Oleh: benmashoor | 7 Agustus 2008

Allah swt menciptakan Muhammad saw dan keturunannya dari tanah Arsy (2)

Dari Muadz bin Jabal, bersabda Rasulullah saw : Sesungguhnya Allah telah menciptakan aku, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein, tujuh ribu tahun sebelum Allah menciptakan dunia. Aku (Muadz bin Jabal) bertanya : Dimanakah selama itu engkau berada. Nabi menjawab : Di Arsy, dimana Allah swt bertasbih memuji, mensucikan serta mengagungkannya.

Ali, Fathimah, Hasan dan Husein, mereka adalah ‘aal Muhammad’ yang telah disucikan, sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-Ahzab ayat 33 :

إِنَّمَا يُرِيْدُ الله لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَ يُطَهِّرَ كُمْ تَطْهِيْرًا

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kotoran (rijs) dari kalian hai

ahli al-bait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya”.

Yusuf bin Ismail al-Nabhani dalam kitabnya ‘al-Saraf al-Muabbad li Aali Muhammad’ berkata :

“Betapa tidak, mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai hubungan silsilah dengan Rasulullah. Mereka itu seasal dengan beliau, yakni silsilah yang menurunkan beliau dan juga menurunkan orang-orang yang dekat dengan beliau. Tidak diragukan lagi, bahwa mencintai beliau saw adalah wajib bagi setiap orang yang bertauhid. Adapun tebal-tipisnya kecintaan seseorang kepada Rasulullah saw merupakan ukuran tentang tebal-tipisnya keimanan yang ada pada orang itu. Orang yang mengaku beriman, tetapi ia tidak mencintai Rasulullah saw, sama artinya dengan berdusta, bahkan layak disebut munafik. Kecintaan kepada Rasulullah saw membawa konsekuensi wajib mencintai keluarga beliau, yakni ahli al-bait beliau, anak cucu keturunan beliau dan kaum kerabat beliau”.

Hal tersebut sesuai dengan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ahmad, Turmudzi, Nasai dan al-Hakim dari al-Muthallib bin Rabi’ah, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda :

وَاللهِ لاَ يَدْخُلُ فَلْبَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ (إِيْمَانٌ) حَتَّى يُحِبُّكُمْ لله وَ لِقَرَابَتِى

“Demi Allah, iman tidak akan masuk ke dalam hati seorang muslim sehingga ia mencintai kalian (keluarga nabi saw) karena Allah dan karena hubungan keluarga denganku”.

Di samping itu terdapat pula hadits yang memerintahkan kepada umat Islam untuk mencintai Rasulullah saw dan keluarganya seperti yang diriwayat oleh Turmudzi, Thabrani dan al-Hakim dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda :

اَحِبُّوا الله لِمَا يَغْدُوْكُمْ بِهِ مِنْ نِعَمِهِ وَاَحِبُّوْنِى لِحُبِّ اللهِ , وَاَحِبُّوا اَهْلَ بَيْتِى لِحُبِّىْ

“Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan-Nya, dan cintailah aku karena kecintaan (kamu) kepada Allah, serta cintailah ahlu al-baitku karena kecintaan (kamu) kepadaku”.

Anak cucu keturunan Rasulullah saw merupakan keberkahan bagi umat Islam. Mereka selalu ada pada tiap zaman, sebab dengan keberadaan mereka itu Allah swt menghindarkan umat manusia dari malapetaka. Kecuali jika umat manusia sudah memilih jalannya sendiri yang sesat menuju kehancuran. Keturunan Rasulullah ibarat cahaya bintang yang menunjukkan arah bagi bahtera yang sedang berlayar di tengah samudera dalam keadaan gelap gulita. Thabrani meriwayat hadits dalam kitab al-Ausath dari Abu Said al-Khudri, ia berkata Rasulullah saw bersabda :

اِنَّمَا مَثَلَ اَهْلِ بَيْتِىْ مِثْلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ, وَ اِنَّمَا مَثَلَ اَهْلِ بَيْتِىْ فِيْكُمْ, مَثَلَ بَابِ حِطَّةٍ فِى بَنِى اِسْرَائِيلَ مَنْ دَخَلَهَا غُفِرَ لَهُ

“Perumpamaan (kedudukan) ahlu al-baitku seperti bahtera Nuh. Barang siapa menaikinya dia akan selamat dan barang siapa meninggalkannya dia akan tenggelam. Dan perumpamaan ahlu al-baitku di antara kamu seperti pintu pengampunan di antara Bani Israil, barang siapa memasukinya maka dosa-dosanya akan diampuninya”.

Orang yang hidup sezaman dengan mereka dan dengan kata-kata indah menyatakan kecintaan kepada mereka, tetapi tidak disertai perbuatan nyata, pernyataannya hanya kosong belaka, hampa dan tak berarti apa-apa, semua itu tidak membawa arti apa-apa. Akan tetapi lebih celaka lagi orang yang gemar mengungkit-ungkit mereka dengan lisan atau tulisan dan dengan tangan atau mata melakukan perbuatan untuk mengurangi dan merendahkan martabat mereka karena kebencian atas keutamaan yang mereka dapatkan dari Allah swt, dapat dipastikan bahwa orang tersebut akan masuk neraka, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani, al-Hakim dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda :

… فَلَوْ اَنَّ رَجُلاً صفَنَ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالمَقَامِ, وَصَلَّى وَصَامَ, ثُمَّ مَاتَ , وَهُوَ مُبْغِضٌ لاِهْلِ بَيْتِ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ (وَآلِهِ) وَسَلَّمَ دَخَلَ النَّارَ .

“… Maka sekiranya seseorang berdiri di antara salah satu sudut Ka’bah dan maqam Ibrahim, lalu ia shalat dan puasa, kemudian meninggal sedangkan ia adalah pembenci keluarga (ahlu al-bait) Muhammad, pasti ia masuk neraka”.

Orang yang mengakui dirinya mencintai Rasulullah saw tetapi bersamaan dengan itu ia merusak citra dan martabat ahlu al-bait beliau, jelas ia adalah orang yang sangat jauh menyeleweng dari rel agama. Mereka adalah golongan yang tidak mengerti, termakan oleh ajaran sesat, hingga terbenam di dalam semangat kebencian terhadap anak cucu keturunan Rasulullah. Mereka menta’wilkan ayat-ayat alquran dan hadits nabi yang berkaitan dengan keutamaan keluarga Muhammad saw. Mereka menebak-nebak akar risalah, menduga-duga turunnya wahyu Ilahi dan mengira-ngira sumber hikmah. Dari bunyi harfiah ayat-ayat dan nash-nash hadits mereka menetapkan kesimpulan menurut pendapat dan selera mereka sendiri, yang sama sekali jauh dari kebenaran. Meskipun mereka telah berbuat sejauh itu, mereka masih juga mengaku cinta kepada Rasulullah saw. Mereka tidak sadar, bahwa dengan perbuatan itu mereka telah menyakiti hati beliau dengan berbagai macam tusukan.

Tidak diragukan lagi bahwa ‘aal Muhammad’ yang dalam zaman kita sekarang ini terkenal dengan sebutan kaum Alawiyin, merupakan orang-orang yang memiliki fadhilah dzatiyyah (keutamaan dzat) yang dikarunia Allah swt kepada mereka melalui hubungan darah dengan insan pilihan-Nya. Sangat naif sekali anggapan yang menyamakan mereka dengan orang-orang dari keturunan lain, karena anggapan demikian itu sama artinya dengan menyamakan pribadi Rasulullah saw dengan pribadi lain.

Fadhilah dzatiyyah yang mereka miliki bukan fadhilah yang dibuat-buat dan bukan berdasarkan fadhilah amalan baik mereka dan bukan pula atas keinginan mereka, melainkan telah menjadi qudrat dan iradat Ilahi sejak azal, yaitu sejak pertama kali Allah menciptakan keluarga Rasulullah dari nur Muhammad saw, di mana nur Muhammad saw tersebut dijadikan dari nur Allah swt.

Dari Hasan bin Ali berkata, aku mendengar kakekku Rasulullah saw bersabda :

خلقت مِنْ نُوْرِ الله عزَّ و جلَّ خلق أهْلَ نَيْتِي مِنْ نُورِي , خلق محبيهم مِنْ نُورِهم , و سَائر الخَلْقِ فِي النَارِ .

“Saya dijadikan dari nur Allah azza wa jalla, dan dijadikan ahlu al-baitku dari nurku, dan dijadikan para pencinta mereka (ahlu al-bait) dari nur mereka (ahlu al-bait), sedangkan yang lainnya berada dalam neraka”.

Dari Ja’far al-Shaddiq, bersabda Rasulullah saw : Wahai Jabir, Sesungguhnya Allah swt, tidak ada tuhan selain-Nya, awal pertama menciptakan makluq-Nya adalah menciptakan Muhammad saw, dan menciptakan ahlu al-bait dari nur keagungan-Nya. Kemudian ditempatkan di bawah perlindungan-Nya, di mana pada saat itu belum ada langit, bumi, malam, siang, matahari, bulan dan semua tempat.

Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya al-Kabir, dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda :

… فَإِنَّهُمْ عِتْرَتِي , خُلِقُوا مِنْ طِيْنَتِي , وَرُزِقُوا فَهْمِي و عِلْمِي , فَوَيْلٌ لِلْمُكَذِّبِيْنَ بِفَضْلِهِمْ مِنْ أمَّتِي الٌقَاطِعِيْنَ مِنْهُمْ صِلَتي لاَ أنْزَلَهُمُ الله شَفِاعَتِي .

“… Mereka adalah keturunanku dan diciptakan dari tanahku serta dikaruniai pengertian dan ilmuku. Celakalah dari ummatku yang mendustakan keutamaan mereka, dan memutuskan hubungan denganku melalui (pemutusan hubungan dengan) mereka. Allah tidak akan menurunkan syafa’atku kepada orang-orang seperti itu”.

Tanah sebagai asal penciptaan Rasulullah dan keturunannya bukanlah tanah biasa yang dipijak setiap saat di bumi ini, akan tetapi tanah untuk penciptaan Rasulullah saw dan keturunannya bersumber dari arsy Allah swt, di lain pendapat tanah tersebut bersumber dari Illiyin, hal ini disebutkan dalam beberapa riwayat diantaranya :

Dari Abu Abdillah, Ja’far al-Shaddiq, berkata :

إنَّ الله عزَّ و جلَّ خَلَقَ مُحَمَّدًا و عِتْرَتَهُ مِنْ طِيْنَةِ العَرْشِ

“Sesungguhnya Allah telah menciptakan Muhammad dan keturunannya dari tanah Arsy.

Dari Abdurahman bin Hajjaj, berkata :

إنَّ الله تَبَرَكَ وَ تَعَالَى خَلَقَ مُحَمَّدًا و آلَ مُحَمَّدٍ مِنْ طِيْنَةِ عِلِّيِينَ خَلَقَ قُلُوبَهُمْ مِنْ طِيْنَةِ فَوْقَ ذَالِك .

“Sesungguhnya Allah swt menciptakan Muhammad dan keluarganya dari tanah Illiyin, dan menjadikan hati mereka dari tanah yang lebih tinggi dari tanah Illiyin”.

Ketika Allah hendak menciptakan Muhammad, berfirman Allah kepada para malaikatnya : ‘Sesungguhnya aku ingin menciptakan makhluq yang akan Aku utamakan dan muliakan dari semua makhluq, dan Aku jadikan dia sebagai nabi yang pertama dan terakhir, Aku akan memberikan syafa’at pada hari kiamat karena dia, jika bukan karena dia, tidak aku jadikan keindahan surga dan kekejaman neraka. Aku akan memuliakannya dengan kemuliaanku, dan mengagungkannya dengan keagunganku’. Berkata para Malaikat : Wahai Tuhan kami, tidak sekali-kali para hamba menentang Tuhannya, kami semua mendengar dan patuh kepada-Mu. Maka Allah memerintahkan malaikat Jibril, al-shafi al-a’la dan malaikat Arsy untuk mengambil tanah Rasulullah dari sumbernya, maka dijadikan beliau saw dari tanah, dimatikan dan dikuburkan ke dalam tanah, dibangkitkan melalui tanah. Dari tanah itu, kemudian Jibril membawa dan membenamkannya di mata air Salsabila sehingga bersih seperti mutiara yang putih. Dari hari ke hari tanah tersebut dibenamkan ke semua mata air yang ada di surga, dan setelah diangkat keluarlah cahaya tanah tersebut, kemudian diperlihatkan kepada malaikat lainnya, para malaikat menyambutnya dengan sikap hormat dan memuliakannya. Ketika Jibril membawa tanah tersebut mengelilingi para malaikat, mereka berkata : Wahai Tuhanku, jika engkau perintahkan untuk sujud, maka kami akan sujud. Maka para malaikat sujud dan memuliakan tanah tersebut sebelum Adam diciptakan.

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri : Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah saw, datanglah seorang lelaki berkata, Ya Rasulullah beritahukanlah kepadaku tentang firman Allah swt kepada Iblis :

أَسْتَكْبَرْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِيْنَ

“Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang lebih tinggi ?” (Shaad : 75)

Siapakah mereka Ya Rasulullah, orang yang lebih tinggi kedudukannya dari para Malaikat ? Rasulullah menjawab : Saya, Ali, Fathimah, Hasan dan Husein. Kami dijadikan sebagai kemah Arsy, bertasbih para malaikat dengan tasbih kami dua ribu tahun sebelum Allah menjadikan Adam. Dan ketika Allah swt menjadikan Adam, diperintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepadanya, maka seluruh malaikat sujud kecuali iblis, mereka menolak untuk bersujud kepada Adam, berfirman Allah swt : Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang lebih tinggi ?

Dari Ali bin Abi Thalib, Rasullulah saw bersabda :

يَا عَلِي, خَلَقَ الله النَاسَ مِنْ اَشْجَار شَتَّى, وَخَلَقَنِي وَ أَنتَ مِنْ شَجَرَة وَاحِدَةٍ, اَنَا أَصْلُهَا وأَنْتَ فَرْعُهَا, فَطُوْبَى لِعَبْدٍ تَمَسَّكَ بِأَصْلِهَا, وَ أَكَلَ مِنْ فَرْعِهَا.

“Wahai Ali, Allah telah menciptakan manusia dari berbagai jenis pohon, dan Allah menciptakan aku dan engkau dari pohon yang satu, saya pangkalnya dan engkau cabangnya, maka beruntung bagi hamba yang berpegang pada pangkalnya dan makan dari cabangnya”.

Dari Jabir bin Abdillah al-Anshari berkata : Ketika kami dan Ali sedang berada di Arafah bersama Rasulullah saw, beliau memanggil Ali : Wahai Ali mendekatlah dan letakkanlah telapak tanganmu di atas telapak tanganku, setelah itu Rasulullah bersabda :

يَا عَلِي, خلقت أنَا وَ أَنْتَ مِنْ شَجَرَةٍ أنَا أصَلُهَا وَأنْتَ فَرْعُهَا وَالحَسَن وَالحُسَين أَغْصَانهَا, فَمَنْ تَعَلّق بِغُصْنٍ مِنْ أَغْصَانِهَا أَدْخَلَهُ الجَنَّةَ .

“Wahai Ali, Aku dan engkau diciptakan dari satu pohon, Saya pangkalnya dan engkau

cabangnya, al-Hasan dan al-Husein rantingnya. Maka siapa yang bergantung dengan

ranting dari ranting-ranting pohon itu, pasti masuk surga”.

Dan ketika Allah swt menciptakan Adam, terdengar dipunggungnya tasbih dari nur Muhammad seperti burung mengibaskan sayapnya. Berkata Adam : Wahai Tuhanku, apakah ini ? Allah swt menjawab : Wahai Adam, ini adalah tasbih Muhammad al-Arabi, sayyid al-awwalin wa al-akhirin, berbahagialah bagi siapa yang mengikuti dan patuh kepadanya, dan akan celaka bagi siapa yang menentangnya, peganglah janji-Ku ini wahai Adam, dan tidaklah Aku pindahkan nur itu kecuali ke sulbi-sulbi lelaki yang suci dan rahim para wanita yang menjaga kehormatan dan kesucian dirinya.

Kemudian Adam berkata : Wahai Tuhanku, telah Engkau tambahkan kepadaku kemuliaan, cahaya, keindahan, kehormatan dengan sebab kelahiran nur Muhammad ini. Ketika Adam ingin mendatangi Siti Hawa, beliau memerintahkan untuk mensucikan diri, dan berkata kepadanya : Sungguh Allah telah memberi rizki dan keistimewaan kepadamu dengan nur ini, karena nur ini merupakan titipan dan janji Allah swt.

Adapun kalimat yang berbunyi ‘dikaruniai pengertian dan ilmuku’ pada hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya al-Kabir tersebut, sesungguhnya adalah ilmu yang dimiliki oleh keturunan Rasulullah saw pada hakikatnya adalah ilmu Rasulullah. Menurut Ibnu Taimiyah, Allah swt menganugerahkan ilmu secara khusus bagi keturunan Rasulullah saw, yakni ilmu yang tidak diberikan kepada manusia selain mereka. Sehingga tidak seorangpun yang lebih alim dari mereka tentang nama-nama Allah, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan, hukum-hukum, pahala dan siksa, syariat, peristiwa-peristiwa yang diridhai dan dimurkai oleh-Nya, para malaikat dan seluruh makhluq-Nya. Maha suci Allah yang telah menganugerahkan ilmu kepada mereka baik yang terdahulu maupun yang datang kemudian.

Para keturunan Rasulullah saw memiliki sesuatu yang lebih dibanding orang lain, yaitu hubungan (nasab dan keilmuan) dengan Nabi saw. Diantara mereka ada yang alim ibnu alim ibnu alim hingga Nabi saw, ada yang wali ibnu wali ibnu wali hingga Nabi saw, ada yang saleh ibnu saleh ibnu saleh hingga Nabi saw. Di dunia ini, di manakah dapat ditemukan hal seperti ini ?

Ibnu Hajar dalam al-Shawaiq al-Muhriqah mengatakan bahwa : ‘Mereka (keturunan Rasulullah saw) adalah gudang-gudang ilmu Islam dan hukum-hukum syara’. Kalau saja para keturunan Rasulullah saw yang jahil akan ilmu agama berusaha untuk belajar, niscaya mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi alim.

Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berkata : ‘Kita ahlul-bait, jika bertawajjuh untuk menuntut asrar, akan berhasil dengan waktu singkat. Yang menyebabkan kita tertinggal adalah karena kita menelantarkan diri kita sendiri, Barang siapa menelantarkan dirinya, ia akan hilang tersesat. Semoga Allah membimbing kita ke jalan para salaf kita yang saleh dan mengembalikan barakah dan asrar mereka kepada kita’.


Kategori

%d blogger menyukai ini: