Oleh: benmashoor | 14 Agustus 2008

Jamiat Kheir : Pembaharu Pendidikan Islam Di Indonesia

Karel A Steenbrink mengdentifikasikan empat faktor penting yang mendorong gerakan perubahan islam di Indonesia pada permulaan abad ke-20, yaitu : pertama, faktor keinginan untuk kembali kepada alquran dan hadits. Kedua, faktor semangat nasionalisme dalam melawan penjajah. Ketiga, faktor memperkuat basis gerakan sosial, ekonomi, budaya dan politik. Keempat, faktor pembaharuan pendidikan Islam.[1]

Dari sudut pandang ide secara umum, gerakan pembaharuan di Indonesia agaknya dipengaruhi secara kuat oleh pemikiran dan usaha tokoh-tokoh pembaharu Timur Tengah pada akhir abad ke-19, khususnya Jamaluddin al-Afgani dan Muhammad Abduh. Kedua tokoh ini dipandang sangat penting dalam menyalakan api pembaharuan pada akhir abad ke-19 di hampir seluruh dunia Islam. Pemikiran dan usaha mereka bertumpu pada keyakinan, bahwa Islam adalah agama yang sangat mendorong penggunaan akal sehingga keharusan ijtihad tidak pernah tertutup. Meskipun sikap politik mereka secara tegas menunjukkan anti Barat karena praktek penjajahan yang dilakukannya terhadap Negara-negara Islam, Jamaluddin al-Afgani dan Muhammad Abduh memberi dukungan kepada umat Islam untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang lebih luas sebagaimana sudah dialami juga lebih dahulu oleh sebagian besar Negara-negara Barat. Dalam kaitan inilah, mereka menyerukan penataan system kelembagaan social, politik, ekonomi dan termasuk pendidikan.

Gerakan Jamaluddin al-Afgani dengan Pan Islamismenya mempunyai dua tujuan utama yaitu membangun dunia Islam di bawah satu pemerintahan dan mengusir penjajahan dunia Barat atas dunia Islam.[2] Ia melihat diantara sebab kemunduran umat Islam adalah lemahnya persaudaraan antara sesame umat Islam. Oleh sebab itu harus dibangun solidaritas umat Islam sedunia (Pan Islamisme) sehingga umat Islam berada dalam pemerintahan yang demokratis. Dengan cara demikian umat Islam akan memperoleh kemerdekaannya kembali dan penjajah Barat atas dunia Islam dapat dienyahkan. Tentang dunia Nasrani, al-Afgani berpendapat, sekalipun mereka berlainan keturunan dan kebangsaan, namun mereka bersatu dalam menghadapi dunia Islam. Mereka sengaja menghalang-halangi kebangkitan umat Islam dan apa yang dikatakan nasionalisme dan patriotisme serta cinta tanah air bagi dunia Barat, tetapi untuk dunia Islam mereka katakan sebagai fanatisme, ekstrimisme dan chauvinisme. Oleh sebab itu, tidak ada jalan lain bagi umat Islam, kecuali bersatu melawan penjajahan Barat Nasrani tersebut.

Sedangkan tujuan dari gerakan Muhammad Abduh adalah pemurnian amal perbuatan umat Islam berdasarkan alquran dan hadits, pembaharuan dalam bidang pendidikan, perumusan kembali ajaran Islam menurut pikiran modern serta penolakan terhadap pengaruh Barat dan Nasrani.[3] Muhammad Abduh menyerukan agar umat Islam kembali kembali kepada alquran dan hadits serta kehidupan salaf al-soleh. Menurutnya Islam adalah ibadah dan muamalah. Dalam soal ibadah tidak perlu dilakukan ijtihad. Tetapi dalam soal muamalah diperlukan interpretasi baru sesuai dengan perubahan keadaan sekarang. Ilmu pengetahuan modern (Barat) berdasarkan sunnatullah (hukum alam), karenanya tidak bertentangan dengan Islam, untuk itu umat Islam perlu merombak system pendidikan, baik metode maupun kurikulumnya.

Kebanyakan para pembaharu dan gerakan pembaharuan Islam di Indonesia dipengaruhi oleh salah satu dari empat dorongan tersebut. Sepanjang penelitian yang telah dilakukan, tidak terdapat contoh sempurna dari para pembaharu maupun organisasi pembaharuan Islam di Indonesia, yang menerima satu dorongan maupun empat dorongan. Oleh karena itu, semua istilah modernis, konservatif harus diterima dalam arti tertentu saja, karena ada terjadi pribadi atau organisasi yang termasuk taqlid dalam bidang ibadah (konservatif), tetapi dalam bidang politik sangat progressif dan revolusioner.

Menarik untuk dicermati adalah perkumpulan Jamiat Kheir yang didirikan di Batavia pada tahun 1901 sebagai organisasi sosial yang membawa semangat tolong menolong. Jamiat Kheir dibentuk dengan tujuan utama mendirikan satu model sekolah modern untuk para pemuda Arab. Perkumpulan ini lebih menitikberatkan semangat pembaharuan melalui lembaga pendidikan modern, karena memang lebih memungkinkan bagi umat Islam untuk mengembangkan semangat yang lebih progressif, lagi pula pembaharuan melalui pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada alquran dan hadits adalah suatu hal yang tidak mungkin. Menurut Jamaluddin al-Afgani, pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada alquran dan hadits dalam arti yang sebenarnya, tidaklah mungkin. Kalau ada pertentangan antara ajaran-ajaran Islam dengan kondisi yang dibawa perubahan zaman dan perubahan kondisi, penyesuaian dapat diperoleh dengan mengadakan interpretasi baru ajaran-ajaran Islam, seperti tercantum dalam alquran dan hadits. Untuk interpretasi itu diperlukan ijtihad, dan karenannya pintu ijtihad harus dibuka.

Jamiat Kheir merupakan lembaga pertama yang membuka jalan sebagai peletak dasar perubahan budaya baru dengan menerapkan sistem pendidikan eropa modern, meskipun masih banyak pihak yang belum dapat menerima terjadinya perubahan dalam bidang pendidikan tersebut. Pada tahun 1880, Van Den Berg menulis bahwa sebagian besar masyarakat Arab kurang berminat terhadap pendidikan sistem Eropa dibandingkan dengan masyarakat Cina. Sebagai lembaga baru yang memperkenalkan metode pendidikan baru di kalangan masyarakat Arab pada abad 20, beberapa orang masih enggan menerima perkembangan itu seperti duduk dibangku atau belajar dari buku dan menggunakan papan tulis sebagaimana pada saat sebelumnya. Simbol perkumpulan dengan gaya modern Eropa seperti seragam sekolah tidak diterima komunitas itu. Mereka keberatan dengan model seragam yang memakai jaket, celana panjang, kaos kaki dan sepatu seperti model tarbus.[4] Meskipun demikian, masyarakat Arab secara berangsur-angsur menjadi lebih terbuka menerima institusi dan gagasan Eropa. Rinkes, penasehat Belanda untuk masyarakat pribumi dan Arab, mencatat perubahan tersebut sekitar tahun 1912 pada saat dimulainya era pergerakan.

Antara tahun 1903 dan 1915, atas inisiatif Jamiat Kheir banyak sekolah Arab-Islam modern yang berdiri, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sekolah ini juga menarik banyak para siswa dari masyarakat pribumi dan mereka cenderung untuk masuk sekolah secara bergantian, hal ini terpaksa dilakukan karena keterbatasan pengajar dan tempat. Masyarakat pribumi memasukkan anaknya ke sekolah Arab modern dengan pertimbangan agar anak mereka mendapatkan pendidikan modern, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kalangan elite Arab. Pada awalnya, sebagian besar masyarakat Arab menentang inovasi bidang pendidikan. Meskipun demikian, arus sekolah yang modern terus menekan yang lama kelamaan masyarakat dapat menerimanya. Pada waktunya, masyarakat Arab menyadari pentingnya institusi ini dalam memperkuat identitas dan posisi sosial ekonomi mereka.

Sistem pendidikan modern, pada umumnya dilaksanakan oleh pemerintah, yang pada mulanya adalah dalam rangka memenuhi tenaga-tenaga ahli untuk kepentingan pemerintah, dengan menggunakan kurikulum dan mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan modern. Sedangkan system pendidikan tradisional yang merupakan sisa-sisa dan pengembangan system zawiyah, ribat atau pondok pesantren yang telah ada di kalangan masyarakat, pada umumnya tetap mempertahankan kurikulum tradisional yang hanya memberikan pendidikan dan pengajaran keagamaan. Dualisme system dan pola pendidikan inilah yang selanjutnya mewarnai pendidikan Islam di semua negara dan masyarakat Islam di zaman modern. Dualisme ini pula yang merupakan problema pokok yang dihadapi oleh usaha pembaharuan pendidikan Islam.

Jamiat Kheir sebagai lembaga pendidikan modern pertama mempelopori keterpaduan antara kedua system tersebut, dengan cara memasukkan kurikulum ilmu pengetahuan modern ke dalam system pendidikan tradisional, dan memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum sekolah-sekolah modern. Selanjutnya perkumpulan ini menjadi contoh bagi sekolah-sekolah yang didirikan oleh organisasi-organisasi Islam lain, sehingga system pendidikan tradisional akan berkembang secara berangsur-angsur mengarah ke system pendidikan modern. Dan inilah sebenarnya yang dikehendaki oleh para pemikir pembaharuan pendidikan Islam, yang berorientasi pada ajaran Islam yang murni, sebagaimana dipelopori oleh al-Afgani, Muhammad Abduh, dan lain-lain. Sampai sekarang proses pemaduan antara kedua system dan pola pendidikan Islam ini, tampak masih berlangsung di kalangan masyarakat Islam Indonesia.

Jamiat Kheir membangun sekolah bukan semata-mata bersifat agama, tapi sekolah dasar biasa dengan kurikulum agama, berhitung, sejarah, ilmu bumi dan bahasa pengatar Melayu. Bahasa Inggris merupakan pelajaran wajib, pengganti bahasa Belanda. Sedangkan pelajaran bahasa Arab sangat ditekankan sebagai alat untuk memahami sumber-sumber Islam.

Dilihat dari pelaksanaan program pendidikannya, Jamiat Kheir telah melakukan beberapa langkah pembaharuan dalam bidang pendidikan Islam. Pertama, pembaharuan dalam bidang organisasi dan kelembagaan. Hal ini tampak pada perlunya dan semacam organisasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Kelengkapan itu semakin jelas ketika terbentuknya yayasan pendidikan Jamiat Kheir, yang sekaligus mengesahkan system pengajaran klasikal seperti bangku, papan tulis dan tentunya ruang belajar, yang menyamai kelengkapan sarana sekolah-sekolah pemerintah ketika itu. Kedua, pembaharuan dalam aspek kurikulum dan metode mengajar. Saat-saat institusi pendidikan Islam masih menerapkan system pengajaran pesantren dan surau, Jamiat Kheir mulai melangkah ke system pengajaran klasikal (sekolah). Kurikulum yang digunakan, merupakan perpaduan antara kurikulum sekolah pemerintah (mata pelajaran umum) dan kurikulum agama (mata pelajaran agama). Langkah-langkah pembaharuan pendidikan yang seperti itu pulalah pada hakikatnya, yang dicetuskan oleh Muhammad Abduh di Mesir sebelumnya. Harun Nasution mengungkapkan langkah-langkah pembaharuan Muhammad Abduh di al-Azhar :

… ia ingin membuat al-Azhar serupa dengan universitas-universitas yang ada di Barat. Tetapi ia mendapat tantangan dari ulama yang berpengaruh di al-Azhar, karena menurut mereka pengetahuan-pengetahuan modern itu tidak sesuai dengan ajaran Islam …

Dengan perbaikan-perbaikan serta pembaharuan yang dibawanya ke dalam tubuh al-Azhar, ia mengharapkan universitas ini menjadi pusat pembaharuan yang diingini untuk dunia Islam.

Gagasan pembaharuan yang dilaksanakan Muhammad Abduh di tingkat perguruan tinggi, tapi walaupun hanya terbatas pada tingkat pendidikan dasar, nampaknya ide pokok dari pembaharuan itu sendiri dapat ditangkap dan dikembangkan Jamiat Kheir. Mungkin aspek-aspek inilah maka dapat diambil kesimpulan Jamiat Kheir sebagai ‘Penggerak Dunia Islam Baru’ yang pertama kali di Indonesia. Deliar Noer menulis :

… pentingnya Jamiat Kheir terletak pada kenyataan bahwa ialah yang memulai organisasi dalam bentuk modern dalam masyarakat Islam (dengan anggaran dasar, daftar anggota yang tercatat, rapat-rapat berkala), dan yang mendirikan sekolah dengan cara-cara yang banyak sedikitnya telah modern (kurikulum, kelas-kelas dan pemakaian bangku-bangku, papan tulis dan sebagainya.[5]

Dalam rangka memperkuat basis gerakan sosial, ekonomi, budaya dan politik, Jamiat Kheir tidak melibatkan diri secara organisasi, disebabkan perkumpulan ini mendapat pengawasan yang sangat ketat dari pemerintahan Belanda. Jamiat Kheir membebaskan anggotanya untuk berperan aktif di organisasi lain, seperti di Budi Utomo dan Sarikat Islam. Menurut H. Agus Salim banyak anggota Budi Utomo dan Sarikat Islam sebelum itu adalah anggota Jamiat Kheir. Walaupun demikian, Jamiat Kheir pernah juga mendirikan organisasi pendidikan orang Islam muda yang dinamakan Sumatra-Batavia al-Khairat pada tahun 1908. Jamiat Kheir juga mendukung usaha bidang jurnalistik. Tiap orang Indonesia yang berusaha di bidang perdagangan atau ekonomi diusahakan untuk bekerjasama dengan gerakan ini. Mungkin haji Samanhudi, pedagang batik di Surakarta terpengaruh oleh gerakan ini dan atas inisiatifnya, pedagang Arab dan Indonesia mendirikan suatu organisasi di Surakarta untuk melindungi diri terhadap pedagang Cina, di bawah pimpinan Raden Mas Tirtoadisoejo.

Jamiat Kheir, selain sebagai pelopor pembaharuan dalam bidang pendidikan Islam, juga menjunjung tinggi semangat nasionalisme dalam melawan penjajah Belanda. Hubungan Jamiat Kheir dengan Negara-negara Islam di Timur Tengah seperti Mesir, Turki dan lain-lainnya terjalin dengan baik. Bahkan Jamiat Kheir pernah mengirimkan surat ke Sultan Turki selaku khilafat di Istambul. Kemungkinan hubungan tersebut banyak sedikitnya dapat menimbulkan kecurigaan pemerintahan kolonial Belanda terhadap Jamiat Kheir sebagai sebuah organisasi Islam. Jamiat Kheir dapat saja menganggap hubungan itu hanya sebagai keterikatan dengan konsep khilafat. Dan hubungan seperti itu merupakan kelanjutan tradisi dalam dunia Islam, yaitu hubungan antara ulama dengan pemerintah. Tapi dari segi politis, keharusan akan adanya jalinan hubungan ulama dengan khilafat adalah merupakan cirri dari kekhalifahan (pemerintahan) Islam sebagai negara patrimonial.[6] Aktivitas seperti itu, diduga menjadi salah satu penyebab kekahawatiran pemerintah terhadap Jamiat Kheir, hingga timbul larangan bagi organisasi ini ketika itu untuk membuka cabang-cabangnya di luar kota Batavia.

Jamiat Kheir tidak menganjurkan anggotanya untuk melawan penjajah Belanda dengan cara fisik, tetapi Jamiat Kheir lebih memilih media jurnalistik luar negeri khususnya negara-negara Arab untuk melawan pemerintah kolonial.. Melalui pengurusnya, Jamiat Kheir banyak menjalin hubungan dengan pemuka-pemuka Islam di Timur Tengah, seperti sayid Ali Yusuf penerbit surat kabar al-Muayyad, Ali Kamil pimpinan redaksi surat kabar al-Liwa, Abdul Hamid Zaki penerbit surat kabar al-Siyasah al-Musyawarah, Ahmad Hasan Tabarah penerbit surat kabar Samarat al-Funun Beirut, Muhammad Said al-Majzub penerbit surat kabar al-Qistah al-Mustaqim, Abdullah Qasim pimpinan redaksi surat kabar Syamsu al-Haqiqah, serta Muhammad Baqir Beik pemimpin redaksi surat kabar al-Adl. Melalui korespondensi pengurus Jamiat Kheir dengan berbagai surat kabar Timur Tengah, mereka memuat berita-berita yang mengkritik tindakan pemerintahan kolonial Belanda kepada umat Islam di Indonesia.

Karangan-karangan dalam surat kabar berbahasa Arab, terutama di Konstantinopel dan terkadang juga di Mesir, ditujukan terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Sebagian karangan-karangan itu dari para wartawan yang berasal dari Betawi atau Singapura, sebagian lainnya merupakan karangan dari redaksi sendiri, yang bernafaskan semangat bermusuhan terhadap pemerintah. Surat-surat kabar al-Muayyad (Kairo), Tsamarat al-Funun (Beirut) dan Salam (Iskandariyah) semuanya terkadang memuat karangan-karangan yang bernada demikian. Tetapi di atas segala-galanya, surat kabar al-Ma’lumat yang terbit di Konstantinopel, boleh dikatakan telah menyediakan rubric tetap, tang berisi pemberitaan dan ulasan yang bercorak anti Hindia Belanda.

Koran dan majalah yang mendukung perjuangan kemerdekaan dengan memuat karangan-karangan anti penjajahan banyak dimiliki oleh anggota Jamiat Kheir yang terbit sampai zaman Jepang. Di Jakarta dan Surabaya terbit koran dan majalah berbahasa Arab, seperti harian Hadramaut di Surabaya yang redaksinya dipimpin Idrus Bin Umar Al-Masyhur. Sedangkan, di Jakarta terbit harian Bir Hoed (telaga Hud) yang diambil dari nama sebuah telaga di Hadramaut dekat dengan makam Nabi Hud. Koran ini dipimpin S Moehammad Bin Agil Bin Yahya. Masih di ibukota, kala itu juga terdapat mingguan al-Somil yang dipimpin oleh Ali Bin Abdullah al-Saqqaf (menantu almarhum Habib Ali al-Habsji, pemimpin majelis taklim Kwitang, Jakarta Pusat). Majalah lainnya yang terbit di Jakarta adalah Borobudur Journal Arab. Pemimpin redaksinya M.O. Hasyimi, dan pendirinya adalah mantan Perdana Menteri Yaman Haydar Alatas dan S Abdullah bin Alwi Alatas yang masih terhitung kakek mantan Menlu Ali Alatas. Jurnal ini beralamat di Passer Baroe Oost (Jl Pasar Baru Timur) Weltevreden, Batavia. Kala itu Batavia dibagi tiga daerah, yakni Batavia Centrum (Jakarta Kota dan sekitarnya), Weltevreden (sekitar Gunung Sahari, Senen Kramat, Lapangan Banteng, dan Gambir), dan Meester Cornelis (Jatinegara).[7]

Di samping memuat karangan-karangan yang anti penjajah, pemberitaan koran dan majalah berbahasa Arab umumnya berisi berita-berita menyangkut umat Islam dan kegiatannya. Bukan hanya di tanah air, tapi juga perkembangan umat Islam di mancanegara, khususnya di negara Arab dan Islam. Tidak heran, kalau harian Hadramaut juga membuat laporan tentang kekejamaan tentara Italia ketika membantai para pejuang Libya di Tripoli pada tahun 1910-an. Para syahid yang mati demi Islam dan tanah airnya yang dipimpin Umar Mochtar ini juga pernah difilmkan oleh perusahaan film AS.

Masih dalam masa penjajahan, peristiwa syahidnya ribuan umat Islam Libya ini mendapat reaksi keras umat Islam Indonesia. Habib Ali Kwitang dilaporkan lantas berpidato di salah satu masjid jami’ di Jakarta guna menolong saudara-saudara yang menderita di Afrika Utara itu. Sedangkan, para tokoh Syarikat Islam yang dipimpin H Agus Salim menganjurkan rakyat untuk memboikot produk-produk Italia. Yang jadi korban adalah mobil merek Fiat yang paling banyak terdapat di Indonesia kala itu.

Seorang wartawan, pengarang, dan sastrawan keturunan Arab yang terkenal kala itu, Ahmad bin Abdullah al-Saqqaf, banyak menyerang pemerintah kolonial Belanda lewat tulisan-tulisannya. Dalam kiprahnya di bidang pendidikan, Ahmad bin Abdullah Assagaf ini memimpin madrasah al-Khairiyah di Surabaya, al-Islamiyah di Solo, dan setelah pindah ke Jakarta mengajar dan memimpin Madrasah Jamiatul Kheir, yang hingga kini masih berdiri di Tanah Abang.


[1] Karel A. Steenbrink. Pesantren Madrasah Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, hal. 26.

[2] Masyhur Amin, Sejarah Peradaban Islam, hal 462.

[3] Masyhur Amin, Ibid, hal. 468.

[4] Huub De Jonge & Nico Kaptein, op cit, hal. 167.

[5] Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900 – 1942, hal. 71.

[6] Patrimonial adalah perluasan kekuasaan seorang kepala keluarga dari lingkup rumah tangga sendiri. Penyebarluasan agama resmi di Negara-negara patrimonial Islam melalui pendirian masjid dan lembaga pendidikan mendapat dukungan dari kaum ulama. Karena itu walaupun ulama dapat mempertahankan identitas tertentu mereka, tapi mereka juga mempunyai ikatan erat dengan pemerintah.

[7] Http // www. Republika. co. id, Dari Hadramaut sampai Borobudur.


Kategori

%d blogger menyukai ini: