Oleh: benmashoor | 7 Agustus 2008

Ahlu Bait Dalam ayat al-Thathir

Yang dimaksud dengan ayat Tathir (pensucian) adalah :

‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kotoran dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya’.[1]

Dalam berbagai kitab tafsir dan hadits menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata ‘ahlu bait’ yang diturunkan kepada mereka ayat ini adalah Muhammad Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib, Fathimah al-Zahra, Hasan dan Husein. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab hadisnya dari Aisyah, ‘Nabi saw keluar di waktu pagi hari dengan mengenakan kain berbulu berwarna hitam, ketika itu datang Hasan, maka dimasukkan ke dalam kainnya, kemudian datang Husein, lalu dimasukkan ke dalam kainnya, kemudian datang Fathimah, lalu dimasukkan dalam kainnya, kemudian datang Ali bin Abi Thalib. Kemudian Nabi saw berkata :

إنّما يريد الله ليذهب عنكم الرّجس اهل البيت ويطهّركم تطهيرا

‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kotoran dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya’ [2]

Berkata Fakhrurazi dalam tafsirnya, ‘Ketahuilah, bahwa sesungguhnya riwayat ini disepakati kebenarannya oleh para ahli tafsir dan hadits’.[3]

Diriwayatkan dari Turmudzi dalam Sunan-nya dari Ummu Salamah : ‘Nabi saw menyelimuti Hasan, Husein, Ali dan Fathimah dengan kain Kisa’, kemudian berkata :

اللهمّ هؤلاء أهل بيتي, أذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهير. قالت أمّ سلمة : وانا معهم يا رسول الله ؟ فقال : إنك على خير.

‘Ya Allah, mereka adalah ahlu baitku, hilangkanlah atas mereka segala kotoran dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Umu Salamah berkata : ‘Ya Rasulullah, apakah aku dari mereka ? Beliau saw menjawab : engkau berada dalam kebaikan’.[4]

Dari al-Hakim dalam Mustadrak-nya diriwayatkan dari Ummu Salamah : Di rumahku turun ayat :

إنّما يريد الله ليذهب عنكم الرّجس اهل البيت ويطهّركم تطهيرا

Umu Salamah berkata, ‘Kemudian Rasulullah saw datang kepada Ali, Fathimah, Hasan dan Husein, lalu berkata : ‘Mereka adalah ahlu baitku’. Berkata al-Hakim, ‘Hadits ini Shahih menurut syarat Bukhori, tetapi ia tidak meriwayatkannya’.[5]

Dari Watsilah bin Asqa’ berkata, ‘ Aku mendatangi Ali tetapi aku tidak mendapatkannya. Kemudian Fathimah berkata kepadaku : ‘Datanglah kepada Rasulullah karena beliau saw telah memangil Ali’. Kemudian Rasulullah saw datang bersama Ali lalu masuk ke dalam rumah dan akupun ikut masuk bersama keduanya. Setelah itu Rasulullah saw memanggil Hasan dan Husein dan mendudukkan keduanya di kedua pahanya. Kemudian Fathimah keluar dari kamarnya, lalu diselimutinya mereka dan berkata :

إنّما يريد الله ليذهب عنكم الرّجس اهل البيت ويطهّركم تطهيرا

Selanjutnya Rasul saw berkata, ‘ mereka adalah ahlu baitku. Ya Allah, mereka adalah sebenar-benarnya ahlu baitku’. Berkata al-Hakim, ‘Hadits ini Shahih menurut syarat shahihain, tetapi mereka tidak meriwayatkannya’ [6]

Para sahabat banyak yang meriwayatkan hadits al-Kisa’ ini, di antaranya Anas bin Malik, Bara bin Azib, Tsauban Maula Rasulullah saw, al-Hasan al-Mujtaba, Abi Hamra maula Rasulullah saw, Hakim bin Saad, Hamad bin Salamah, Wadhiyah bin Khalifah al-Kalbi, Abu Darda’, Zaid bin Arqam, Zainab binti Abi Salamah, Saad bin Abi Waqqas, Abu Said al-Khudri, Umum Salamah, Atha’ bin Abi Rabah, Atho’ bin Yasar, Athiyah al-Aufi, Imam Ali bin Abi Thalib, Imam Ali bin Husein Zainal Abidin, Umar bin Abi Salmah, Umrah bin Afi, Qatadah, Mujahid bin Jabar al-Makki, Muhammad bin Sauqah, Abi Ma’dal al-Thofawi, Mu’qil bin Yasar, Watsilah bin Asqa’, Abi Aswad al-Duali, Jabir bin Abdullah al-Anshari, Abu Dzar al-Ghifari, Sahar bin Husab, Aisyah, Abdullah bin Abbas, Umar bin Maimun al-Audi dan masih banyak lagi yang lainnya.[7]

Tidak diragukan lagi ahlu bait yang dinyatakan oleh ayat di atas adalah lima orang bergelar Ashab al-Kisa. Kenyataan ini cukup untuk menyimpulkan bahwa mereka adalah makhluk yang paling mulia dibandingkan seluruh makhluq yang mendiami bumi dan langit dan tidak ada seorangpun yang dapat menyamai kedudukan mereka. Rasulullah saw bersabda :

نحن أهل بيت لا يقاس بنا

Kami ahlu bait tidak seorangpun yang dapat dibandingkan dengan kami.[8]

Selain Rasulullah saw, Ali sepupu Nabi saw yang dinyatakan sama kedudukannya seperti kedudukan nabi Harun di sisi nabi Musa, Fatimah al-Zahra merupakan darah daging Nabi yang dinyatakan bahwa Allah swt akan marah karena kemarahannya serta rela karena kerelaannya, serta dua buah hati Nabi saw di dunia, al-Hasan dan al-Husein yang syahid dan kelak akan menjadi penghulu pemuda di surga, berdasarkan dalil yang kuat dan tidak terbantah.

Diriwayatkan bahwa beliau saw selalu membaca di depan pintu rumah Fathimah selama delapan bulan. Nafi’ bin Hamra mengatakan, ‘Aku menyaksikan Rasulullah saw selama delapan beliau keluar hendak melaksanakan shalat subuh, beliau melewati pintu rumah Fathimah dan mengatakan : ‘Assalamu ‘alaikum, ya ahlu bait wa rahmatullahi wa barakatuh. Shalatlah kalian’. Kemudian beliau saw membaca ayat yang artinya ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kotoran dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya’[9]

Adapun makna lafadz ar-rijs (kotoran), para ulama mufassirin di dalam menjelaskan maknanya terbagi menjadi beberapa ibarat (perkataan). Ada yang mengatakan bahwa maknannya adalah syaithan. Di antara yang mengatakan demikian adalah Ibnu Zaid. Ada yang mengatakan bahwa maknannya adalah syirik, perbuatan maksiat, syak (keragu-raguan), perbuatan dosa dan segala macam perbuatan kotor menurut syariat. Yang berpendapat demikian di antaranya adalah as-Suddi dan al-Hasan al-Bashri. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah segala macam gangguan kejahatan, kejelekan dan perbuatan keji. Yang berkata demikian adalah Syaikh Abdurrahman As-Sa’di

Ayat al-Tahthir menyatakan bahwa Allah ingin mensucikan ahlu bait dari kotoran. Kotoran di sini bukanlah kotoran lahiriah. Jika itu yang dimaksud, Nabi saw tidak perlu memberikan gambaran di atas dan membacanya berkali-kali di depan pintu rumah Ali dan Fathimah. Yang dimaksud dengan kotoran di sini adalah kotoran batiniah, yaitu berbuat dosa dan maksiat kepada Tuhan. Dengan demikian, arti ayat tersebut adalah ‘Sesungguhnya Allah ingin agar ahlu bait dibersih dan disucikan dari berbuat dosa dan maksiat‘.


[1] Al-Ahzab : 33

[2] Shahih Muslim, Bab Keutamaan Sahabat (4/1883)

[3] Tafsir Al-Kabir (8/85)

[4] Sunan al-Turmudzi (5/351)

[5] Mustadrak ‘Ala Shahihain (3/146)

[6] Mustadrak (3/146-147)

[7] Tafsir al-Thabari (22/5-7), Tafsir al-Tibyan (8/339)

[8] Yanabi’ al-Mawaddah (2/17)

[9] Al-Dur al-Mansur (5/199)


Kategori

%d blogger menyukai ini: