Oleh: benmashoor | 26 Juli 2008

Imam al-Muhajir & Ahlu Sunnah

Selama perjalanan al-Imam al-Muhajir di Hadramaut meletakkan dasar-dasar manhaj yang memberikan keseimbangan antara kekuatan pergulatan pemikiran dengan kemampuannya berhujjah serta memberi keterangan untuk meredam suara-suara ahli bid’ah yang mengikuti hawa nafsu, selanjutnya bagian ini akan membicarakan kejelasan tentang buku-buku sejarah yang membahas tentang kokoh dan tersebarnya manhaj sunni melalui usaha para pemimpin ahlul bait nabi saw.

Ketika al-Muhajir datang ke Hadramaut, di sana telah terdapat banyak aliran-aliran keagamaan dan para ahlinya yang saling mengeluarkan pendapat di antara sesamanya. Mereka ikut serta dalam perang dan perselisihan pemikiran antara keluarga-keluarga suku quraisy, akan tetapi semuanya berjalan untuk menghidupkan ajaran Islam berdasarkan manhaj ahlu sunnah.

Saat itu di Hadramaut telah terdapat beberapa ulama besar ahlu sunnah seperti Syaikh Yahya bin Abdul Adzim dari keluarga Abi Hatim, dan Syaikh Mu’ammar Ahmad al-Hasib al-Alim al-Syahir, dan ulama – ulama dari keluarga al-Khotib, keluarga Abi Fadhol dan yang lainnya.

Pertama kali madzhab yang masuk di Hadramaut adalah madzhab Hanafi dan Syafii, ini berdasarkan pendapat yang mengatakan bahwa : “Sesungguhnya di Hajrain telah terdapat dua orang mufti, mufti dari madzhab Hanafi dan mufti dari madzhab Syafii. Dan ini melahirkan berbagai pendapat yang menyatakan bahwa kebiasaan sebagian besar masyarakat di sana mengerjakan sesuatu berdasarkan manhaj ahlu sunnah.”

Sayid al-Syatri dalam kitabnya al-Adwar halaman 153, menulis :

Di sana telah ada golongan sunni, dan tidak pernah didengar adanya golongan lain seperti Syi’ah, jika memang benar mereka berada di sana. Di sana terdapat juga sedikit dari golongan Ibadhiah. Dan golongan sunni di sana terdiri dari para ulama besar dan pemimpin yang terkenal.”[1]

Dengan usahanya, al-Muhajir telah memperoleh hasil dengan menyebarkan paham ahlu sunnah di salah satu tangannya dan memberi gambaran tentang manhaj ahlul bait ke depan di tangannya yang lain, dan menjadikan mereka sebagai suatu kaum yang baru di Hadramaut.

Berkata al-Syatri dalam kitabnya al-Adwar mengenai kaum Ibadhiyah dan al-Muhajir :

Sesungguhnya al-Muhajir bersama kaum Ibadhiyah beramal dengan berdasarkan thariqah yang lurus, maka menyebarlah di Hadramaut madzhab sunni melalui anak-anaknya, para pengikutnya dan orang-orang yang datang kemudian.”[2]

Benar atau tidaknya keberadaan madzhab al-Imam al-Syafii pada zaman itu[3], sesungguhnya telah terjawab dengan usaha al-Muhajir membangun madrasah yang dipersiapkan untuk menumbuhkan dan menyebarkan madzhab al-Imam al-Syafii dalam masalah fiqih dan madzhab al-asy’ari dalam ilmu-ilmu aqidah. Dalam kitabnya al-Adwar halaman 161, al-Syatri menulis :

Al-Muhajir dengan kemampuan ilmu dan keberaniannya mampu menyebarkan madzhab al-Syafii al-Sunni di Hadramaut sehingga akhirnya setahap demi setahap dapat menempati tempat madzhab Ibadhiyah sesuai dengan proses perkembangan madzhab. Dengan keutamaan al-Muhajir dan murid-muridnya dari kalangan ahlu sunnah maka berubahlah tanah Hadramaut menjadi negeri al-Syafii al-Sunni. Dan sebelum berakhirnya kurun ke tujuh, madzhab Ibadhy telah lenyap sama sekali dari Hadramaut dan merata madzhab sunni di sana.”

Setelah itu cucu beliau al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Mirbath meneruskan perjuangan kakeknya dalam menyebarluaskan madzhab Syafii. Menurut pandangan Sayid Muhammad bin Ahmad al-Syatri :

“Sesungguhnya madzhab ahlu sunnah tidak berbeda dengan aqidah para pemimpin keluarga Nabi saw, hal ini menguatkan pendapat yang lalu bahwa sesungguhnya para pemimpin keluarga Nabi saw dimana saja ia berada, dan apa saja madzhab yang dianutnya dalam Islam terkumpul atasnya imamah seperti martabat dan maqam ijtihadi.” [4]

Selanjutnya berkata al-Syatri : “Jika demikian tidak ada pertentangan antara pemimpin ahlul bait yang terdahulu dengan aqidah ahlu sunnah seperti yang dijelaskan dalam kitab yang terpercaya, kecuali dalam masalah-masalah tertentu. Dalam syair-syair Imam Syafi’i di dapati bahwa beliau adalah seorang yang mempunyai paham cinta yang lurus kepada ahlul bait, dan hal tersebut tidak mengeluarkannya dari paham ahlu sunnah, hal ini menjelaskan bahwa Imam Ahmad al-Muhajir bermadzhab Syafi’i sebagaimana ia melihat madzhab ayah dan kakeknya.”[5] Mengenai kesunnian al-Muhajir, al-Syatri berkata :

“Beberapa ahli sejarah zaman ini telah memberitahu saya bahwa al-Muhajir bermadzhab Imamiyah, akan tetapi semua rujukan tentang hal tersebut tidak mendukung dan tidak memberi kekuatan terhadap dasar rujukan tersebut. Apalagi disebutkan bahwa Ubaidillah bin al-Muhajir berguru kepada seorang tokoh ahlu sunnah yang bernama Abu Thalib al-Makki. Hal ini menghapus pendapat awal yang menyatakan bahwa al-Muhajir bermadzhab Imamiyah.”

Faidah yang didapat dari penjelasan ini cukup menjadi rujukan bahwa anak keturunan al-Muhajir yang tinggal di Wadi Hadramaut telah sepakat menyebarkan madzhab ahlu sunnah dengan cara belajar maupun mengajarkannya kepada pihak lain, ini dapat disaksikan melalui kitab-kitab, murid-murid, dan sumber-sumber lain yang mulia hingga hari ini.


[1] Dari keturunan al-Muhajir di antaranya al-Imam Muhammad Shahib Mirbath (wafat th.556 H), al-Imam Salim bin Basri (wafat th.604 H), dan ulama lainnya seperti Syaikh Salim bin Fadhol Bafadhol (wafat th. 581 H).

[2]Dalam tulisan beberapa ulama Hadramaut isinya membahas masalah tersebut, di antaranya Sayid al-Allamah Abdullah Bilfaqih dengan risalahnya berjudul Bahtsu fi al-Tarikh al-Muashir li al-Hayat al-Tsaqafiyah fi Ashri al-Imam al-Muhajir dan risalah Sayid al-Allamah Alwi bin Thahir dengan judul Jana Samarikh.

[3] Hal itu berdasarkan pendapat yang berkata bahwa sesungguhnya madzhab Syafii telah ada sebelum kedatangan al-Muhajir.

[4] Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas pernah ditanya berkenaan dengan do’a Imam Ali Zainal Abidin : Ya Allah kuatkanlah agama-Mu setiap saat dengan keberadaan Imam yang telah Engkau angkat untuk beribadah kepada-Mu. Maka al-Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas menjawab : Yang dimaksud dengan Imam pada kalimat doa tersebut adalah Imamah ahlul bait, yang telah diisyaratkan kepadanya dengan perkataan Imam al-Haddad : “Imam adalah dari kami, hingga tiba waktunya kiamat, keluarlah dia.” Hal tersebut merupakan martabat kepemimpinan khusus yang diwariskan kepada ahlul bait hingga munculnya al-Mahdi. Dan ketika Imam al-Haddad berada di Makkah dan ditanya tentang madzhabnya beliau memberi isyarat kepada ijtihad.

[5] Berkata Al-Allamah Abubakar Bin Syahab dalam kitabnya Rasfah al-Shadi Min Bahri Fadhail Bani al-Nabi al-Hadi hal 106 :

Syaikh Abdul Wahab al-Sya’rani di awal maqalahnya mengenai kefanatikan pribadi terhadap leluhurnya yang biasa terjadi pada manusia, beliau berkata : Di antara golongan sunni yang mulia, yang telah dinukil pada maqalah ini dan lainnya, baik dalam bentuk syair maupun sanjungan, kapan dan dimanapun mereka, sejarah telah berkata dan menjelaskan bahwa mereka kaum sunni yang mulia dan pemimpin ummat Muhammad mereka adalah ahlul bait yang suci, mulia dan terhormat. Mereka pemimpin yang membawa petunjuk melalui cahaya mereka di setiap zaman, dan jejak mereka merupakan pedoman di setiap waktu. Sebagaimana syair yang ditulis oleh al-Kumait al-Asaddi : ‘Dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengoreksi pintu kesalahan manusia, seakan mereka berfungsi seperti kaidah-kaidah agama Islam‘ Bagaimana mungkin suatu hukum dibuat bertentangan dengan sunnah yang masing-masing mempunyai kedudukan yang agung dan Rasulullah saw telah menjadikan keduanya sebagai hujjah. Dan kami telah mendapatkan khabar bahwa sesungguhnya berpegang kepada keduanya tidak akan tersesat, barang siapa yang mendahului atau meninggalkan keduanya akan binasa. Dan diperintahkan kepada kami untuk menimba ilmu dari mereka serta tidak mengajari mereka, bagi mereka yang bertentangan dengan mereka termasuk kepada golongan iblis. Sesungguhnya mereka tidak akan memasuki pintu kesesatan dan tidak akan keluar dari pintu hidayah, Allah swt memberikan hikmah kepada mereka. Sesungguhnya kebenaran telah ditolong dengan apa yang dijelaskan dan dikatakannya, dan jalan yang lurus yang telah ditempuhnya. Dan mengenai golongan syarif yang bukan sunni, beliau berkata : Itu merupakan suatu kebatilan yang besar. Dan banyak di antara keluarga yang disucikan ini beraqidah sunni, seperti al-Saadah al-Alawiyah al-Husainiyin di Hadramaut, Jawa dan Hindi, Syarif Bani Qatadah al-Husainiyin di Hijaz, Saadah al-Rifaiyah al-Husaiyin di Syam dan Iraq, Saadah al-Jailaniyah al-Husainiyin di Iraq dan Hindi, Saadah al-Ahdaliyah di Yaman, Saadah al-Idrisiyah di Maghrib, dan keluarga lainnya yang tersebar di seluruh dunia.

Mereka ialah para pemikir ahlu sunnah wal jamaah dan hanya sedikit dari mereka yang mempunyai pandangan tentang sahabat berdasarkan ajaran syiah, mereka berada di Yaman, Teheran, India dan Iraq. Semoga Allah memberi taufiq kepada mereka menuju kebenaran.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: