mencapai setengahnya.”

Kemudian sohib Raspat al-Shodi berkata :

Dan sahabat yang paling utama adalah Abubakar, kemudian Umar, kemudian Usman, kemudian Ali ra. Sebagian kaum Ahlu Sunnah mengutamakan Ali dari Usman. Sebagian lagi tidak membedakan antara keutamaan Usman dan Ali sebagaimana yang dinukil oleh Imam Malik, dan hal tersebut terdapat dalam kitab al-Zubad dengan syairnya sebagai berikut :

“Dan sahabat yang paling utama adalah al-Shiddiq, kemudian al-Faruq, setelah itu Usman begitu pula dengan Ali, sahabat yang enam dan ahlu Badar.”


[1] Penulis buku Syi’ah di Indonesia berpandangan bahwa Imam al-Haddad adalah seorang tasayyu’, akan tetapi tidak ditemukan sedikitpun dari karangan maupun diwannya yang membantu kebohongan pengarang tersebut. Di samping itu penulis tersebut menukil beberapa bait dari qashidahnya yang panjang, akan tetapi hal tersebut tetap saja tidak memberikan hujjah atas ketasayyu’an Imam al-Haddad.

Imam al-Haddad adalah salah satu dari pemimpin ahlul bait, seorang wali quthub yang lahir dari madrasah ahlu sunnah wal jamaah, lebih dari tiga puluh kitab karangan beliau semuanya menyatakan bahwa beliau berkhidmat kepada mazhab Syafiiyah Alawiyah yang berdasarkan alquran dan sunnah nabi. Hal itu dapat diketahui melalui tulisan-tulisan maupun perkataan-perkataan beliau. Semua itu cukup sebagai petunjuk bagi siapa saja yang ingin mengetahui manhaj al-Imam al-Haddad.


Kategori

%d blogger menyukai ini: