Oleh: benmashoor | 11 Agustus 2008

Sikap Kaum Muslimin Terhadap Ahlu Bait Nabi saw

Dalam alquran, Allah swt berfirman :

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu pada pandangan Allah ialah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah itu Maha Mengerti.’[1]

Ayat di atas memberitahukan bahwa nasab seseorang itu tidak dapat dijadikan dasar untuk membedakan ketinggian derajatnya di sisi Allah swt, selain tingkat ketaqwaan yang ada padanya. Sebagian orang berpendapat, bukankah sudah terang dan nyata bahwa manusia semua berdarah sama, oleh karena itu mengapa pula harus ada segolongan manusia yang dikatakan mempunyai derajat dan bernasab mulia. Jika demikian halnya maka hal itu adalah perbuatan setan yang pertama kali merasa bangga dengan penciptaannya yang berasal dari api dibandingkan penciptaan Adam yang berasal dari tanah. Semua itu bertentangan dengan ajaran Islam.

Di sinilah sebenarnya terletak pokok kekeliruan pada sebagian umat Islam karena tidak dapat memahami hakikat maksud keistimewaan dan keutamaan yang ada pada diri para ahlu bait Rasulullah saw. Memang benar, dan tidak diragukan lagi bahwa di hari akhirat kelak setiap orang bertanggungjawab di atas amal perbuatan sendiri, dan ketinggian derajatnya di sisi Allah saw adalah diukur pada tingkat ketaqwaan yang dimiliki. Namun begitu, kita harus dapat membedakan antara perbuatan atau amalan seseorang dengan zat yang dimilikinya. ‘Perbuatan’ adalah satu soal dan ‘zat’ soal yang lain. ‘Perbuatan’ sama sekali tidak dapat menghapuskan ‘zat’ yang dimiliki oleh seseorang individu, apalagi bagi seseorang yang bernasab dan bersilsilah dari keturunan Rasulullah saw sendiri. Sesungguhnya banyak ayat hadits yang telah menguraikan tentang keutamaan ahlu bait. Janganlah merasa ragu, tidak percaya dan menentang bahwa sesungguhnya ahlu bait berasal dari darah daging yang suci, yakni darah daging yang Nabi Muhammad saw.

Rasulullah saw bersabda :

ياأيهاالناس إن الفضل والشرف والمنزلة والولاية لرسول الله وذريته فلا تذ هبن الأباطيل

‘Hai manusia bahwasanya keutamaan, kemuliaan, kedudukan dan kepemimpinan ada pada Rasulullah Rasulullah dan keturunannya. Janganlah kalian diseret oleh kebatilan’[2]

Walau cacat bagaimanapun pribadi seorang keturunan Rasulullah saw, ia akan mempertanggungjawabkan di akhirat kelak, namun darah Rasulullah saw yang mengalir di tubuhya tidak dapat dikikis dan dihilangkan, karena itu merupakan ketentuan Allah swt. Keistimewaan mereka adalah berdasarkan kudrat yang dikurniakan Allah swt, bukan buatan manusia atau siapapun. Ciri-ciri khusus zat Rasulullah saw yang mengalir dalam sulbi dan darah daging diri para ahlul-bait tidak ada pada manusia lain.

هم عترتي, خلقوا من طينتي ورزقوا فهمي و علمي, فويل للمكذّبين بفضلهم من أمتي القاطعين منهم صلتي لا أنزلهم الله شفاعتي

‘… mereka itu keturunanku diciptakan (oleh Allah) dari darah dagingku dan dikaruniai pengertian serta pengetahuannku. Celakalah (neraka wail) bagi orang dari ummatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubunganku dari mereka. Kepada mereka itu Allah tidak akan menurunkan syafa’atku.’ [3]

Teramat naif pemikiran umat Islam jika mereka menyamakan Rasulullah saw dengan manusia lainnya diseluruh jagat ini! begitu juga jika kita berfikir bahwa keturunan Rasulullah saw pun sama dengan manusia lainnya.

Rasulullah saw bersabda :

نحن أهل بيت لا يقاس بنا

Kami ahlu bait tidak seorangpun yang dapat dibandingkan dengan kami.[4]

Imam Ali bin Abi Thalib dalam kitab Nahj al-Balaghoh berkata, ‘Tiada seorang pun dari umat ini dapat dibandingkan dengan keluarga Muhammad saw’. Imam Ali mengatakan bahwa tiada orang di dunia ini yang setaraf (sekufu’) dengan mereka, tiada pula orang yang dapat dianggap sama dengan mereka dalam hal kemuliaan.

Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Abbas bin Abdul Mutthalib, ketika Rasulullah ditanya tentang kemuliaan silsilah mereka, beliau menjawab :

ان الله خلق الخلق فجعلني في خيرهم من خيرهم قرنا ثم تخير القبائل فجعلني من خير قبيلة ثم تخير البيوت فجعلني من خيربيوتهم فأنا خيرهم نفسا و خيرهم بيتا

‘Allah menciptakan manusia dan telah menciptakan diriku yang berasal dari jenis kelompok manusia terbaik pada waktu yang terbaik. Kemudian Allah menciptakan kabilah-kabilah terbaik, dan menjadikan diriku dari kabilah yang terbaik. Lalu Allah menciptakan keluarga-keluarga terbaik dan menjadikan diriku dari keluarga yang paling baik. Akulah orang yang terbaik di kalangan mereka, baik dari segi pribadi maupun dari segi silsilah‘.[5]

Baihaqi, Abu Nu’aim dan Tabrani meriwayatkan dari Aisyah, Disebutkan bahwa Jibril as pernah berkata :

قال لى جبريل : قلبت مشارق الارض ومغاربها فلم أجد رجلا افضل من محمد وقلبت مشارق الارض ومغاربها فلم أجد بنى أب أفضل من بني هلشم

‘Jibril berkata kepadaku : Aku membolak balikkan bumi, antara Timur dan Barat, tetapi aku tidak menemukan seseorang yang lebih utama daripada Muhammad saw dan akupun tidak melihat keturunan yang lebih utama daripada keturunan Bani Hasyim’.[6]

Ketahuilah bahwa para ahlu bait mempunyai martabat kudrati yang berkesinambungan dari darah daging keluarga nubuwwah dengan Rasulullah saw. Martabat ahlu bait memang tidak dapat diletakkan sama tinggi dengan martabat Rasulullah saw, namun martabat ahlu bait tidak pula setaraf dengan martabat manusia yang bukan berasal dari ahlul bait. Sesungguhnya Allah swt telah mengembangbiakkan keturunan Rasulullah saw untuk melaksanakan amanah sebagai para pemimpin ummah ke jalan yang lurus, adalah sebagai keberkahan bagi umat Islam dan sarana keselamatan bagi mereka. Sabda Rasulullah saw :

النجوم أمان لآهل السماء و أهل بيتي أمان لامتي

Bintang-bintang adalah petunjuk keselamatan bagi penghuni langit, dan ahlu baitku penyelamat bagi ummatku .[7]

Walaupun ahlu bait tidak mewarisi kudrat kenabian dan kerasulan melalui keturunan mereka di kalangan keluarga nubuwwah, dan mereka kadang melanggar batas hukum syariah itu disebabkan karena mereka tidak maksum, namun hakikatnya, ini sama sekali tidak menghilangkan jatidiri dan kudrati mereka sebagai anak cucu dari keturunan suci, yaitu Rasulullah saw.

Sebagai contoh Abu Jahal dan Abu Lahab yang berasal dari Quraisy, perbuatan mereka tidak sedikitpun menghilangkan atau menghapuskan status bangsa Quraisy sebagai bangsa yang mulia.

خير الناس العرب , وخير العرب قريش , وخير قريش بنو هاشم

‘Sebaik-baiknya manusia adalah bangsa Arab, sebaik-baiknya bangsa Arab adalah Quraisy. Sebaik-baiknya Quraisy adalah Bani Hasyim’.[8]

Begitu juga bagi ahlu bait., walaupun terdapat segelintir dari mereka yang melanggar batas-batas agama, namun ini tidak sedikitpun menghilangkan atau menghapuskan zat dan kudrati mereka sebagai cucu Rasulullah saw. Apalagi sejarah membuktikan banyak dari kalangan ahlu bait yang telah tampil ke baris depan sebagai pemimpin ummah yang unggul dan berwibawa.

Walaupun para ahlil bait Rasulullah menurut dzatnya telah mempunyai keutamaan, namun Rasulullah tetap memberi dorongan kepada mereka supaya memperbesar ketaqwaan kepada Allah swt, jangan sampai mereka mengandalkan begitu saja hubungannya dengan beliau. Karena hubungan suci dan mulia itu saja tanpa disertai amal saleh tidak akan membawa mereka kepada martabat yang setinggi-tingginya di sisi Allah swt. Rasulullah saw bersabda :

من يبطىء به عمله , لا يسرع به نسبه

‘Barang siapa dilambatkan oleh amalnya, tidak dapat dipercepatkan oleh nasabnya‘.[9]

Berkaitan dengan pelanggaran batas-batas agama, para ahlu bait sama dengan umat Islam lainnya, yakni wajib melakukan taubat dan berusaha untuk tidak mengulangi lagi dosa yang dilakukan. Dalam konteks ini, perlu pemahaman bahwa tidak ada kelonggaran pada ahlu bait Rasulullah saw dalam mentaati hukum syara’.

Sesungguhnya syariat Allah swt berlaku untuk semua umat Islam dan tetap sama pada siapapun mereka, kecuali beberapa kelebihan pada Nabi dan Rasul, contohnya Rasulullah saw diizinkan Allah swt untuk menikah lebih dari empat orang isteri. Barang siapa yang tidak bertaqwa dan melanggar hukum-hukum Allah, ia pun pasti tidak luput dari balasan hukum, walau bagaimana istimewa kedudukan atau asal nasabnya. Islam tidak mengenal diskriminasi yang menggangu timbangan keadilan maupun hubungan yang dapat merubah hukum sehingga menyimpang dari kebenaran yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

Walau bagaimanapun dalam menangani masalah akhlaq buruk seorang ahlul-bait terhadap seorang umat Islam (yang tidak menyentuh soal agama), orang tersebut harus tahu dan sadar dengan siapa dia berurusan, karena dia berurusan dengan anak cucu Rasulullah saw. Walaupun menuntut hak apabila dizalimi adalah dihalalkan oleh hukum syara’, akan tetapi kita harus ingat akan zat yang dimiliki oleh ahlu bait yang membuat kezaliman yang ada dalam tubuhnya.

Muhammad Abduh Yamani mengupas persoalan ini dengan panjang lebar. Antara lain beliau menyebut: “Demi Allah, katakan kepadaku, apa yang engkau lakukan terhadap anak seseorang yang menganiayaimu atau berbuat buruk kepadamu, tetapi ayahnya mempunyai jasa yang teramat besar atas dirimu? Tidakkah engkau ingat kebaikan ayahnya terhadapmu? Tidakkah engkau menghargai jasanya kepadamu? Apakah engkau memperlakukannya seperti dia mempelakukan buruk kepadamu tanpa terlebih dahulu engkau kenali dulu siapa ayahnya dan apa jasanya kepadamu? Apakah engkau tidak mengetahui bahwa ayahnya merasa kasihan bila melihatmu sengsara atau engkau mengalami gangguan, tetapi sebaliknya ayahnya berbelas kasihan dan sayang kepadamu? Bagaimana pula jika ayah atau kakeknya lebih utama bagimu daripada dirimu sehingga ia membahayakan dirinya untuk memberi manfaat kepadamu.”

Sesungguhnya hak Rasulullah saw tidak dapat ditunaikan oleh seseorang, siapa pun dia. Dan sesungguhnya Rasulullah saw tidak meminta darimu lebih dari mencintai kerabatnya! Dengan wajah apa engkau menghadap Nabi saw ketika beliau memberi syafaat bagimu disisi Allah, meskipun balasan salah seorang cucunya, padahal beliau tidak minta apa pun darimu kecuali hanya mencintainya.

Dalam konteks ini, Allah swt berfirman :

‘Nabi itu hendaknya lebih utama bagi orang mukmin daripada diri mereka sendiri.’[10]

‘Katakanlah, Hai Muhammad : Aku tidak minta upah (imbalan) apa pun atas hal itu (dakwah risalah Islam), kecuali agar kalian mencintai keluargaku’.[11]

Muhammad Abduh seterusnya berkata: “Apabila seseorang ahlu bait berbuat buruk atau berbuat salah atau berbuat zalim kepada seseorang, maka haknya boleh diambil secara penuh dan tidak melebihkannya. Akan tetapi, yang lebih utama ialah bila ia memaafkan orang yang berbuat jahat dan memaafkan kezaliman serta kesalahan demi memuliakan Rasulullah saw, jika ia sanggup melakukan itu, demi mengamalkan wasiatnya tentang ahlu baitnya’.

Perlu mendapat perhatian bahwa walaupun umat Islam dianjurkankan memaafkan kesalahan seseorang ahlu bait yang berbentuk pribadi itu, atau apa yang disebut ‘hablun-minan-nas’, yaitu hubungan sesama manusia, namun kesalahannya dalam melanggar perintah Allah swt tetap perlu diadili dan diberi hukuman yang setimpal berdasarkan ketetapan agama Islam, umpamanya berzina, mencuri, minum arak, menyebarkan faham sesat dan sebagainya. Dalam lain perkataan, tidak ada satupun orang yang mendapat pengecualian dalam hal perlaksanaan syariat Islam, dan dalam konteks ‘hablun-minallah’, yaitu hubungan dengan Allah swt, maka pelanggaran yang dilakukan melampaui batasan syariat merupakan pengkhianatan hamba kepada Tuhannya, berbeda dengan perlakuan pribadi buruk sesama manusia. Maka terserah hak umat Islam untuk memilih apakah dia mau memaafkan kesalahan tersebut ataupun tidak.

Semoga Allah SWT memberi kita taufik dan hidayah-Nya untuk memegang wasiat dan amanat Rasulullah saw tentang ahlubaitnya. Dan semoga Allah SWT ridho dan memuliakan kita atas perlakuan kita yang berada dalam batasan syariat kepada para ahlu bait Rasulullah saw itu.


[1] Al-Hujurat : 13.

[2] Yanabi’ al-Mawaddah (2/131)

[3] Kanzu al-Ummal (12/98)

[4] Yanabi’ al-Mawaddah (2/17)

[5] Al-Syaraf al-Muabbad Li Aali Muhammad : 79

[6] Al-Masyra’ al-Rawi (1/30)

[7] Ihya al-Mait : 37

[8] Al-Masyra’ al-Rawi (1/30)

[9] Istijlab Irtiqa’ al-Ghuruf : 54

[10] Al-Ahzab : 16.

[11] Al-Syura : 23.


Kategori

%d blogger menyukai ini: