Oleh: benmashoor | 28 Juli 2008

Sikap generasi Bani Alawi terhadap thariqah salaf mereka

Tidak akan kembali thariqah keluarga Abi Alawi di Hadramaut atau di negeri lainnya di dunia Islam, yang merupakan petunjuk dalam berpikir dan petunjuk bagi golongan penuntut ilmu seperti pada zaman keemasannya dahulu, bahkan menjadi sesuatu yang terbalik dalam cara berpikir dan minimnya ilmu serta amal, di mana hal itu telah masuk menempati dada sebagian pemuda, dimana tidak akan kembali kepada pribadi-pribadi yang hidup sekarang thariqah leluhurnya yang telah lewat. Banyak faktor yang menyebabkan demikian, di antaranya prilaku para salaf mereka tidak lagi mendapat perhatian anak keturunannya melalui madrasah-madrasah dan manhaj-manhaj di zamannya, begitu pula mereka tidak akan mengembalikannya sebagai suatu keinginan yang tersusun demi kepentingan untuk menolak kekuatan kejahatan di dalam kehidupan manusia, keduanya tidak sama dengan zaman al-Faqih, al-Saqqaf, al-Muhdhor dan al-Haddad.

Maka sejak dimulainya pertentangan antara timur dan barat sampai kepada negeri-negeri Islam dan kaum muslimin, seluruh tatanan keagamaan dan kemasyarakatan menjadi tercabik-cabik dan terpecah belah menyimpang dari aslinya yang suci bersih yang disebabkan dengan telah dikuasai hati dan pemikiran mereka oleh ambisi politik, penyimpangan itu seperti terputusnya hubungan kemasyarakatan masa lampau yang di dalamnya terdapat cara-cara pengajaran, adab dan pendidikan yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, pengajaran yang didasari oleh cara-cara pendidikan leluhur mereka di berbagai lembaga pendidikan. Para murid selalu melihat, berpikir dan beramal berdasarkan nilai-nilai yang telah dilakukan oleh ayah dan kakek mereka yang merupakan orang-orang yang soleh, dengan kecintaan mereka mengikuti dan berpegang kepada petunjuk para ayah dan kakek mereka, senang dalam mengikuti dan berpegang teguh kepada petunjuk mereka, bangga dengan apa yang telah diajarkan setelah mereka tiada, mereka tidak tertarik untuk membahas suatu yang berlawanan, di mana hal tersebut dapat ditemukan dalam tempat berkumpulnya setiap kemelut yang disebabkan oleh para pemikir dari kalangan ulama, pemimpin dan pendidik, bahkan para hukama’ terdahulu yang telah melakukan kezaliman yang merupakan kebiasaan dalam menjalankan hukum-hukum mereka. Padahal mereka mengetahui bahwa agama dan ajarannya tidak akan berdiri kokoh kecuali dengan ahlinya, dan Bani Alawi tidak pernah meninggalkan untuk mereka dari masalah-masalah hukum walaupun hanya sekedar nasehat, dan kita telah mengetahui bahwa Bani Alawi selalu mewariskan kepada generasi selanjutnya ilmu, adab dan pendidikan. Sehingga masyarakat menerima mereka dan da’wah mereka ke jalan Allah swt tanpa disertai dengan persaingan dan perdebatan.

Inilah yang terjadi pada masa terdahulu, tetapi pada masa terakhir ini di Hadramaut telah terjadi perubahan prilaku, sebagaimana terjadi di negeri-negeri lainnya, yang disebabkan oleh pengaruh-pengaruh barat yang masuk ke madrasah-madrasah zaman ini. Pengaruh ini masuk juga kepada golongan Bani Alawi baik melalui pribadi, pengikut dan pencinta mereka, sebagai contoh adalah adanya pengumuman dan kebijakan pemerintah, keinginan untuk bekerja di perkantoran dan sektor perdagangan, di mana hal tersebut sedikit-demi sedikit membentuk prilaku sekelompok Bani Alawi yang secara tidak sadar telah meninggalkan prilaku salaf. Hal itu terjadi sejak pemerintahan Barat mulai mencampuri urusan dalam negeri negara-negara Islam, termasuk Yaman dan Hadramaut, dengan dalih ketergantungan politik, ekonomi dan masalah sosial, mereka mengikuti prilaku barat dari mulai kepala sampai kaki, sebagaimana ratusan bahkan ribuan Bani Alawi berpindah dari negerinya ke beberapa negeri yang jauh, dimana mereka disibukkan oleh urusan duniawi dan perhatian kepada urusan perdagangan, yang pada akhirnya berakibat banyak dari mereka yang tidak lagi berkhidmat untuk mengikuti jalan para salafnya, mereka tidak lagi berusaha untuk menyebarluaskan dan menjaga manhaj salafnya.

Dalam masalah ini, beberapa tokoh masyarakat dari Bani Alawi telah memberi peringatan atas pengingkaran beberapa Bani Alawi terhadap nasehat-nasehat untuk tidak bepergian meninggalkan Hadramaut, dimana peringatan itu juga berlaku untuk anak cucu mereka. Melihat prilaku beberapa Bani Alawi yang terjadi, Al-Allamah Abdullah bin Abubakar Aidid mempunyai pandangan berdasarkan penyelidikannya atas sebab-sebab generasi Bani Alawi dan lainnya bepergian ke Indonesia adalah disebabkan masalah rizki, sebagaimana perkataannya :

Dan dari kebiasaan manusia ialah lupa
Akan tanah air, anak-anak dan keluarga
Kecintaannya yang hanya diberikan kepada pasangannya
Tetapi lupa untuk diberikan kepada (kampung halaman)
yang mendidiknya dari kecil

Bait-bait syair tersebut hanya merupakan contoh keadaan bagi mereka yang meninggalkan tanah airnya dan tidak menjaga manhaj para salafnya yang mulia. Sudah menjadi suatu kelaziman hidup dan karena beberapa alasan orang-orang saleh berpergian dari negeri mereka, tetapi mereka tetap berda’wah dan membawa manhaj yang mereka warisi dari kakek dan salaf mereka dan mereka tidak menjualnya dengan harga murah, bahkan menjadikannya sebagai syiar dan petunjuk di mana saja mereka berada di belahan bumi ini. Sebagaimana syair mengatakan :

Setiap mereka datang, tempat itu menjadi hidup kembali

Sebagaimana perumpamaan hujan yang menyirami bumi

Mereka merupakan pelita dunia Islam dengan dasar manhaj alquran dan sunnah yang berjalan di atas thariqah Saadah Bani Alawi tanpa sedikitpun mengganti dan merubah thariqah tersebut, dan mereka masih banyak terdapat di dunia ini.


Kategori

%d blogger menyukai ini: