Oleh: benmashoor | 25 Juli 2008

Ali Khali’ Qasam

Imam Ali bin Alwi bin Muhammad yang dikenal dengan Khali’ Qasam lahir di Bait Jubair yang merupakan salah satu tempat yang diberkahi oleh Allah. Di sana beliau membeli sebidang tanah seharga dua puluh ribu dinar dan dinamakan Qasam. Nama tersebut merupakan nama suatu daerah kakeknya Ahmad bin Isa di Basrah. Di tanah tersebut dibangun rumah beliau yang dikelilingi dengan tanah pertanian yang subur dan daerah tersebut dinamakan Khali’ Qasam serta banyak didiami oleh para penduduk.

Imam Ali bin Alwi adalah orang pertama dari kalangan keluarga Alawiyin yang datang ke Tarim, di mana sebelumnya beliau sering mengunjungi kota tersebut. Beliau tinggal di Tarim sejak tahun 521 hijriyah bersama anak keturunan pamannya dari keluarga Basri dan keluarga Jadid. Di kota Tarim mereka mendirikan sebuah masjid yang dikenal dengan nama masjid Bani Ahmad yang terakhir dikenal dengan nama masjid Bani Alawi. Masjid tersebut dari tahun ke tahun terus diperbaharui diantaranya oleh Muhammad Shahib Marbath dan Umar Muhdhar.

Imam Ali bin Alwi dibesarkan dan dididik dalam asuhan ayahnya Imam Alwi bin Muhammad. Beliau adalah pemimpin kaum Alawiyin yang dikaruniai Allah ketajaman mata hati, hafal Alqur’an dan menguasai berbagai macam cabang ilmu, sangat dermawan, tawadhu’ dalam berbicara maupun bertindak serta berpakaian, ia tidak terlihat lebih menonjol dari yang lain. Jika beliau duduk bersama kaum khawas maupun kaum awam, orang tidak mengenali kalau beliau adalah seorang yang mempunyai kemuliaan yang tinggi, beliau melebur menjadi satu dengan dengan kumpulan jamaah tersebut.

Imam Ali bin Alwi merupakan pemimpin kaum Alawiyin pada zamannya. Beliau diberi kemuliaan dapat melihat dan berdialog langsung dengan Rasulullah saw serta meminta petunjuk ketika beliau menghadapi suatu masalah yang berat. Pada saat beliau sedang membaca : assalamu’alaika ayyuhan nabi warahmatullah wabarakatuh, maka Rasulullah menjawab salamnya : wa alaika salam ya syaikh wa rahmatullahi wabarakatuh. Hal tersebut terjadi tidak saja beliau sedang melaksanakan shalat, tapi juga dalam keadaan di luar shalat.[1]

Syaikh Abdul Wahab al-Sya’rani dalam kitabnya al-Tanbieh mengatakan, ‘Salah satu peristiwa yang dihadapi oleh suatu kaum, ketika mereka sholat di samping kubur Nabi saw dan mereka membaca shalawat nabi dalam shalatnya itu, mereka mendengar jawaban dari Nabi saw’.

Sebagian ulama bertanya, ‘Karomah apa yang diwarisi oleh kaum itu sehingga mereka dapat mendengar salam dari Nabi saw, padahal tidak satupun dari sahabat yang mendapat jawaban salam dari kubur Nabi saw setelah beliau wafat, dan saya tidak melihat satupun dari mereka yang sampai pada maqam tersebut. Sayid Ali al-Khawas berkata, ‘Tidak berhak suatu kaum mendapatkan wilayah al-Muhammadiyah, jika orang tersebut tidak berkumpul dan hadir bersama Nabi saw’.

Imam Ali bin Alwi wafat pada tahun 527 hijriyah dan dimakamkan di perkuburan Zanbal, Tarim. Beliau adalah orang pertama dari keluarga Alawiyin yang dimakamkan di di perkuburan Zanbal, Tarim, dan dan dikaruniai tiga orang anak : Abdullah dan Husin ( tidak mempunyai keturunan) serta Muhammad ( dikenal dengan Shahib Mirbath ).[2]


[1] Ahmad bin Zein al-Habsyi. Op Cit, hal. 145.

[2]Al-Masyhur. Op Cit, hal 71.


Kategori

%d blogger menyukai ini: