Oleh: benmashoor | 11 Agustus 2008

Manhaj Salaf dalam mensikapi Ahlu Bait Nabi saw

Manhaj salaf dalam mensikapi ahlu bait adalah manhaj yang adil dan benar karena mereka mempunyai wasath (pertengahan) yang tidak dimiliki oleh yang lain. Demikian juga karena mereka berpegang erat dengan dua wahyu yang mulia, Alqur’an dan Sunnah dalam segala permasalahan agama. Kemudian di dalam memahami dua wahyu ini mereka kembali kepada pemahaman orang-orang yang telah diakui kebaikan dan keutamaannya dengan nash-nash Alqur’an dan Sunnah yaitu as-salaf as-shalih dari kalangan para shahabat, tabi’in dan para a’immatul huda radliallahu ‘anhum ajmain.

Khalifah Abubakar Ash-Shiddiq.

أنّ أبا رضي الله عنه قال لعليٍّ رضي الله عنه : والذي نفسي بيده لقرابة رسول الله احب اليَّ ان أصل من قرابتي .

Abubakar Ash-Shiddiq berkata kepada Imam Ali bin Abi Thalib, ‘Demi diriku yang berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya kerabat Rasulullah saw lebih aku cintai daripada kerabatku sendiri’.[1]

عن ابن عمر عن ابو بكر رضي الله عنه : ارقبوا محمدا في اهل بيته

Dari Ibnu Umar, Abubakar Ash-Shiddiq berkata, ‘Jagalah (wasiat) Muhammad mengenai ahlu baitnya’.[2]

Ibnu Allan mengatakan bahwa Imam Nawawi penulis kitab Riyadh al-Sholihin mengartikan kata ‘jagalah’ dengan makna : ‘peliharalah, hormatilah dan muliakanlah’.

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalah syarahnya berkata, ‘perkataan jagalah mempunyai makna memeliharanya. Dia berkata : peliharalah mereka, janganlah kalian menyakitinya.

Dari Uqbah bin Harits diriwayatkan bahwa setelah Abubakar sholat Ashar kemudian beliau keluar dan melihat Imam Hasan sedang bermain dengan seorang anak lainnya, maka Abubakar mengangkatnya dan mendudukkannya di atas lehernya serta berkata : ‘Wahai yang wajahnya lebih mirip kepada Nabi saw dan tidak mirip kepada Ali’. Mendengar perkataan Abubakar, Alipun tertawa.

Khalifah Umar bin Khottob.

Dari Anas diriwayatkan bahwa Umar bin Khottob di saat musim kering karena lama tidak turun hujan beliau bertawassul dengan paman Nabi saw Abbas bin Abdul Muthalib. Umar bin Khottob berkata :

اللهمّ إنّا كنّا نتوسل إليك بنبينا فتسقينا , وإنّا نتوسل إليك بعم نبينا فاسقنا. قال : فيسقون .

‘Ya Allah, sesungguhnya kami bertawasul kepada-Mu dengan kebenaran melalui nabi kami, maka berilah kami hujan. Dan kami bertawasul kepada-Mu melalui (doa) paman nabi kami, berilah kami hujan. Berkata Umar bin Khottob : maka hujanpun turun’.[3]

Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Fathimah binti Ali bin Abi Thalib :

يا ابنة علي ! والله ما على ظهر الأرض أهل بيت أحب اليَّ منكم , ولأنتم أحب اليَّ من اهل بيتي .

‘Wahai anak perempuan Ali ! Demi Allah tidak ada di muka bumi ini yang lebih aku cintai di antara ahlu bait kecuali kalian, dan di antara ahlu bait engkaulah yang paling aku cintai’.[4]

Imam Abul Qasim Al-Ashbahani di dalam kitab beliau al-Hujjah fi Bayan al-Mahajjah mengatakan: “Dan termasuk sunnah rasul adalah cinta kepada Ahlu Bait Nabi saw. Mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firmannya :

“…Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu suatu apapun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam keluargaku.”

Syaikh Abdul Aziz Muhammad al-Salman menjelaskan: “Kewajiban kita kepada Ahlul Bait adalah mencintai mereka, ber-wala’ kepada mereka, menghormati dan memuliakan mereka karena Allah. Kita berbuat demikian karena mereka adalah sanak kerabat Rasulullah saw, karena keIslaman mereka dan karena mereka telah mendahului kita dalam menolong dan membela agama Allah. Kalau kita mencintai, menghormati dan memuliakan mereka berarti kita mencintai, menghormati dan memuliakan Nabi saw…”

Tarjamul Qur’an Hibrul Ummah Abdullah bin ‘Abbas menjelaskan: “Kita tidak boleh mengingkari orang-orang yang mewasiatkan dan memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada Ahlul Bait, menghormati dan memuliakan mereka, karena mereka adalah keturunan suci dari rumah tangga paling mulia yang dijumpai di muka bumi ini, baik dari segi nasab maupun darah keturunannya.

Perhatikanlah apa yang diucapkan oleh Sufyan Ats-Tsauri ketika dia memberi wasiat kepada ‘Ali bin Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, dia mengatakan :

“Wahai saudaraku, berusahalah kamu dengan usaha yang thayyib (halal) dengan tanganmu sendiri dan jangan sekali-kali kamu memakan kotoran-kotoran manusia (menurut Syaikh Salim Al-Hilali, yang dimaksud kotoran disini adalah shadaqah), karena orang yang makan kotoran-kotoran manusia, dia akan berbicara dengan hawa nafsunya dan akan tunduk merendah di hadapan orang karena dia khawatir mereka akan menahan shadaqah mereka untuknya.

Wahai saudaraku kalau engkau memakan shadaqah manusia, kamu akan memutuskan lisanmu (yakni tidak bisa mengatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil) dan engkau akan memuliakan sebagian orang (yang memberimu shadaqah) serta menghinakan yang lainnya (yang tidak memberimu shadaqah), karena orang yang memberikan sebagian hartanya kepadamu (sebagai shadaqah) itu berarti dia memberikan wasakh (kotorannya) kepadamu. Maksud wasakh disini adalah bahwa harta yang dishadaqahkannya sebagai pembersih amalnya dari dosa.”

Kalau engkau makan dari hasil pemberian orang maka engkau akan cenderung menerima ajakannya bila dia mengajak kepada kemungkaran. Wahai saudaraku! Kelaparan dan sedikit ibadah lebih baik daripada engkau kenyang dari hasil pemberian orang dan engkau banyak beribadah dengan mengharap pemberian orang. Kakek kamu Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan : “Orang yang hidup dari hasil minta-minta kepada orang bagaikan orang yang menanam pohon di tanah orang lain.”

Wahai saudaraku! Takutlah kepada Allah. Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang hidup dari hasil pemberian orang melainkan dia akan menjadi orang yang hina di hadapan manusia. Jangan sekali-kali engkau berusaha dengan usaha yang jelek (haram) kemudian kamu infaqkan untuk taat kepada Allah, karena meninggalkan usaha seperti itu adalah wajib dan Allah itu thayyib dan tidak mau menerima sesuatu kecuali thayyib…”[5]

Imam Malik.

Abu al-Walid al-Baji mengatakan bahwa ketika al-Mansur pergi haji ia memberi peluang kepada Imam Malik untuk menuntut balas kepada Ja’far bin Sulaiman, al-mansur mendatangkan Ja’far kepada Imam Malik agar ia menuntut balas kepadanya. Imam Malik berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah, demi Allah tidak ada satu cambukan pun di tubuhku kecuali langsung aku halalkan baginya waktu itu juga. Hal itu tidak lain adalah karena kekerabatannya dengan Rasulullah saw.

Al-Farowi berkata ,’Ketika Malik dipukul dan ia mendapat akibat buruk pukulan itu, maka ia digotong dalam keadaan pingsan, lalu orang-orang menjenguknya kemudian ia pun sadar dan berkata : ‘Aku persaksikan kepada kalian semua bahwa aku telah menghalalkan kepada orang yang memukulku’.

Al-Farowi berkata,’Pada hari kedua kami menjenguknya, maka kami dapati ia sudah hampir sembuh, lalu kami berkata kepadanya tentang apa yang telah kami dengan darinya dan kami juga berkata kepadanya : Ia telah berbuat buruk kepadamu. Maka Malikpun menjawab : Aku khawatir bila kemarin aku terus meninggal, lalu aku bertemu Nabi saw maka aku akan malu kepada beliau saw karena salah seorang kerabatnya akan masuk neraka hanya gara-gara diriku’.

Imam Hanafi.

Abu Hanifah hidup di masa kejayaan Bani Umayah dan masa kejatuhannya. Dia hidup dalam masa pertumbuhan cita-cita Abbasiyah yang mula-mula tumbuh secara rahasia di tengah-tengah pengawasan ketat mata-mata Bani Umayah. Abu Hanifah memihak kepada keturunan Ali. Di kala Zaid bin Ali berontak terjadap Hisyam pada tahun 121 hijriyah, Abu Hanifah berkata , ‘Tindakan Zaid ini sama dengan tindakan Rasulullah dalam peperangan Badar’.

Abu Hanifah menghadapi masa bani Abbas dengan penuh kegembiraan. Ia sangat simpati terhadap pemerintahan Bani Abbas, karena pemerintahan ini dibangun berdasar kepada wasiat salah seorang cucu Ali bin Abi Thalib. Abu Hanifah mencintai Ahlu Bait. Hal ini berjalan terus hingga terjadi persengketaan antara khalifah-khalifah bani Abbas dengan keturunan Ali. Abu Hanifah memihak kepada Muhammad an Nafsu az-Zakiyah yang memberontak terhadap al-Mansur. Begitu juga ia memihak kepada Ibrahim saudara Muhammad. Abu Hanifah mengkritik khalifah Abbasiyah terhadap tindakan-tindakan mereka kepada keturunan Ali.

Abu Hanifah mengkritik keras keputusan-keputusan hakim dan fatwa-fatwa ulama pemerintah. Karena itu Abu Hanifah dipenjara dan dicambuk. Akhirnya Abu Hanifah wafat sebagai akibat dari penderitaan-penderitaannya dalam tahanan rumah karena membela keturunan Ali.

Imam Syafii.

Kecintaan Imam Syafii kepada Ahlu bait telah dikenal orang. Ia mabuk di dalam kecintaan kepada keluarga Nabi saw, hal ini dibuktikan dengan beberapa gubahan syairnya :

Kalau kulihat manusia,

Madzhab mereka tenggelam dalam samudera kesesatan dan kebodohan

Dengan nama Allah, aku naiki perahu keselamatan Yakni keluarga al-Mustafa, penutup para rasul

Kupegang tali Allah tempat bergantung mereka

Sebagaimana kitapun diperintah berpegang pada tali itu Hai Keluarga Rasulullah

Kecintaan kepadamu diwajibkan Allah

Dalam alquran yang diturunkan

Cukuplah bukti ketinggian sebutanmu

Tidak sempurna shalat tanpa shalawat bagimu.

Berbagai celaan ditujukan kepada Imam Syafii karena kecintaannya kepada keluarga Nabi saw. Akan tetapi celaan-celaan tersebut tidak mengurangi kecintaan Imam Syafii kepada ahlu bait. Suatu hari ia mengemukakan masalah agama. Seseorang berkata, ‘Engkau bertentangan dengan Ali bin Abi Thalib’. Imam Syafii berkata : ‘Buktikan ucapanmu dari Ali bin Abi Thalib, supaya aku ratakan pipiku di atas tanah dan aku berkata aku telah salah’. Begitu cintanya Imam Syafii kepada Ali bin Abi Thalib, sehingga ia tidak mau berbicara di dalam suatu majelis yang di situ ada keturunan Ali bin Abi Thalib.

Imam Ahmad bin Hanbal.

Mengenai kecintaan Imam Ahmad bin Hanbal cukup disebut bahwa musnadnya penuh dengan uraian-uraian mengenai keutamaan Ali bin Abi Thalib. Beliau juga mengarang suatu kitab besar mengenai keutamaan ahlu bait.

Pada suatu kali, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menanyai ayahnya, ‘Bagaimana pendapat ayah tentang tafdhil (urutan keutamaan) sahabat ?. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : ‘Dalam khalifah Abubakar, Umar, Usman’. Lalu bagaimana dengan Ali ? tanya Abdullah. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab : ‘Wahai anakku, Ali bin Abi Thalib termasuk ahlu bait dan tidak satu orangpun yang dapat dibandingkan dengan mereka!’.

Di lain kesempatan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal meriwayatkan kisah yang dilihatnya mengenai sikap hormat dan kecintaan Imam Ahmad bin Hanbal kepada keluarga Nabi saw. Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hanbal , ‘Aku melihat ayahku jika datang kepadanya orang tua dan anak muda dari kalangan bangsa quraisy atau siapa saja dari kalangan syarif ahlu bait, ia tidak akan keluar dari pintu masjid mendahului mereka kecuali para syarif tersebut keluar terlebih dahulu dan ayahku mengikutinya keluar dari belakang setelah mereka.[6]


[1] Shahih Bukhari : 3712

[2] Shahih Bukhari : 7313

[3] Shahih Bukhari : 3710

[4] Fadhlu Ahli al-Bait : 20

[5] Al-Hilyah, Jilid 7 hal. 71-72.

[6] Istijlab Irtiqa’ al-Ghuruf : 34


Kategori

%d blogger menyukai ini: