Oleh: benmashoor | 7 Agustus 2008

Ahlul Bait Dalam ayat al-Mawaddah

Sesungguhnya cinta kepada ahlu bait merupakan salah satu fondasi mendasar dari keimanan seorang muslim, sebagaimana telah dinyatakan dalam banyak periwayatan berdasarkan nash alquran dan sunnah Nabi saw. Berikut ini akan dijelaskan beberapa ayat alquran dan sunnah Nabi saw tentang kewajiban umat Islam untuk menanamkan kecintaan dan mengokohkan kasih sayang kepada ahlu bait.

Allah swt berfirman :

Katakanlah: ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan’.[1]

Al-Sayuthi meriwayatkan mengenai ayat ini, yang sanadnya bersambung kepada Abdullah bin Abbas. Ia berkata, ‘Ketika turun ayat ini para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw : ‘Ya Rasulullah, Siapa kerabatmu yang diwajibkan atas kami untuk mencintainya ? Rasul saw menjawab : ‘Ali, Fathimah dan kedua anak mereka’.[2]

Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban untuk mencintai ahlu bait telah ditetapkan dalam alquran dan hadits. Fakhrurazi menjelaskan mengenai kewajiban untuk mencintai ahlu bait berdasarkan tiga alasan :

Pertama, ( إلاّ المودّة في القربى ) ayat ini telas jelas menunjukkan kewajiban mencintai ahlu bait Rasulullah saw.

Kedua, tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Nabi saw sangat mencintai putrinya Fathima al-Zahra. Rasullah saw bersabda :

فاطمة بضعة مني , يؤذيني ما يؤذيها ويغضبني ما يغضبها

‘Fathimah adalah darah dagingku, apa yang menggangunya mengganggu diriku, apa yang membuat marahnya sama dengan membuat marahku’.

Begitu pula dengan kecintaan Rasulullah saw kepada Ali, Hasan dan Husein. Hal ini merupakan sunnah dari Rasulullah yang juga diperintahkan untuk diikuti oleh umatnya, sebagaimana ayat واتّبعوه لعلكم تهتدون yang artinya : ‘Dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk’[3] dan ayat فليحذر الذين يخالفون عن أمره yang artinya : ‘Maka hati-hatilah bagi orang-orang yang menyalahi perintah-Nya’[4]

Ketiga, sesungguhnya kita diwajibkan untuk membaca doa untuk mereka dalam sholat ( اللهمّ صلّ على محمد و آل محمد ), hal ini merupakan tanda keagungan yang tidak didapat pada selain mereka. Semuanya menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah saw dan keluarganya adalah suatu hal yang wajib hukumnya.

Imam Syafii dalam syairnya menyatakan :

إن كان رفضا حب آل محمد # فليشهد الثقلان أني رافضي

‘Jika aku dituduh Rafidhi karena aku mencintai keluarga Muhammad

Maka alquran dan sunnah menjadi saksi, aku ini Rafidhi.’[5]

Berkenaan dengan turunnya ayat al-Mawaddah terhadap ahlu bait, Imam Syafii bersyair :

يا آل بيت رسول الله حبكم فرض من الله في القرآن أنزله

‘Wahai ahlu bait Rasulullah mencintaimu adalah suatu kewajiban

Yang Allah turunkan dalam alquran’.[6]

Diriwayatkan oleh Imam Ali Zainal Abidin,’ Ketika Ali bin Abi Thalib terbunuh, Imam Hasan berkhutbah di tengah keramaian manusia. Beliau mengucapkan pujian kepada Allah dan kemudian berkata : ‘… dan saya adalah ahlu bait yang Allah swt wajibkan kepada setiap muslim untuk mencintai mereka. Berfirman Allah swt :

Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu.

Beliau as berkata : ‘Salah satu kebaikan tersebut adalah mencintai kami ahlu bait’.[7]

Allah swt berfirman :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.[8]

Telah diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah, ‘ Rasulullah saw berkata kepada Ali bin Abi Thalib : ‘Wahai Ali, katakanlah, ‘Ya Allah kabulkanlah permintaanku agar di setiap hati kaum muslimin terdapat rasa kasih sayang, Ya Allah jadikanlah hal ini bagiku suatu ikatan di sisi-Mu, Ya Allah jadikanlah bagiku rasa kasih sayang di sisi-Mu’. Maka turunlah ayat ini dan tidak akan bertemu seorang mu’min dan mu’minah kecuali di dalam hatinya terdapat rasa kasih sayang terhadap ahlu bait as’.[9]

Allah swt berfirman :

Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, Maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu.[10]

Muhammad al-Baqir berkata, ‘Abu Abdillah al-Jadali mendatangi Imam Ali dan berkata kepadanya : ‘Wahai Aba Abdillah maukah engkau aku kabari akan firman Allah yang berbunyi ( من جاء بالحسنة فله خير منها… ) ? Berkata Amirul Mukminin : Ya, Silahkan. Berkata Abu Abdillah : ‘Kebaikan adalah mencintai kami ahlu bait dan kejahatan adalah membenci kami ahlu bait. Kemudian Dia membaca kembali ayat tersebut’.[11]

Allah swt berfirman :

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.[12]

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah saw ketika turun ayat ini, beliau saw berkata : ‘Ayat ini diturunkan bagi siapa saja yang mencintai Allah, Rasulnya dan ahlu baitku dengan benar dan jujur tanpa ada kebohongan, serta mencintai orang-orang mu’min dalam keadaan hadir dan tidak hadir, maka dengan dzikir kepada Allah kecintaan itu timbul’.[13]


[1] Al-Syura : 23

[2] Al-Dur al-Mansur (6/7)

[3] Al-A’raf : 158

[4] Al-Nuur : 63

[5] Tafsir al-Razi (27/166)

[6] Nur al-Abshor : 127.

[7] Al-Showaiq al-Muhriqah : 170.

[8] Maryam : 96

[9] Sawahid al-Tanzil (1:464)

[10] Al-Qoshos : 84

[11] Kasyf al-Gummah (1/321)

[12] Al-Raad : 28

[13] Al-Dur al-Mansur (4/58), Kanz al-Ummal (1/250)


Kategori

%d blogger menyukai ini: