Oleh: benmashoor | 26 Juli 2008

Bin Baz dan Keturunan Rasulullah saw

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz adalah seoramh ulama besar dari kalangan madzhab Wahabi. Ia seorang mufti resmi kerajaan Saudi Arabia telah mengelaurkan fatwanya berkenaan dengan pertanyaan seorang dari Iraq seputar keturunan Rasulullah saw, sebagai berikut [1]:

Seorang dari Iraq mengajukan pertanyaan, bahwa ada sementara orang di negeri itu, terkenal dari golongan ‘Sayyid’ atau sebagai keturunan Rasulullah saw. Akan tetapi menurut keyakinan saya – demikian kata orang Iraq tersebut – mereka memperlakukan kepada orang lain dengan cara yang semestinya tidak mereka lakukan. Saya sendiri tidak tahu apakah keyakinan saya itu benar atau salah. Yang saya anggap penting ialah mereka itu memungut uang dari orang lain sebagai imbalan atas tulisan dan doa-doa yang mereka berikan untuk mengobati orang sakit… dan lain sebagainya. Mereka juga menerima sedekah, baik berupa ternak sembelihan maupun uang dan lain-lain. Dengan perbuatan seperti mereka membangkitkan keraguan orang banyak … dan seterusnya …’

Jawaban dari Mufti kerajaan Saudi Arabia, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz :

Orang-orang seperti mereka terdapat di berbagai tempat dan di berbagai negeri. Mereka terkenal juga dengan sebutan ‘Syarif’. Menurut orang-orang yang mengetahui, mereka itu berasal dari turunan ahlul bait Rasulullah saw. Di antara mereka itu ada yang silsilahnya berasal dari al-Hasan dan ada pula yang berasal dari al-Husain. Ada yang dikenal dengan sebutan ‘Sayyid’ dan ada pula yang dikenal dengan sebutan ‘Syarif’. Itu merupakan kenyataan yang diketahui di Yaman dan negeri-negeri lain.

Mereka itu sesungguhnya wajib bertaqwa kepada Allah dan harus menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan Allah bagi mereka. Semestinya mereka itu harus menjadi orang-orang yang paling menjauhi segala macam keburukan. Kemuliaan silsilah mereka wajib dihormati dan tidak boleh disalahgunakan oleh orang-orang yang bersangkutan. Jika mereka diberi sesuatu dari Bait al-Maal itu memang telah menjadi hak yang dikaruniakan Allah kepada mereka. Pemberian halal lainnya yang bukan zakat (sedekah), tidak ada salahnya jika mereka mau menerimanya. Akan tetapi jika silsilah yang mulia itu disalahgunakan, lalu orang yang bersangkutan itu beranggapan berhak mewajibkan orang lain supaya memberi ini dan itu, sungguh itu merupakan perbuatan yang tidak patut. Keturunan Rasulullah saw adalah keturunan yang termulia dan Bani Hasyim adalah yang paling afdhal (utama) di kalangan orang Arab. Karenanya tidak patut jika mereka melakukan sesuatu yang mencemarkan kemuliaan martabat mereka sendiri, baik berupa perbuatan, ucapan atau perilaku rendah …

Adapun soal menghormati mereka, mengakui keutamaan mereka dan memberikan kepada mereka apa yang sudah menjadi hak mereka, memaafkan kesalahan mereka terhadap orang lain dan tidak mempersoalkan kekeliruan mereka yang tidak menyentuh soal agama, semuanya itu adalah kebajikan. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw berulang-ulang mewanti-wanti, ‘Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai ahul baitku…! Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai ahlul baitku’. Jadi, berbuat baik terhadap mereka, memaafkan kekeliruan mereka yang bersifat pribadi, menghargai mereka sesuai dengan martabatnya dan membantu mereka pada saat-saat dibutuhkan, semuanya itu merupakan perbuatan baik dan kebajikan kepada mereka.


[1] Majalah Al-MADINAH halaman 9, Nomor 5692, tanggal 7 Muharram 1402 H/24 Oktober 1982 M.


Kategori

%d blogger menyukai ini: