Oleh: benmashoor | 14 Agustus 2008

Jamiat Kheir Dan Nahdhatul Ulama

Salah satu masalah yang menggemparkan komunitas muslim di Indonesia adalah jatuhnya kekhalifahan Turki sesudah perang dunia dan masuknya Ibnu Suud menguasai kota Mekkah dan mengubah kebiasaan yang berjalan dalam bidang ibadah. Agar kebiasaan ibadah yang sudah berjalan tetap dilaksanakan, maka KH. Wahab Hasbullah membentuk suatu panitia khusus yang disebut ‘Komite Hijaz’. Komite Hijaz inilah yang menjadi pokok pangkal berdirinya perkumpulan Nahdhatul Ulama. Organisasi ini didirikan di Surabaya tanggal 31 Januari 1926 dengan tokoh utama antara lain KH. Hasyim Asy’ari, dengan tujuan berpegang pada salah satu dari empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali) dan melaksanakan berbagai program dan kegiatan yang bermanfaat bagi agama dan umat Islam.

Tiga tahun kemudian utusan perkumpulan ini bertolak menuju Mekkah untuk membicarakan persoalan yang berhubungan dengan ibadat dan pengajaran agama menurut madzhab Syafii. Pada saat itu, Raja Ibnu Suud menjanjikan tidak akan bertindak terlalu keras dan memahami keinginan Nahdhatul Ulama ini.

Perkumpulan Nahdhatul Ulama menekankan keterikatannya pada madzhab Syafii dan memutuskan untuk berusaha sungguh-sungguh guna menjaga langsungnya kebiasaan bermadzhab di Mekkah dan di Indonesia. Sebaliknya dikatakan bahwa tidak terkandung maksud apapun untuk menghalangi mereka yang tidak mau mengikuti madzhab Syafii.

Diantara permintaan Nahdhatul Ulama kepada Raja Suud adalah tidak melarang kepada siapapun orang yang menjalankan madzhab Syafii dan melarang atau sehingga menyiksa siapa yang mengganggu atau menghalang-halangi atau menghina perjalanan madzhab Syafii. Jawaban dari Raja Suud mengatakan bahwa kaum muslimin bebas dalam menjalankan praktek agama dan keyakinan mereka kecuali urusan yang Allah mengharamkan dan tidak terdapat suatu dalil dari alquran, hadits dan pendapat dari salah satu empat imam madzhab.

Hubungan golongan alawi yang tergabung dalam Jamiat Kheir dengan Nahdhatul Ulama telah terjalin sejak awal berdirinya perkumpulan ini. Mereka telah lebih dulu berkiprah dalam gerakan Nahdhatul Ulama, misalnya dengan mendirikan cabang-cabangnya. Mereka banyak berperan dalam pendirian Nahdhatul Ulama. Salah satu yang banyak memberikan tenaga dan pikirannya dalam pendirian Nahdhatul Ulama ialah Idrus Bin Umar al-Masyhur.[1] Beliau aktif dalam berbagai pertemuan-pertemuan untuk mendirikan perkumpulan ini. Idrus Bin Umar al-Masyhur adalah seorang ahli bahasa dan sastra Arab. Keahliannya dalam bidang tersebut ia manfaatkan untuk menerbitkan surat kabar harian berbahasa Arab dengan nama “Hadramaut” yang berisi tentang sejarah, budaya dan politik. Koran ini dipuji oleh Amir Syakib Arsalan, seorang sastrawan, pengarang, dan sejarawan terkenal Timur Tengah, akan keindahan tata bahasa Arabnya. Menurut Amir Syakib, Koran ‘Hadramaut‘ memiliki bahasa Arab paling baik di dunia, selain di negara-negara Arab.

Golongan alawi dan Nahdhatul Ulama bersama-sama berjuang dalam mempertahankan madzhab Syafii di Indonesia. Dalam perkara khilafiyah seperti gelar sayid, kafa’ah, tahlil, qunut, keduanya saling membantu untuk mempertahankannya dari gerakan faham wahabi. Terhadap masalah kafaah misalnya, KH. Hasyim Asy’ari pernah memberikan fatwa yang mendukung perkara kafaah dalam perkawinan antara sayid dan golongan bukan sayid. Sebaliknya ulama-ulama perkumpulan ini banyak melaksanakan amalan yang berasal dari Hadramaut seperti pembacaan ratib al-Haddad, pembacaan maulid Nabi saw dan lainnya.

Diantara pengurus Nahdhatul Ulama yang aktif memelihara hubungan silaturahmi antara golongan alawi dan Nahdhatul Ulama ialah Abdullah Ubeid. Beliau merupakan salah satu lulusan madrasah al-Khairiyah Surabaya, salah satu guru beliau ialah Ahmad Bin Abdullah al-Saqqaf yang kemudian hari menjadi kepala madrasah di Jamiat Kheir Jakarta. Abdullah Ubeid berjasa dalam mempererat tali silaturahmi antara perkumpulan pemuda Nahdhatul Ulama yang bernama Da’watus Syubban dengan ‘Pemuda al-Khairiyah‘ berdasarkan hubungan organisasi. Sebelumnya hubungan yang terjadi hanya sebatas urusan dagang atau bersifat pribadi bukan secara pertalian organisasi. Da’watus Syubban kerap kali menggunakan gedung al-Khairiyah dalam mendorong para pemuda untuk menuntut ilmu yang diadakan pada malam hari. Pertemuan antara kedua perkumpulan ini membawa kesan baik dan menumbuhkan rasa bahwa kedua golongan yang bersatu ini praktis mulai bersaudara dalam arti kata yang luas. Di Jakarta, seperti pernah diungkapkan oleh tokoh Nahdhatul Ulama yang juga mantan Menteri Agama, KH. Muhammad Dahlan, kediaman Abdullah bin Alwi Alatas yang kini jadi Museum Tekstil di daerah Jati Petamburan pernah digunakan untuk muktamar perkumpulan Nahdhatul Ulama.[2]


[1] H. Abubakar, Ibid, hal. 226.

[2] Alwi Shahab, Saudagar Baghdad dari Betawi, hal. 5.


Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: