Oleh: benmashoor | 1 Agustus 2008

Dialog Musa al-Kadzim dengan Harun al-Rasyid

Harun al-Rasyid : Anda telah membiarkan masyarakat untuk menasabkan anda kepada Nabi saw. Mereka mengatakan kepada anda ‘Ya Putera Rasulullah’, padahal anda adalah putra Ali Bin Abi Thalib, dan seseorang hanya dinasabkan kepada ayahnya, sementara Fathimah hanyalah wadah. Nabi saw adalah moyang anda dari pihak ibu anda.

Musa al-Kadzim : Kalau Nabi saw dibangkitkan, lalu menyampaikan kemuliaan anda kepada anda, akankah anda menyambutnya ?

Harun al-Rasyid : Subhanallah, Mengapa saya tidak menyambutnya ? Saya akan membanggakan diri di hadapan bangsa Arab dan kaum luar Arab.

Musa al-Kadzim : Akan tetapi, beliau tidak mengatakan kepada saya dan saya pun tidak ingin mendahuluinya.

Harun al-Rasyid : Anda benar. Akan tetapi, mengapa anda sering mengatakan ‘Kami keturunan Nabi saw’, padahal Nabi tidak memiliki keturunan ? sebab, keturunan itu dari pihak laki-laki, bukan dari pihak perempuan. Anda dilahirkan oleh puteri Nabi saw.

Beritahukanlah hujjah anda dalam masalah ini, wahai putera Ali. Anda dapat menegaskannya kepada saya dengan dalil dari kitab Allah swt. Anda, wahai putera Ali, mengaku bahwa tidak turun dari kalian sedikitpun dari kitab Allah itu, baik alif maupun wawu melainkan memiliki penakwilannya. Kalian berhujjah dengan firman-Nya : ‘Tidaklah Kami alfakan sesuatupun di dalam al-kitab (Surat al-An’am : 38). Kalian tidak lagi memerlukan pendapat dan qiyas dari para ulama yang lain.

Musa al-Kadzim : Izinkanlah saya untuk menjawab.

Harun al-Rasyid : Tentu.

Musa al-Kadzim : Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Dan dari keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikian Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Isa dan Ilyas semuanya termasuk orang-orang yang saleh. (Surat al-An’am : 84-85). Lalu siapa ayah nabi Isa as ?

Harun al-Rasyid : Isa tidak memiliki ayah.

Musa al-Kadzim : tetapi Allah swt menisbatkan kepada keturunan para nabi melalui ibunya Maryam as. Demikian pula, kami dinisbatkan kepada keturunan Nabi saw melalui ibu kami Fathimah as. Maukah saya tambahkan penjelasannya ?

Harun al-Rasyid : Tentu.

Musa al-Kadzim : Allah swt berfirman : Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah dating pengetahuan yang meyakinkanmu, maka katakanlah (kepadanya), “Mari kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan kami dan perempuan kamu, diri kami dan diri kamu. Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah saw dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta. (Surat al-Imran : 61).

Tidak seorangpun mengaku bahwa ia disertakan Nabi saw ke dalam jubah (al-Kisa) ketika bermubahalah dengan kaum Nasrani kecuali Ali Bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan dan Husein. Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa manifestasi dari kalimat abna ‘ana (anak-anak kami) dalam ayat yang mulia tersebut adalah Hasan dan Husein, dan manifestasi nisa ‘ana (perempuan kami) adalah Fathimah al-Zahra, dan manifestasi anfusana adalah Ali Bin Abi Thalib.

Harun al-Rasyid : Anda benar, wahai Musa.


Kategori

%d blogger menyukai ini: