Oleh: benmashoor | 8 Agustus 2008

Kekhususan ahlu bait Nabi saw

1. Ahlu bait diharamkan menerima sedekah.

a. Rasulullah saw bersabda :

ان الصدقة لا تنبغي لأل محمد, إنما هي أوساح الناس

Sesungguhnya sedekah tidak pantas (tidak halal) bagi keluarga Muhammad, karena sedekah itu adalah daki (kotoran) manusia.

b. Rasulullah saw bersabda :

وانها لا تحل لمحمد ولا لأل محمد

Sesungguhnya (sedekah) itu tidak halal bagi Nabi Muhammad dan bagi Keluarga Muhammad saw.[1]

a. Rasulullah saw bersabda :

كخ كخ , ليطرحها , اما شعرت انّا لا نأ كل الصدقة

Hai Hai ! (maksudnya agar dibuang). Apakah kamu belum tahu, bahwa kita (keluarga Muhammad) tidak boleh memakan hasil dari zakat.[2]

2. Ahlu bait mempunyai nasab dan asal usul yang mulia.

a. Rasulullah saw bersabda :

ان الله اصطفى كنانة من بنى اسماعيل واصطفى كنانة قريشا واصطفى قريش

بنى هاشم واصطفنى من بن هاشم

Sesungguhnya Allah swt telah memilih Kinanah dari anak-anak Ismail dan memilih Quraisy dari Kinanah dan memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan memilih aku dari Bani Hasyim.[3]

b. Baihaqi, Abu Nu’aim dan Tabrani meriwayatkan dari Aisyah, Disebutkan bahwa Jibril as berkata :

قلبت مشارق الأرض و مغاربها فلم أجد رجلا افضل من محمد , وقلبت مشارق

الأرض و مغاربها فلم أجد بنى أب افضل من بنى هاشم

Aku membolak balikkan bumi, antara Timur dan Barat, tetapi aku tidak menemukan seseorang yang lebih utama daripada Muhammad saw dan akupun tidak melihat keturunan yang lebih utama daripada keturunan Bani Hasyim.[4]

c. Dari Jabir bin Abdillah al-Anshari berkata : Ketika kami dan Ali sedang berada di Arafah bersama Rasulullah saw, beliau memanggil Ali : Wahai Ali mendekatlah dan letakkanlah telapak tanganmu di atas telapak tanganku, setelah itu Rasulullah bersabda :

يَا عَلِي, خلقت أنَا وَ أَنْتَ مِنْ شَجَرَةٍ أنَا أصَلُهَا وَأنْتَ فَرْعُهَا وَالحَسَن وَالحُسَين أَغْصَانهَا,

فَمَنْ تَعَلّق بِغُصْنٍ مِنْ أَغْصَانِهَا أَدْخَلَهُ الجَنَّةَ .

Wahai Ali, Aku dan engkau diciptakan dari satu pohon, Saya pangkalnya dan engkau cabangnya, al-Hasan dan al-Husein rantingnya. Maka siapa yang bergantung dengan ranting dari ranting-ranting pohon itu, pasti masuk surga.

3. Nasab ahlu bait tidak terputus di akhirat.

a. Rasulullah saw bersabda :

كلّ سبب و نسب وصهر ينقطع يوم القيامة الا سببي و نسبي وصهري

Semua hubungan asal-usul, nasab dan shihr (kerabat sebab hubungan perkawinan) akan terputus pada hari kiamat kecuali asal-usul, nasab dan shihr-ku.[5]

b. Thabrani meriwayatkan hadits dari Siti Fathimah ra, bahwasanya Rasulullah menegaskan :

كل ابن انثى ينتمون الى عصبتهم ال ولد فاطمة فإني انا وليهم وانا عصبتهم وابوهم

Semua anak yang dilahirkan oleh ibunya bernasab kepada ayah mereka kecuali Fathimah , akulah wali mereka, akulah nasab mereka dan akulah ayah mereka..

b. Dari Jabir ra, diketengahkan oleh Al-Hakim di dalam ‘Mustadrak’ dan oleh Abu Ya’la di dalam Musnadnya ; bahwasanya Siti Fathimah ra meriwayatkan ayahandanya saw berkata :

لكلّ بني ادم عصبة الاّ ابني فاطمة , انا وليّهما وعصبتهما

Semua anak Adam dilahirkan oleh seorang ibu termasuk di dalam suatu Usbah – yakni kelompok dari satu keturunan – kecuali dua orang putera Fathimah. Akulah wali dan ‘usbah mereka berdua.

4. Hanya ahlu bait yang mendapat gelar ‘Syarif’.

Istilah syarif yang khusus ditujukan untuk mereka. Jalaluddin al-Suyuthi di dalam kitabnya Risalah al-Zainabiyah mengatakan bahwa pada abad permulaan kata syarif itu ditujukan kepada siapa saja yang termasuk ahlu bait, baik ia dari keturunan Hasan, Husein atau Alawi dari keturunan Muhammad al-Hanafiyah, Ja’far, Aqil maupun Abbas. Oleh karena itulah dalam kitab sejarah karya al-Hafidz al-Dzahabi penuh dengan kalimat-kalimat tersebut, seperti syarif Abbas, Syarif Aqili, syarif Ja’fari, syarif Zainabi. Namun tatkala pemerintahan di Mesir dipegang oleh golongan Fathimiyah, maka kata syarif khusus diperuntukan bagi keturunan Hasan dan Husein saja.

5. Ahlu bait memiliki lembaga yang menjaga kesahihan nasab.

Menurut syekh Ismail Yusuf al-Nabhani dalam kitabnya ‘Al-Saraf al-Muabbad Li Aali Muhammad’ berkata, ‘Salah satu amalan yang khusus yang dikerjakan oleh keluarga Rasulullah, adanya naqib yang dipilih di antara mereka’. Naqib dibagi menjadi dua, yaitu :

Naqib Umum ( al-Naqib al-Am ), dengan tugas :

a. Menyelesaikan pertikaian yang terjadi di antara keluarga

b. Menjadi ayah bagi anak-anak dari keluarga yatim

c. Menentukan dan menjatuhkan hukuman kepada mereka yang telah membuat suatu kesalahan atau menyimpang dari hukum agama.

d. Mencarikan jodoh dan menikahkan perempuan yang tidak punya wali.

Naqib khusus (al-Naqib al-khos), dengan tugas :

a. Menjaga silsilah keturunan suatu kaum

b. Mengetahui dan memberi legitimasi terhadap nasab seseorang.

c. Mencatat nama-nama anak yang baru lahir dan yang meninggal.

d. Memberikan pendidikan akhlaq kepada kaumnya.

e. Menanamkan rasa cinta kepada agama dan melarang untuk berbuat yang tidak baik.

f. Menjaga keluarga dari perbuatan yang dilarang oleh ajaran agama.

g. Menjaga keluarga bergaul kepada mereka yang mempunyai akhlaq rendah demi kemuliaan diri dan keluarganya.

h. Mengajarkan dan mengarahkan keluarga tentang kebersihan hati

i. Menjaga orang yang lemah dan tidak menzaliminya.

j. Menahan perempuan-perempuan mereka menikah kepada lelaki yang tidak sekufu’.

k. Menjaga harta yang telah diwakafkan dan membagi hasilnya berdasarkan ketentuan yang berlaku.

l. Bertindak tegas dan adil kepada siapa saja yang berbuat kesalahan.[6]

6. Kesalahan ahlu bait diampuni oleh Allah swt.

a. Allah swt berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 33, yang berbunyi : Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kotoran (rijs) dari kalian hai ahla al-bait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya.

Dalam bukunya al-Futuhat al-Makiyah bab ke 29, Ibnu Arabi membicarakan keagungan Nabi Muhammad saw dan ia memberikan pendapat bahwa beliau saw dan keluarganya telah disucikan sesuci-sucinya dan telah dibersihkan dari al-rijs, yaitu semua perkara yang dapat mencemarkan kemuliaan mereka.

Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir al-Thabari, dalam buku tafsir al-Thabari mengatakan bahwa sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan al-suuk (kejelekan) dan al-fahsya (kekejian) dari mereka dan mensucikan mereka sesuci-sucinya dari kotoran yang timbul akibat maksiat.

Dalam kitabnya al-Shawaiq al-Muhriqah, Ibnu Hajar al-Haitsami menjelaskan bahwa ayat itu adalah sumber keutamaan keluarga Nabi saw, sebab ia memuat beberapa keindahan, keutamaan mereka dan perhatian Allah swt atas mereka. Ayat tersebut diawali dengan kata إنَّمَا (hanya) yang berfungsi sebagai pembatas kehendak Allah untuk menghilangkan al-rijs (yang berarti dosa atau ragu terhadap apa yang seharusnya diyakini) hanya dari mereka saja dan mensucikan mereka sesuci-sucinya dari semua akhlaq dan tingkah laku yang tercela.

b. Diriwayatkan dan disahihkan oleh al-Hakim, Rasulullah saw bersabda :

يَا بَنِى عَبْد المُطَلِب , إِنِّ سَاَلْتُ الله لَكُمْ ثَلاَثًا : أن يثبت قائمكم و أن يهدى ضالكم

وأن يعلم جاهلكم .

Hai Bani Abdul Muthalib, sesungguhnya aku telah memohon kepada Allah untuk kalian tiga perkara :

– Agar Allah menetapkan orang-orang yang istiqamah di antara kalian.

– Agar Allah menunjukkan orang-orang yang sesat di antara kalian

– Agar Allah mengajarkan orang-orang yang bodoh di antara kalian.[7]

c. Diriwayatkan oleh al-Bazzar, Abu Ya’la, al-Uqaili, al-Thabrani dan Ibnu Syahin dalam al-Sunnah dari Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :

إِنَّ فَاطِمَةَ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا , فَحَرَّمَهَا الله وَ ذُرِّيَّتَهَا عَلَى النَارِ

Sesungguhnya Fathimah telah menjaga kesuciannya, oleh karena itu Allah mengharamkan dia dan keturunannya dari (sentuhan) api neraka.[8]

d. Ibnu Jarir meriwayatkan dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah swt :

وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى. قَالَ : مِنْ رِضَى مُحَمَّدٍ اَنْ لاَ يُدْخِلَ اَحَدٌ مِنْ اَهْلِ بَيْتِهِ النَّارَ

Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas”. Ia berkata : Di antara kepuasan Muhammad saw adalah agar tidak seorangpun dari keluarganya (keturunannya) yang masuk ke dalam api neraka.[9]

e. Dari Imran bin Hushain, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda :

سَأَلْتُ رَبِّي اَنْ لاَ يُدْخِلَ النَّارَ اَحَدًا مِنْ اَهْلِ بَيْتِي فَأَعْطَانِيْهَا

Aku telah memohon kepada Tuhanku supaya tidak memasukkan seorangpun dari ahlul baitku (keturunanku) ke dalam neraka, dan Dia (Allah swt) mengabulkan permohonanku. [10]

f. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah saw bersabda :

إِنَّ فَاطِمَةَ حَصَنَتْ فَرْجَهَا ,وَاِنَّ الله اَدْخَلَهَاوَذُرِّيَّتَهَا الجَنَّةَ

Sesungguhnya Fathimah telah menjaga kesuciannya, karena itu Allah swt akan memasukkannya bersama keturunannya ke dalam surga.

7. Nasab ahlu bait membawa manfaat di dunia dan akhirat.

Rasulullah saw bersabda :

ما بال أقوام يقولون : إنّ رحم رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تنفع يوم القيامة ,

بلى إنّ رحمي موصولة في الدنيا و الآخرة . وإنّي أيها الناس فرط لكم على الحوض

Kenapa ada orang-orang yang mengatakan : sesungguhnya hubungan kekerabatan asulullah saw tidak membawa manfaat di hari kiamat. Bukankah sesungguhnya hubungan kekeluargaku bersambung di dunia dan akhirat. Dan sesungguhnya aku wahai manusia akan mendahului kalian di telaga Haudh.[11]

8. Berpegang teguh dengan ahlu bait tidak akan tersesat.

a. Rasulullah saw bersabda :

إنّي تارك فيكم الثقلين ما ان تمسكتم بهما لن تضــــــلوا بعدي ابدا , أحد هما أعــظم من

الآخر , كتاب الله حبل ممدود من السماء الى الارض , و عترتي أهل بيتي , ولن يفترقا

حتى يردا عليّ الحوض ,فانظروا كيف تخلقوني فيهما

Sesungguhnya telah aku tinggalkan untukmu ats-Tsaqalain yang jika kalian ambil, kalian tidak akan tersesat sepeninggalku selamanya, satu di antara keduanya lebih besar dari yang lainnya yaitu. (Pertama), Kitab Allah sebagai tali yang terbentang di antara langit dan bumi. (Kedua), keturunanku Ahlul baitku. Keduanya tidak akan terpisah hingga kembali kepadaku di al-Haudh. Maka hati-hatilah dengan perlakuan kalian atas keduanya sepeninggalanku nanti.[12]

b. Rasulullah saw bersabda :

إنّي تارك فيكم ما ان تمسكتم به بعدي لن تضــــــلوا , كتاب الله و عترتي أهل بيتي ,

وانهما لن يفترقا حتى يردا عليّ الحوض

Sungguh aku tinggalkan padamu apa yang dapat mencegah kamu dari kesesatan setelah kepergianku, selama kamu berpegang teguh kepadanya : Kitab Allah dan Ithrahku ahlu baitku, dan keduanya tidak akan berpisah sehingga kembali kepadaku di al-Haudh.[13]

c. Rasulullah saw bersabda :

وإنّي اوشك ا، ادعى فاجيب , و اني تارك فيكم الثقلين : كتاب الله و عترتي أهل بيتي

وإنّ اللطيف الخبير خبرني انـــــــهما لن يفترقا حتى يردا عليّ الحوض ,فانظروا كيف

تخلقوني فيهما

Aku merasa segera akan dipanggil (oleh Allah) dan aku akan memenuhi panggilan itu. Maka aku tinggalkan padamu ats-Tsaqalain : Kitab Allah dan Ithrahku ahlu baitku. Dan sesungguhnya Allah Yang Maha Mengetahui telah berfirman kepadaku bahwa keduanya tidak akan berpisah sehingga kembali kepadaku di al-Haudh, Maka hati-hatilah dengan perlakuan kalian atas keduanya sepeninggalanku nanti.[14]


[1] Al-Saraf al-Muabbad Li Aali Muhammad : 69.

[2] Fadh Aal al-Bait Wa Huququhum : 24

[3]ٍSajarah al-Zakiyah : 33

[4] Al-Saraf al-Muabbad : 77.

[5] Al-Saraf al-Muabbad : 80.

[6] Al-Syaraf al-Muabbad Li Aali Muhammad : 87.

[7] Ihya al-Mait Fi Fadhail Aal al-Bait : 36

[8] Ihya al-Mait Fi Fadhail Aal al-Bait : 47

[9] Ihya al-Mait Fi Fadhail Aal al-Bait : 46

[10] Fadl Aal al-Bait : 51

[11] Al-Saraf al-Muabbad Li Aali Muhammad : 94.

[12] Shahih Muslim (4/1873), al-Mustadrak al-Hakim (3/148), Musnad Ahmad (3/14)

[13] Kanzul Ummal (1/166)

[14] Musnad Ahmad bin Hanbal (2/71), al-Mu’jam al-Kabir al-Thabrani (1/129)


Kategori

%d blogger menyukai ini: