Oleh: benmashoor | 9 September 2010

Raja-Raja Palembang : keturunan Sunan Giri atau Sunan Ampel ?

Ketika membaca beberapa artikel tentang Raja-raja Palembang di beberapa situs, saya teringat dengan buku yang dikarang oleh Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad yang berjudul ‘Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh’. Pada halaman 67 buku itu tertulis judul  ‘ Silsilah Keturunan dari Palembang’ dan salah satu paragrafnya tertulis : ‘Dalam silsilah ini disebutkan bahwa Jamaluddin Agung mempunyai tujuh orang anak, tetapi yang disebut keturunannya adalah dari Zainal Akbar yang berketurunan raja-raja Palembang, pangeran-pangeran dan raden-raden di Palembang, juga sunan Giri dan Sunan Ampel’.[1]

Telah tersiar kabar yang mengatakan bahwa raja-raja Palembang adalah keturunan Sunan Giri. Ketika meneliti  buku yang menceritakan ‘asal-usul raja-raja Palembang’, maka didapati beberapa data yang harus dikaji kembali. Sebagai contoh adalah hanya satu kata yang ditemukan berkaitan dengan nama Sunan Giri dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan silsilah raja-raja Palembang, padahal khalayak umum terlanjur mengetahui bahwa raja-raja Palembang adalah keturunan Sunan Giri. Sebaliknya ditemukan nama Maulana Ibrahim yang mempunyai anak Sunan Ampel. Dari nama yang terakhir disebut ini diperoleh informasi  yang menunjukkan bahwa awal mula raja-raja Palembang dijabat oleh keturunan Sunan Ampel ke 10, yaitu dua bersaudara yang bernama Kiai Geding Sura dan Kiai Gedeng Ilir yang berpindah dari tanah Jawa ke  Palembang.[2]

Jika memperhatikan sejarah keturunan raja-raja Palembang ini, seharusnya mereka masuk ke dalam keturunan Sunan Ampel bukan Sunan Giri. Walaupun dalam beberapa artikel disebutkan bahwa Sunan Giri mempunyai anak bernama Kiai Gedeng Karang Tengah. Kiai Gedeng Karang Tengah mempunyai anak bernama Adipati Sumedang. Adipati Sumedang mempunyai anak bernama Tumenggung Mancanegara. Tumenggung Mancanegara mempunyai anak bernama Pangeran Seding Pasarijan. Pangeran Seding Pasarijan mempunyai anak bernama Raden Arja susuhunan Abdulrahman, dan seterusnya.

Berdasarkan sumber yang tertulis pada buku di atas,  Kiai Gedeng Karang Tengah/Panjang mempunyai anak bernama Panca Tanda. Kiai Panca Tanda mempunyai anak bernama Tumenggung Mancanegara. Tumenggung Mancanegara mempunyai anak bernama Pangeran Seding Pasarijan. Pangeran Seding Pasarijan mempunyai anak bernama Raden Arja susuhunan Abdulrahman, dan seterusnya.

Dalam sumber tersebut dibahas pula bahwa raja Palembang yang awal bernama Kiai Gedeng Sura, setelah beliau wafat digantikan oleh saudaranya Kiai Gedeng Ilir yang diberi julukan sama dengan nama saudaranya Kiai Gedeng Sura. Beliau mempunyai anak perempuan bernama Nyai Geding Pembayun. Nyai Geding Pembayun menikah dengan Tumenggung Manca Negara (cicit Sunan Giri), padahal jika diurut sampai ke atas Nyai Geding Pembayun adalah keturunan yang ke 11 dari Sunan Ampel (dari pihak anak perempuan Sunan Ampel yang bernama Nyai Gede Meloko). Pertanyaannya adalah : mungkinkan seorang wanita keturunan ke 11 dari Sunan Ampel menikah dengan seorang lelaki keturunan ke 3 dari Sunan Giri, padahal Sunan Ampel dan Sunan Giri keduanya hidup pada zaman yang sama, atau apakah Sunan Ampel hidup 8 generasi lebih dahulu dari Sunan Giri ???

Jika ditelusuri lebih lanjut, asal-usul raja-raja Palembang ini adalah keturunan dari Raden Patah. Sedangkan Raden Patah adalah anak dari Kertabumi (raja Majapahit)[3]. Raden patah diberi mandat oleh Sunan Ampel untuk memimpin kerajaan Demak. Di bawah  pimpinan Sunan Ampel Denta, para wali, yang dikenal sebagai Wali Songo bersepakat mengangkat Raden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak dengan gelar Senopati Jimbun Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama[4].

Sedangkan Sunan Giri sendiri tidak pernah bersentuhan dengan Palembang. Beliau lebih mencurahkan kegiatan dakwahya di wilayah Timur Indonesia. Beliau dipelihara oleh Nyai Gede Meloko (putri Sunan Ampel) setelah besar bersama anak Sunan Ampel lainnya yang bernama Sunan Bonang belajar ke Mekkah. Sebelum ke Mekkah keduanya mampir di Pasai . Setelah itu, keduanya langsung menuju Tanah Jawa untuk mendirikan pesantren di daerah Giri (Gresik). Menurut keterangan, Sunan Giri mempunyai anak bernama Sunan Prapen, di sisi lain dikatakan Sunan Prapen adalah cucu Sunan Giri, sedangkan anak beliau bernama Sunan Ali Kusumowiro[5]. Mungkin akan timbul pertanyaan : apakah  Sunan Ali Kusumowiro itu adalah Kiai Gedeng Karang Tengah/Panjang. Jawabannya adalah : Diperlukan kajian lebih mendalam ! karena di antara keduanya berbeda jarak waktu yang sangat lama sebagaimana telah dicontohkan di atas.

Perhatikan dan pahamilah tulisan sayid Alwi bin Thahir al-Haddad, maka akan didapatkan jawaban dari permasalahan di atas. Coba perhatikan tulisan beliau yang jelas mengatakan “ … tetapi yang disebut keturunannya adalah dari Zainal Akbar yang berketurunan raja-raja Palembang, pangeran-pangeran dan raden-raden di Palembang, juga sunan Giri dan Sunan Ampel’. Dari kalimat tersebut, sayid Alwi bin Thahir al-Haddad tidak mengatakan bahwa raja-raja atau raden-raden Palembang itu keturunan Sunan Giri, tetapi beliau mengatakan bahwa raja-raja atau raden-raden Palembang, Sunan Giri dan Sunan Ampel, semuanya keturunan dari Zainal Akbar.

Setelah membaca dan memahami tulisan di atas, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah : Raja-raja Palembang atau Raden-Raden Palembang diduga merupakan  keturunan Sunan Ampel dari pihak anak perempuan, sedangkan kakeknya dari pihak ayah adalah Raden Patah (anak raja Majapahit yang bernama Kertabumi).

Tulisan ini hanya sebagai kajian ilmiah semata, anggaplah sebagai makalah bandingan terhadap artikel/tulisan/makalah yang telah ada. Bila ada sumber-sumber yang berlainan yang lebih kuat dan sahih, maka kesimpulan ini dapat saja berubah. Mudah-mudahan hal itu dapat memperkaya dan memperluas wawasan kita tentang masalah yang sedang dibahas.

Tulisan ini hasil kajian dari manuskrip/buku yang berjudul : “Asal-Usul Raja-Raja Palembang”.


[1] Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad, Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, (Jakarta: Lentera, 1995) h. 67.

[2] Tim Penyusun, Asal-Usul Raja-Raja Palembang, (Jakarta, 2001).

[3] Hasan Djafar, Girindrawardhana, Beberapa Masalah Majapahit Akhir (Jakarta: Depdikbud, 1978) h. 96.

[4] Olthof, Poenika Serat Babad Tanah Jawi, (Gravenhage: Martinus Nijhoff) h. 30

[5] Hamid al-Husaini, Mengenal Ahli Bait Rasulillah saw, (Pustaka Nasional, 1998).


Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: