Oleh: benmashoor | 8 Agustus 2008

Semangat PAN-Islamisme Arab Sayyid

Pengaruh gerakan pembaharuan abad ke-19 terhadap kebangkitan dunia Islam amat besar sekali. Seperti yang dikemukakan oleh beberapa penulis Barat, kebangkitan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika tidak bisa dilepaskan dari ide-ide solidaritas umat Islam sedunia atau Pan Islamisme yang dicanangkan oleh Jamaluddin al-Afgani. Sedangkan kebangkitan dalam bidang pendidikan lebih diwarnai oleh gagasan Muhammad Abduh untuk merombak system pendidikan, baik metode dan kurikulumnya yang memasukkan pengetahuan umum di samping pengetahuan agama.

Di Indonesia pengaruh gerakan Pan-Islamisme terhadap masyarakat Arab Hadramaut mendapat respon yang sangat baik, ditandai dengan banyaknya masyarakat Arab yang mengikuti seruan tersebut. Mereka percaya gerakan ini akan menyamakan derajat orang Arab dengan Eropa sebagaimana yang dijanjikan oleh utusan dari pemerintahan Turki saat itu. Derasnya informasi tentang gerakan Pan Islam dalam berbagai surat kabar berbahasa Arab seperti Ma’lumat dan al-Muayyad membuat masyarakat Arab sadar akan situasi dan keadaan yang terjadi di sekelilingnya. Belum lagi proses asimilasi keturunan Arab dengan masyarakat pribumi dan perlawanan pejuang dari masyarakat Arab di berbagai daerah, semuanya memaksa Belanda untuk menerapkan peraturan yang membatasi ruang lingkup kegiatan masyarakat Arab di Nusantara.

Di antara peraturan yang diterapkan adalah Belanda melarang imigrasi masyarakat Arab dari Hadramaut. Menurut Belanda, Arab Hadramaut baru berbahaya bagi pemerintahannya kalau mereka sudah berada di Indonesia. Belanda sangat mempersulit imigrasi mereka ke Nusantara dengan berbagai peraturan yang menyulitkan imigrasi, misalnya untuk mendapat tiket kapal ke Indonesia, dan setelah sampai di Indonesia, untuk turun dari kapal dan setelah mereka sampai di tempat tujuan, sangat sulit bagi mereka untuk mendapatkan izin menetap. Mereka hanya dapat berdiam di kota tertentu dan hanya boleh bertempat tinggal di bagian tertentu dari kota itu. Untuk bepergian, mereka harus meminta izin (pas), tidak saja dari satu kota ke kota yang lain, tetapi sering kali juga dari satu bagian kota ke bagian kota yang lain. Untuk mengatasi segala kesulitan ini, tidak jarang mereka diperlakukan dengan cara kasar dan dihina oleh pejabat pemerintah Belanda di masa itu.[1]

Said Bagazi bepergian dengan trem dari Betawi ke Meester Cornelis (Jatinegara), tetapi di sana, tanpa turun dari trem, dipaksa kembali ke Betawi. Ia disuruh membayar f 25 karena ia tidak mempunyai surat jalan untuk perjalanan yang lamanya setengah jam. Seorang Arab dari golongan Balweel dipukuli oleh dua orang Belanda. Dilaporkannya hal itu kepada pengadilan, tetapi tanpa persidangan ketiga orang itu dipanggil, dan mereka berjanji kepeda Balweel, bahwa mereka tidak akan berbuat begitu lagi. Begitu pula pemerintah tidak mau memberi keadilan kepada Syekh Muhammad Ali Makarim, yang dihormati di mana-mana, ketika pribadi ini dibanting oleh seorang Belanda sedemikian rupa, sehingga beliau pingsan. Karena sia-sia mencari balasan keadilan atas hal ini, beliau meninggalkan negeri ini. Di Bandung, kepala daerah di sana telah menghukum seorang Arab bernama Ja’far bin Sanad, karena ia telah melanggar peraturan surat jalan, dengan didera dua puluh kali dan dihukum delapan hari kurungan.

Seorang ulama Hadramaut, sayid Alwi bin Abdurrahman al-Masyhur pada tahun 1897 datang ke Singapura. Lalu timbul keinginannya untuk pergi ke Betawi, dan diminta surat perjalanan kepada konsul Belanda di Singapura. Permintaan itu dikabulkan. Tetapi beberapa hari kemudian pemerintah Belanda menulis surat kepada konsul dan menegurnya, karena ia memberikan surat jalan kepada orang yang terkenal sebagai ulama, dan memerintahkannnya agar mencabut surat itu.

Berdasarkan kejadian-kejadian yang dialami, timbul ketidakpuasan di kalangan masyarakat Arab yang bermukim atau sementara tinggal di negeri ini. Mereka meminta kepada pemerintah Belanda untuk menghapuskan tiga hal yaitu pembatasan izin menetap atau tinggal sementara bagi orang Arab pada beberapa tempat, kewajiban melengkapi diri dengan surat jalan untuk setiap perjalanan dan sering kali sebagai orang Timur Asing, masyarakat Arab tunduk kepada pengadilan polisi, yang sering tidak dapat dikatakan bebas dari kesewenang-wenangan.

Sejak datangnya konsul Turki di Betawi tahun 1898, di kalangan orang Arab segera timbul harapan besar terhadap kebebasan bergerak yang lebih besar bagi mereka. Konsul Turki Kiamil Bey berjanji bahwa ia tidak akan beristirahat sebelum orang Arab di negeri ini secara hokum disamakan sama sekali dengan orang Eropa. Gerakan Pan Islam semakin bertambah pengaruhnya dengan bantuan masyarakat Arab, sehingga pemerintah Belanda merasa gerakan itu akan membahayakan pemerintahannya.

Selanjutnya pada awal tahun 1900, peraturan pembatasan izin menetap dan kewajiban melengkapi diri dengan surat jalan (wijken en passen stelsel) dihapus, masyarakat Arab terus menumpukkan harapannya pada pemerintahan Turki. Agitasi Pan Islam yang sejak bertahun-tahun telah nampak di mana-mana, mendapat respon yang luar biasa kuatnya di negeri ini. Banyak masyarakat Arab terkemuka di Betawi yang mengirimkan anak-anaknya belajar ke Turki.

Tidak ada diantara bangsa Arab yang menetang Pan Islamisme, meskipun sebagian di antara mereka tidak banyak melihat untungnya. Para pengajur yang kuat dari Pan Islamisme adalah beberapa orang terpandang di dalam kelompok sayyid Hadramaut di betawi seperti Ali bin Ahmad Syahab tuan tanah di Menteng, Abdul Kadir Alaydrus, Sahl bin Sahl, tuan tanah Abdullah bin Alwi Alatas, Muhammad bin Abdurrahman Sulaibiyah Alaydrus.[2]

Disamping kuatnya pengaruh Pan Islamisme yang dipelopori oleh Jamaluddin al-Afgani, masyarakat Arab terkemuka dari golongan sayid merespon pula pembaharuan pendidikan yang dipelopori oleh Muhammad Abduh, dengan mendirikan lembaga pendidikan yang didahului oleh suatu yayasan yang bergerak dalam bidang social dengan nama Jamiat Kheir. Perkumpulan Jamiat Kheir didirikan di Batavia pada tahun 1901 sebagai organisasi yang membawa semangat tolong menolong, Jamiat Kheir dibentuk dengan tujuan utama mendirikan satu model sekolah modern untuk para pemuda Arab. Perkembangan organisasi Cina, Tiong Hwa Hwee Koan pada tahun 1900 menjadi factor pendorong dan inspirasi sangat penting bagi pendirian Jamiat kheir.[3] Ketika mereka meminta status sebagai sekolah Eropa di tolak pada tahun 1899, sebab itu mereka menolak hak-hak istimewa tersebut. Orang-orang Cina mempunyai sekolah modern sendiri. Di satu sisi, kejadian tersebut memotivasi orang-orang Arab untuk membangun suatu sekolah yang langsung membantu komunitas mereka.

Sebagian besar pendiri Jamiat Kheir dan beberapa orang dari masyarakat Arab mempunyai inspirasi dan pandangan yang sama yaitu berorientasi ke Istanbul pada dekade terakhir abad ke 19, termasuk orang-orang bisnis terkemuka maupun pemilik perumahan di Batavia ini, yang terkenal sebagai cendikiawan Islam dan berkeinginan untuk memperkenalkan pendidikan modern bagi para pemuda Arab.

Pada tahun 1910, masyarakat Arab di Jawa telah memimpikan suatu komunitas yang anggotanya tersebar ke seluruh Indonesia. Indikasi dari komunitas masyarakat ini diketahui melalui pengumuman yang diterbitkan oleh orang-orang Arab melalui surat kabar Oetoesan Hindia sepanjang perayaan Lebaran. Ucapan selamat lebaran dari tokoh terkemuka masyarakat Arab di berbagai tempat nampak diarahkan kepada sebagian besar masyarakat Arab lainnya dalam bahasa Arab. Pengumuman, iklan, dan perhatian terhadap berita-berita mengenai masyarakat Arab adalah indikator yang penting dari identitas budaya yang muncul dari masyarakat tersebut.

Selama perang dunia pertama, Otoesan Hindia yang berbahasa Arab dan Melayu berturut-turut menyuguhkan berita tentang peristiwa perang yang terjadi di Eropa yang ditulis oleh Muhammad bin Aqil dari Surabaya, seorang yang pro-Ottoman Turki. Secara rinci beliau menunjukkan peta lokasi pertempuran di berbagai ibukota Negara di Eropa dan informasi gerakan-gerakan yang menentang keluarga kerajaan. Hasil yang didapat dari penjualan peta ini dikontribusikan untuk mendukung Ottoman Turki dan masalah-masalah keislaman. Di samping menandakan luasnya jangkauan peredaran surat kabar Otoesan Hindia, hal ini menunjukkan adanya suatu jaringan dari masyarakat Arab yang bersimpati dan direalisasikan dalam membantu perjuangan Ottoman Turki. Di antara tokoh masyarakat Arab yang pro-Ottoman Turki ialah[4] :

Surabaya : Setija Oesaha, Muhammad bin Saleh bin Aqil

Batavia : Muhammad bin Abdurrahman Syahab

Tegal : Muhammad bin Ali Alhiyyed

Pekalongan : Muhammad bin Salim Alatas

Solo : Ahmad bin Abdullah Assegaf

Banyuwangi : Abdullah bin Umar alhaddar

Bondowoso : Hasan bin Hafid

Situbondo : Umar Hamdun

Pasuruan : Hadi bin Ali Alhamid

Makasar : Ali bin Abdurrahman Syahab

Banjarmasin     : Abdullah bin Muhammad almusawa

Ambon : Ahmad Chalib.

Di samping tantangan perubahan dalam bidang pendidikan, semakin lemahnya pengaruh pemerintahan Ottoman Turki mempengaruhi identitas Arab, terutama di tahun setelah perang dunia pertama. Banyaknya penentangan dari kelompok nasional dan pembaharu dalam bidang agama di negeri-negeri yang menggunakan bahasa Arab, maka berubahlah orientasi politik keagamaan masyarakat Arab di Jawa. Koloni Eropa yang menguasai negeri-negeri muslim termasuk Turki mempercepat pergantian sistem pemerintahan di Turki menjadi pemerintahan yang menekankan kepada faham nasionalis dan menjadi lawan paham Pan Islamisme.

Situasi tersebut semakin membingungkan masyarakat Arab di Jawa. Mereka dihadapkan dengan kesetiaan untuk berpihak kepada pemerintahan Turki atau kepada Syarif Husain, pemimpin politis dan rohani di Makkah, yang memberontak melawan pemerintahan Istanbul dan menganggap dirinya adalah khalifah pada tahun 1916. Masyarakat Arab di Jawa selalu setia mengikuti perkembangan yang terjadi di negeri Ottoman, terutama sekali ketika peperangan telah dimulai. Surat kabar Bendera Bulan Bintang beredar pada setiap hari Jum’at untuk mendukung perjuangan Istanbul dan Islam. Masyarakat dibuat menjadi sadar, sebagian besar masyarakat Arab telah menyatukan dukungan mereka kepada pemerintah Ottoman selama peperangan, di samping itu mereka membentuk organisasi untuk mengumpulkan dukungan moral dan keuangan untuk Istambul.

Pertemuan untuk mendirikan surat kabar al-Hilal al-Ahmar yang pro Ottoman Istambul dan masalah-masalah keislaman dilaksanakan pada tahun 1912 di kantor Jamiat Kheir Pekojan Betawi. Sayid Hasan Bin Semith, pengusaha kelahiran Madura, mengumpulkan dana untuk pemerintah Ottoman Istambul selama perang dunia pertama. Hal itu dilakukan karena kapasitasnya sebagai bendahara al-Hilal al-Ahmar, usahanya tersebut berakhir dikarenakan surat kabar yang terbit melanggar sikap netral pemerintah Hindia Belanda dalam perang dunia pertama. Begitu pula, anggota terkemuka Jamiat kheir seperti sayid Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab yang mempunyai jaringan luas di Jawa memberikan bantuannya untuk Ottoman Istambul dan masalah-masalah keislaman. Sebagai contoh pada 1912, ia dan Sayid Muhammad bin Aqil mengumpulkan beberapa ribu perangko di Batavia dan Singapura atas nama mujahidin Libya yang telah mengangkat senjata melawan penjajah Italia.

Tujuan Jamiat Kheir jauh dari politis, tetapi pribadi-pribadi yang berada di dalamnya tetap mengadakan pertemuan-pertemuan dengan masyarakat pribumi untuk menentang penjajahan dan para pemimpin mereka tetap menjalin kerjasama dengan negara-negara yang membawa panji Pan Islamisme. Karena anggota dan simpatisanya, lambat laun aktivitas Jamiat Kheir tidak hanya bergerak di bidang pendidikan, bahkan meluas kepada kegiatan politik.


[1] Hamid Al-Qadri, Islam Dan Keturunan Arab Dalam Pemberontakan Melawan Belanda, hal. 143.

[2] Hamid Al-Qadri, Ibid, hal. 149.

[3] Natalie Mobini-Kesheh, The Hadrami Awakening Community and Identity in the Netherlands East Indies 1900 – 1942, hal. 36.

[4] Huub De Jonge & Nico Kaptein, Transcending Borders Arbas, Politics, Trade and Islam in Southeast Asia, hal. 176.


Kategori

%d blogger menyukai ini: