Oleh: benmashoor | 25 Juli 2008

Muhammad An-Naqib

Imam Abu Abdillah, Muhammad bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far al-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib dilahirkan di kota Madinah al-Munawwarah, dibesarkan dan dididik oleh ayahnya Ali al-Uraidhi hingga ayahnya wafat. Beliau tidak pernah berpergian dan berpisah dari ayahnya kecuali setelah ayahnya wafat. Imam Muhammad bin Ali al-Uraidhi adalah seorang pemimpin yang sempurna. Para ulama sepakat atas kepemimpinannya, kewibawaannya, ilmunya, amalnya, kewara’annya, karena itulah Imam Muhammad digelari dengan al-Naqib (pemimpin)[1]. Beliau orang yang banyak beribadah, dermawan, tidak suka ketenaran.

Penindasan Alawiyin di Madinah.

Gerakan-gerakan perlawanan kaum Alawiyin membawa konsekuensi perlakuan yang tidak manusiawi dari penguasa Abbasiyah. Dampak dari gerakan itu, keluarga Alawiyin banyak menerima gangguan, cobaan dan penindasan. Di Madinah, akibat yang ditimbulkan dengan terjadinya perlawanan yang dilakukan oleh Muhammad bin Ja’far al-Shadiq, Harun al-Rasyid sebagai khalifah Abbasiyah saat itu memerintahkan panglimanya al-Jaludi untuk menghukum keluarga Abu Thalib dengan memenggal kepala pemimpin Alawiyin yang melakukan perlawanan, menjarah rumah-rumah keluarga Abu Thalib dan menjarahi wanita-wanita mereka tanpa menyisakan sepotong pakaian pun untuk mereka, hingga anting-anting dan peniti-peniti mereka sekalipun. Juga semua barang yang ada di dalam rumah, yang kecil maupun yang besar, semuanya diambil oleh pasukan Harun al-Rasyid. Begitulah situasi penindasan dan petaka yang dialami keluarga Abu Thalib pada masa itu. Kekerasan Abbasiyah terhadap keluarga Alawiyin mereda, ketika al-Ma’mun menjadi khalifah Abbasiyah pada tahun 198 hijriyah.

Pada tahun 199 hijriyah terdapat gerakan perlawanan Alawiyin kepada penguasa Abbasiyah di pimpin oleh Muhammad bin Ibrahim bin Ismail bin Ibrahim bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan Ibnu Thabathaba’. Perlawanannya terus meluas hingga di Iraq dan Kufah, di mana terdapat banyak pengikut dan simpatisannya. Setelah Ibnu Thabathaba’ meninggal perjuangannya dilanjutkan oleh Muhammad bin Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Kekuatan militer pun bertambah besar sehingga Basrah dapat dikuasai oleh tentara yang dipimpin oleh panglima Zaid bin Ja’far yang selanjutnya menjadi Gubernur kota itu. Di Baghdad, kota itu dikuasai oleh Muhammad bin Sulaiman bin Daud bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi gerakan perlawanan Alawiyin kalah di Kufah. Gerakan perlawanan Alawiyin lainnya dipimpin oleh Ibrahim bin Musa bin Ja’far al-Shadiq yang berhasil menguasai Yaman.

Masyarakat mendukung keluarga Alawiyin dan mempercayai mereka karena keutamaan-keutamaan yang mereka miliki seperti sifat wara’, berilmu, taqwa, benar dalam perkataan dan perbuatan. Tak heran bila muncul perlawanan-perlawanan kaum Alawiyin di banyak kawasan seperti Dailam, Khurasan, Ahwaz, Basrah, Kufah, Madinah, Mekkah, Afrika, Yaman dan lain-lain dari negeri negeri Islam, yang memperoleh dukungan dan bantuan rakyat

Dari Madinah ke Basrah

Imam Muhammad al-Naqib ialah kakek sayid Alawiyin Hadramaut yang pertama kali pindah dari kota Madinah ke kota Iraq dan menetap di Basrah. Kemungkinan di tahun 200 hijriyah, bersama rombongan Imam Ali al-Ridha, beliau mengadakan perjalanan ke Khurasan. Perjalanan tersebut dikarenakan undangan khalifah al-Ma’mun kepada Imam Ali al-Ridha yang akan diangkat menjadi putera mahkota. Menurut al-Isfahani, al-Ma’mun mengundang sekelompok keluarga Abi Thalib dan memerintahkan agar mereka dibawa menghadapnya dari Madinah. Al-Ma’mun memerintahkan agar mereka dikawal sepanjang jalan menuju Basrah sampai mereka tiba ke hadapannya.[2]

Sampai di Basrah, Imam Muhammad al-Naqib menetap di kota itu sedangkan Imam al-Ridha melanjutkan perjalanan ke Ahwaz, Syiraz hingga tiba di Merv, ibukota Khurasan. Kemudian al-Ma’mun mengundang Imam al-Ridha dan menyampaikan maksud itu. Imam al-Ridha, dibawah ancaman al-Ma’mun terpaksa menerima pengangkatan beliau sebagai putera mahkota. Untuk menghindari keterlibatannya dalam pelaksanaan pemerintahan, beliau menerima jabatan tersebut dengan syarat bahwa penerimaan beliau hanyalah bersifat simbolis, tanpa beliau terlibat secara nyata dalam urusan pemerintahan atau mengemban sesuatu tanggungjawab kenegaraan.

Setelah itu segera al-Ma’mun memerintahkan wazirnya al-Fadh bin Sahl mengumumkan kepada masyarakat mengenai ketetapan itu dan pandangannya terhadap Imam al-Ridha serta niatnya untuk mengangkat beliau sebagai putera mahkota yang akan menggantikannya sepeninggalannya, dan bahwa dia telah menamakan beliau dengan al-Ridha. Al-Ma’mun juga memerintahkan al-Fadh agar mengumumkakan kepada rakyat bahwa dia telah mengganti lambang Daulat Abbasiyah, yakni pakaian hitam, dengan lambang berwarna hijau. Pada kesempatan itu dia mengenakan pakaian berwarna hijau.

Keturunan Imam Muhammad al-Nagib.

Diantara keturunan Imam Muhammad al-Naqib ialah : Isa digelari dengan al-Rummi, Yahya, Hasan, Musa, Ja’far, Ibrahim, Ishaq dan Ali[3]. Imam Muhammad al-Naqib wafat pada tahun 234 Hijriyah.


[1] Naqib, kepala, pemimpin atau sesepuh. Istilah itu dalam tarikh Islam pertama kali digunakan pada peristiwa Bai’at al-Aqabah II. Jumlah peserta bai’at tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Untuk mengefektifkan tugas-tugas pembinaan, Rasulullah saw mengangkat dua belas orang pemimpin (naqib). Di antara mereka itu dengan guru utamanya Mush’ab bin Umair. Masing-masing naqib bertanggungjawab melakukan pembinaan terhadap anggota kelompoknya. Materi pembinaan adalah alquran dan akhlaq serta pembinaan sikap kesetiaan untuk membela Rasulullah saw dan ajarannya.

[2] Abu al-Faraj al-Isfahani. Maqat al-Thalibiyin, hal.375.

[3] Al-Masyhur, Op Cit, hal. 47


Kategori

%d blogger menyukai ini: