Oleh: benmashoor | 5 Agustus 2008

Penghormatan Masyarakat Terhadap Arab Sayyid

Sebagian besar orang Arab datang ke Indonesia dari Hadramaut dan merupakan penduduk penting di kota-kota pelabuhan di Jawa Barat pada abad ke-17. Di Hadramaut, terdapat beberapa golongan, kalau bukan dikatakan setara, masyarakat. Hampir setiap golongan terwakili di Nusantara ini. Menurut penelitian Van den Berg, orang Arab memang sudah lama hadir dan bermukim di Nusantara, tetapi orang Hadramaut secara massal datang ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir abad ke-18.[1] Menurutnya, setelah setengah abad, pada tahun 1844, koloni Arab di Batavia merupakan koloni terbesar di Nusantara, sehingga pemerintah Belanda mengharuskan adanya kepala koloni atau disebut Kapten Arab. Mereka kebanyakan tinggal di Pekojan, di samping ada juga yang tinggal di Tanah Abang dan Krukut.

Sebenarnya kedudukan kapten Arab kurang disukai oleh kalangan masyarakat Arab yang terpandang saat itu, mereka selalu menolak jika pemerintah colonial menunjukkan mereka sebagai kapten Arab. Keberatan mereka disebabkan nama buruk para pengumpul pajak melekat pada pangkat tersebut, sedangkan kepala penduduk Arab ditugaskan untuk mengumpulkan pajak perusahaan, bahkan ada perkataan salah satu orang Arab : ‘seperti anda ketahui, orang yang takut pada Allah, tidak akan menerimanya.’

Diantara yang pernah menjadi Kapten Arab di Batavia ialah Muhammad Ba-Behir dan Umar Mangus. Sebelum Umar Manggus diangkat menjadi kapten Arab, kebanyakan orang Arab telah menjatuhkan pilihannya kepada sayid Abdullah bin Husain Alaydrus, seorang saudagar yang kaya, terkenal karena kedermawanan dan perilakunya yang baik serta terpandang di kalangan masyarakat Arab dan orang-orang Eropa. Banyak orang yang menyangka dengan kedekatan hubungannya dengan orang-orang Eropa, ia akan bersedia dan menerima jabatan kapten Arab itu. Pemerintah kolonial terus menerus mendesak agar ia menerima jabatan itu, tetapi dengan tegas ia tetap menolaknya. Penolakan ini mendapat dukungan dari kalangan masyarakat Arab terpandang.

Setelah pemerintah kolonial tidak mendapatkan orang yang akan dijadikan boneka dalam menjalankan politiknya, maka pandangan pemerintah jatuh kepada Salim bin Awad Balweel, akan tetapi karena masuknya beberapa informasi yang dianggap akan merugikan kepentingan pemerintah, diantaranya adalah Salim Balweel sering menolong beberapa orang Arab untuk menghindari dari orang-orang Arab yang memberi pinjaman uang (tukang kredit) dengan bunga tinggi dan ia banyak bergaul dengan masyarakat dari ras-ras lain, menyebabkan ia gagal menduduki jabatan itu. Selanjutnya pemerintah memberikan jabatan kapten Arab itu kepada Umar Manggus yang banyak berhubungan dengan orang-orang Eropa dan jarang berhubungan dengan masyarakat Arab atau orang pribumi. Disamping itu Umar Manggus juga salah seorang yang beberapa kali meminjamkan uang dengan bunga tinggi. Menurut Snouck Hurgronje, Umar Manggus kadang-kadang mempunyai tingkah laku sebagai orang kaya baru, yang tidak takut pada siapapun dan tidak mau mengaku kalah jika ia terlibat dalam perselisihan, kecuali kalau terpaksa. Karena itu, ia tidak banyak mempunyai teman di antara orang-orang Arab.

Suatu saat Umar Manggus mempunyai masalah dengan pengaduan masyarakat Arab melalui residen Betawi mengenai pembebasan tanah. Pemerintah kolonial melalui Snouck Hurgroje membela Umar Manggus dengan menolak semua keberatan terhadapnya, bahkan Snouck menganjurkan agar pemerintah menegur residen Betawi itu. Pembelaannya terhadap Manggus bukan tidak mempunyai maksud, dibalik pembelaan itu ada maksud yang terkandung, yaitu agar pemerintah kolonial tetap dapat mengontrol perilaku masyarakat Arab melalui kaki tangan yang berfungsi sebagai kapten Arab yang semakin hari sulit ditemukan. Snouck berkata : bahwa betapa sulit dan semakin sulitnya untuk menemukan pribadi-pribadi yang agak cocok mau menjadi kepala penduduk Arab. Beberapa orang Arab yang paling terhormat dan terpandang satu demi satu menyatakan kepada Snouck, bahwa mereka lebih suka meninggalkan pulau Jawa daripada harus menerima jabatan sebagai kapten.

Dalam buku Nasehat Snouck Hurgronje dalam masa kepegawaiannya kepada pemerintah Hindia Belanda bahwa menurut pendapat beberapa orang dari masyarakat Arab, Umar Manggus dikatakan sebagai penindas orang Arab, hal ini berdasarkan penuturan haji Rasim Bey seorang konsul Turki di Betawi yang pernah menyewa rumah Umar Manggus. Oleh masyarakat Arab, haji Rasim Bey dianjurkan untuk keluar dari rumah Umar Manggus, masyarakat Arab akan mengadukan kepada Konstantinopel tentang persahabatannya dengan penindas orang Arab, yaitu sahabat pemerintah Hindia Belanda, jika beliau tidak keluar dari rumah tersebut.

Setelah hancurnya VOC pada tahun 1798, sebagian besar pelayaran jatuh ke tangan orang Arab. Pada tahun 1855, orang Arab memiliki 75 kapal laut di Batavia, dengan kaptennya orang Arab dan awaknya orang Indonesia. Pada abad ke-19, sebagian distribusi barang-barang di kota Batavia dikuasai oleh orang Cina, Arab dan India. Sebagian orang Arab terlibat dalam produksi dan penjualan batik, sehingga di permulaan abad itu, Arab merupakan orang terkaya setelah orang Eropa di Batavia.

Di Batavia penduduk Arab terus bertambah, mereka tinggal di kampung-kampung yang dekat dengan pemukiman orang pribumi atau Betawi. Dalam hubungannya dengan aktivitas dakwah Islamiyah, golongan sayyid dan golongan syaikh banyak memainkan perannya, tetapi golongan sayid jauh lebih menonjol. Kelompok elite yang dikenal orang Betawi hanya berkaitan dengan agama, yaitu guru mengaji, para haji dan orang Arab keturunan Nabi yang disebut sayyid atau Habib.[2] Para sayid, sangat dihormati bukan hanya karena dipandang keturunan Nabi yang sudah selayaknya menerima penghormatan, melainkan juga mengingat jasa kelompok ini yang selama sejak lama sebagai penyebar Islam dan sumber kader ulama.[3]

Van Den Berg mengatakan, sesungguhnya pengaruh yang besar dalam penyebaran Islam adalah dari para sayid/syarif. Di tangan mereka tersebarlah Islam di antara para sultan-sultan Hindu di Jawa dan yang lainnya. Seandainya ada orang-orang Arab Hadramaut selain mereka, mereka tidak mempunyai pengaruh seperti itu. Sebab dari kenyataan ini adalah karena mereka keturunan dari pembawa risalah yang membawa ajaran Islam.[4]

Selain jasa mereka mendirikan madrasah pertama di Batavia, yaitu madrasah Jamiat Kheir yang berdiri tahun 1905 di Pekojan, beberapa di antara mereka juga menjadi guru para ulama Betawi, seperti habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi di Kwitang dan habib Ali bin Husein Alatas di Bungur. Sejak abad ke-19 orang Arab diakui dengan penuh hormat oleh orang Betawi sebagai bangsa yang paling mulia dan kuat beribadah.[5]

Aktivitas dakwah dan pengajaran agama oleh ulama-ulama Jakarta asal Hadramaut itu sudah ada sejak akhir abad ke-18, meskipun kebanyakan yang masih dapat ditelusuri sejarahnya, bermula di akhir abad ke-19. Di antara mereka yang terlibat aktif dalam aktivitas itu ialah Habib Husein bin Abubakar Alaydrus di luar batang, Habib Salim Jindan di Otista, Habib Ali Alatas di Bungur, Habib Ali al-Habsyi di Kwitang, Habib Zen Sulaibiyah Alaydrus di Pekojan. Mereka mengadakan pengajaran agama di rumah, majlis taklim dan masjid-masjid tertentu, yang biasanya berada di dekat kediaman mereka. Ada yang menggunakan metode ceramah dan ada pula yang menggunakan metode salafiyah atau halaqah. Metode terakhir ini diperuntukkan terutama bagi penuntut yang ingin mendalami ilmu keagamaan, yang biasanya dipimpin dalam program takhassus. Sesuai dengan metode yang digunakan, pengajaran yang mereka lakukan itu ada yang bersifat massal dan ada pula yang bersifat khusus, bahkan ada yang mengajar secara privat.

Diantara ulama Betawi yang menjadi murid ulama asal Hadramaut ialah KH. Abdullah Syafii (Assyafi’iyah), KH. Abdul Manaf (Darun Najah), KH. Abdurrazak Ma’mun, KH. Syafii Hadzami. Belum lagi ulama-ulama Betawi yang menuntut ilmu di Mekkah seperti Guru Marzuki Jakarta Timur dan Guru Mughni Kuningan yang keduanya telah diberikan ijazah Thariqah al-Alawiyah dari sayyid Muhammad Umar Syatta. Di samping itu dikenal pula KH. Usman Abidin atau kiyai Bima penerus dakwah Habib Usman bin Yahya mufti Betawi di Petamburan. Beliau adalah keturunan dari Syaikh Abdul Gani Bima, seorang ulama terkemuka Nusantara di Haramain abad ke-18 yang menjadi salah satu sanad (mata rantai intelektual) bagi sejumlah ulama Betawi.

Jasa ulama Jakarta asal Hadramaut, bukan saja terletak pada berkembang dan tersebarnya majlis-majlis taklim mereka yang juga diikuti oleh orang-orang Betawi, tetapi juga dalam masalah pembaharuan dalam Islam di Jakarta, dan oleh karena itu juga di Indonesia. Pembaharuan Islam yang dilakukan ulama Jakarta asal Hadramaut adalah dalam bidang pendidikan melalui perkumpulan Jamiat Kheir. Perkumpulan Jamiat Kheir berjasa melahirkan tokoh-tokoh pembaharuan dalam Islam di Indonesia seperti KH. Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah.


[1] LWC Van Den Berg, Hadramaut Dan Koloni Arab di Nusantara, hal. 72.

[2] Abdul Aziz, Islam Dan Masyarakat Betawi, hal. 38.

[3] Abdul Aziz, Ibid, hal. 39

[4] Alwi Bin Thahir Al-Haddad, op cit, hal. 52.

[5] Abdul Aziz, op cit, hal. 39


Kategori

%d blogger menyukai ini: