Oleh: benmashoor | 8 September 2010

Meluruskan sejarah Basyaiban

Beberapa tahun belakangan media cetak kita diramaikan oleh salah satu majalah yang bernuansa Islam. Majalah itu adalah Al-Kisah. Untuk menginformasikan sosok keturunan Rasul, majalah tersebut kemungkinan hanya satu-satunya di Indonesia. Banyak keturunan Rasul yang sudah diangkatcetak dari mulai ulama terdahulu hingga saat ini. Salah satu yang ditulis dalam majalah itu adalah kisah Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban.

Ketika membaca kisah sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban, tepatnya pada Al-Kisah no. 12/4 tanggal 17 Juni 2007, mata saya tertuju pada rangkaian kata yang menuliskan : “Sayid Abdurrahman memilih tempat tinggal di Cirebon, Jawa Barat. Beberapa waktu kemudian ia mempersunting putrid Maulana Sultan Hasanuddin. Putri bangsawan itu juga masih keturunan Rasulullah. Ia bernama syarifah Khadijah dan masih cucu Raden Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati .[1]

Dari kalimat tersebut timbul keraguan akan kebenaran tulisan itu. Selanjutnya saya mencoba mencari sumber-sumber yang berkaitan dengan hal tersebut, baik berupa buku, manuskrip, catatan silsilah, dan lainnya, tetapi apa yang saya dapatkan belum  membantu menjawab keraguan hati saya, saya tetap penasaran. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menerima ajakan guru saya untuk meninjau beberapa tempat yang ada kaitannya dengan sayid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban.

Perjalanan berawal dari Jakarta ke Magelang, Mojoagung, Bangil, Pasuruan dan Surabaya. Di Magelang saya bertemu dengan keluarga Basyaiban di Tuguran. Di Mojoagung menyempatkan berziarah ke makam sayid Sulaiman. Di Bangil, kami mengunjungi makam yang berada di belakang rumah makan Arab, yang konon katanya makam itu adalah makam syarifah Khadijah. Di Pasuruan, kami ke desa Segoro Puro dan berziarah ke makam yang bertuliskan sayid Arif. Di Surabaya, kami bertemu dengan keluarga Basyaiban Dresmo.

Setelah sampai di Jakarta, saya mulai memverifikasi data yang diperoleh. Dari data yang ada, menurut saya terdapat beberapa ketidaktepatan sejarah tentang sayid Basyaiban ini, di antaranya adalah perkawinan antara sayid Abdurrahman bin Umar bin Abdullah bin Abdurrahman bin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abubakar Basyaiban dengan putri Maulana Hasanuddin. Bagi saya ada jarak waktu yang sangat lama antara keduanya.

Berdasarkan ahli sejarah sayid Muhammad Dhiya Syahab, sayid Abdurrahman bin Umar ini datang dari Hadramaut ke Cirebon pada abad ke 18 Masehi.[2] Dan selanjutnya beliau menikah dengan Khadijah putri Maulana Hasanuddin. Akan tetapi bila kita melihat ke sejarah berkuasanya sultan-sultan Banten, maka dapat kita temui bahwa Sultan Maulana Hasanuddin berkuasa di Banten pada pertengahan abad 16, tepatnya tahun 1552 – 1570 M.[3] Dari hal tersebut kita temui ada jarak kurang lebih 1 sampai 1,5 abad. Berdasarkan hal ini, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa sayid Abdurrahman menikah dengan putri sultan Maulana Hasanuddin atau putri Sunan Gunung Jati ?

Bila dilihat dari sisi sejarah sultan-sultan Banten yang berkuasa, maka waktu berkuasanya Maulana Hasanuddin seharusnya se-zaman dengan sayid Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Abubakar Basyaiban yang wafat tahun 944 H di Tarim. Kalau kita ingin berpedoman pada kedatangan sayid Abdurrahman bin Umar Basyaiban pada abad 18 M, maka saat itu yang berkuasa  yaitu sultan Mahasin Zainal Abidin (1690) sampai Sultan Abu Nashr Muhammad Muhyidin (1801). Di antara kedua sultan itu terdapat 5 orang sultan yang bergantian sebagai penguasa Banten[4]. Ada kemungkinan sayid Abdurrahman Basyaiban menikah dengan Ratu Satijah anak dari sultan Mahasin Zainal Abidin yang berkuasa antara tahun 1690-1733 M, se- zaman dengan sayid Abdurrahman Basyaiban.

Ternyata sejarah menuliskan bahwa yang menikah dengan putri Sunan Gunung Jati adalah Abdurrahman yang dikenal dengan Pangeran Panjunan. Beliau berasal dari kerajaan Baghdad, ayahnya bernama Sulaiman. Dalam sejarah Sumedang dikatakan bahwa Pangeran Panjunan mempunyai dua istri, yaitu Ratu Petak dari Panjunan dan putrid Sunan Gunung Jati bernama Ratu Martasari. Lalu apakah sejarah ini membuktikan juga kalau Abdurrahman Basyaiban tidak pernah ke Indonesia dan beliau hanya sampai di India dan wafat di sana ???

Begitu pula dengan hal-hal lain yang membuat keraguan, di antaranya tentang  sayid Sulaiman yang menikahi anak putri Mbah Soleh Semedi. Kalau benar Mbah Soleh ini murid Sunan Ampel maka terdapat kesenjangan generasi yang sangat jauh antara putri Mbah Soleh Semedi yang hidup di pertengahan abad 15  M dengan sayid Sulaiman yang hidup pada abad 18 Masehi.

Juga keraguan saya tentang kembalinya sayid Sulaiman dari Pasuruan ke Cirebon. Menurut tulisan tersebut ketika sayid Sulaiman kembali ke Cirebon sedang terjadi kericuhan besar antara sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya sendiri, sultan haji (1681-1683). Semakin nyata ketidaktepatan sejarah perjalanan keluarga Basyaiban ini, bayangkan saja sayid Sulaiman yang hidup pada pertengahan abad 18 masehi hidup se-zaman dengan sultan Ageng Tirtayasa yang berkuasa di pada pertengahan abad 17 Masehi.

Wallahu a’alam bi shawwab.


[1] Al-Kisah no. 12/4 tanggal 17 Juni 2007 halaman 148.

[2] Syamsu al-Dzahirah, Jilid II halaman 447.


Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: