Oleh: benmashoor | 1 Agustus 2008

Penyebaran Islam di Nusantara

Pemusnahan peran Arab, khususnya kaum sayid Alawiyin dalam penyebaran Islam di Indonesia merupakan agenda utama pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dengan berbagai cara mereka mencoba untuk menghilangkan peran sayid Alawiyin membumikan Islam di Nusantara. Anehnya beberapa sejarawan Indonesia ikut terpengaruh dengan isu tersebut dengan tulisannya yang terdapat dalam buku-buku sejarah yang beredar di kalangan umum maupun pelajar. Mereka menyatakan bahwa Islam yang datang ke Nusantara dibawa oleh pedagang Gujarat, bukan berasal dari tanah Arab atau Timur Tengah. Nilai kesahihan pernyataan tersebut patut dipertanyakan, karena terdapat dua teori dalam penyebaran Islam di Indonesia, pertama tentang datangnya Islam di Nusantara menyatakan bahwa Islam dibawa ke Nusantara oleh para pedagang yang berasal dari Arab/Timur Tengah. Teori ini dikenal sebagai teori Arab, dan dipegang oleh Crawfurd, Niemann, de Holander.[1] Kedua adalah teori Gujarat. Teori ini menyatakan bahwa Islam yang datang ke Nusantara berasal dari Gujarat, India. Pelopor mazhab ini adalah Pijnapel yang kemudian diteliti lebih lanjut oleh Snouck Hurgronje.

Menurut Snouck Hurgronje, begitu Islam berpijak kokoh di beberapa kota pelabuhan anak benua India, maka muslim India membawanya ke Indonesia sebagai penyebar Islam pertama. Untuk menguatkan teori ini beberapa sejarawan juga menyebutkan adanya kebiasaan pengiriman batu nisan dari Gujarat, sehingga mereka mengatakan bahwa Islam pun juga didatangkan dari Gujarat.

Teori Gujarat, sejak tahun 1958 mendapatkan koreksi dan kritik dari Hamka yang melahirkan teori baru yakni teori Mekkah.[2] Koreksi tersebut dikuatkan dalam sanggahannya dalam Seminar Sejarah Masuknya Agama Islam ke Indonesia, di Medan tahun 1963, Hamka menolak pandangan yang menyatakan bahwa agama Islam masuk ke Nusantara pada abad ke 13 berasal dari Gujarat.

Muhammad Dhiya’ Syahab dan Abdullah bin Nuh mengatakan bahwa banyak buku-buku sejarah dari Barat dan orang-orang yang mengikutinya yang mengira bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke tiga belas masehi, tetapi saya berkeyakinan bahwa masuknya Islam ke Asia Tenggara jauh sebelum masa yang diduga oleh orang-orang asing itu dan para pengikut mereka.[3]

Mufti Johor, Alwi bin Tohir al-Haddad mengatakan bahwa pendapat-pendapat para sejarawan tentang masuknya Islam ke Asia tenggara adalah tidak tepat. Terutama pendapat sejarawan Eropa yang menetapkan masuknya Islam ke Jawa pada tahun 800-1300 hijriyah, di Sumatera dan Malaysia pada abad ke tujuh hijriyah. Kenyataan yang benar bertentangan dengan apa yang mereka katakan. Karena sesungguhnya Islam telah mempunyai raja-raja di Sumatera pada abad ke enam bahkan ke lima hijriyah.[4]

Hamka lebih mendasarkan pandangannya pada peranan bangsa Arab sebagai pembawa agama Islam ke Indonesia. Gujarat dinyatakan sebagai tempat singgah semata, dan Mekkah sebagai pusat, atau Mesir sebagai tempat pengambilan ajaran Islam. Hal itu sesuai pula dengan pendapat Keijzer yang memandang Islam di Nusantara berasal dari Mesir atas dasar pertimbangan kesamaan kepemelukan penduduk muslim di kedua wilayah kepada madzhab Syafii. Teori Arab juga dikemukakan oleh Niemann dan de Holander, keduanya mengatakan bukan Mesir sebagai sumber Islam di Nusantara, melainkan Hadramaut.[5]

Hubungan pertama bangsa Arab dengan bangsa Indonesia terjadi pada sekitar abad keempat masehi. Sejak saat itu dimulailah hijrah Arab Hadramaut ke Gujarat di pesisir pantai India Barat. Di sana mereka membangun perkampungan yang oleh orang India dinamakan perkampungan ‘Arabito‘, dan ada diantaranya yang melanjutkan perjalanannya ke Indonesia dan menetap di daerah pantai Sumatera.[6] Hubungan Arab dengan India melalui jalan laut dimulai sejak awal tahun masehi, atau lebih tepatnya sebelum runtuhnya Himyar di Yaman. Hubungan ini merupakan hubungan pertama bangsa Arab dengan Timur Jauh pada umumnya dan dengan Indonesia pada khususnya, karena para pedagang Arab itu menggunakan India sebagai terminal pertama yang menyampaikan mereka ke Sarandib, kemudian dari sana mereka melanjutkan perjalanannya ke Indonesia.

Gustave Le Bon dalam bukunya La Civilisation des Arabs, menceritakan tentang perjalanan bangsa Arab ke daerah-daerah lain, ia berkata bahwa bangsa Arab dahulu adalah kaum pelancong terkemuka. Mereka tidak gentar dengan jauhnya jarak yang akan mereka tempuh. Selanjutnya ia berkata, kita belum pernah melihat dalam sejarah ada satu bangsa yang mempunyai pengaruh yang nyata seperti bangsa Arab. Kebudayaan Arab diterima, walaupun dalam beberapa waktu saja, oleh semua bangsa yang berhubungan dagang dengan mereka. Setelah bangsa Arab lenyap dari panggung sejarah, maka bangsa-bangsa yang menaklukkan mereka, seperti bangsa Turki dan Mongol dan lainnya, mengambil adat istiadat mereka dan menyebarkan pengaruh mereka di dunia.[7]

Kedatangan para syarif Hadramaut ke India dan dari sana ke Asia tenggara, merupakan sebab dari ketidakpahaman sebagian besar sejarawan khususnya sejarawan Eropa. Kesalahan mereka adalah bahwa mereka menganggap para da’i yang datang kea Asia Tenggara adalah dari India. Muhammad bin Abdurrahman Syahab ketika memberikan catatan atas kitab Hadhir al-Alam al-Islami karya Amir Syakib Arsalan, mengatakan bahwa dari segi ini para sejarawan Eropa menerangkan secara serampangan tentang pada da’i yang di tangan mereka orang-orang Jawa masuk Islam. Satu ketika mereka mengatakan bahwa para da’i ini berasal dari Gujarat. Sedangkan pada kesempatan lain mereka mengatakan bahwa para da’i ini adalah orang-orang Parsi. Dalam masalah ini mereka hanya berputar-putar dan tidak lepas dari kebodohan.[8]

Majlis musyawarah ulama tentang masuknya Islam ke Indonesia di Pasuruan Jawa Timur, dalam pertemuan ketiga pada 8 Dzulhijjah 1382 hijriyah bertepatan dengan 20 April 1962 yang dihadiri sekitar 165 ulama setelah mendengarkan, membahas, dan mencari bukti-bukti tentang hal tersebut di atas memutuskan bahwa yang pertama memasukkan Islam ke Indonesia adalah para syarif Alawiyin dari Hadramaut yang bermadzhab Syafii.[9]

Sejarawan Hadramaut Sholah al-Bakri dalam kitabnya Tarikh Hadramaut tahun 1936 mengatakan tidak diragukan lagi bahwa hijrahnya orang Arab Hadramaut ke Jawa dan ke pulau-pulau sekitarnya adalah hijrah terbesar dalam sejarah mereka. Mereka memasuki Timur jauh pada masa lautan penuh dengan bahaya. Lalu mereka turun di pulau-pulau yang subur itu. Di antara hasil terbesar hijrah ini adalah lenyapnya agama Budha dan tegaknya agama Islam.

Dalam surat kabar Samarat al-Funun tertanggal 10 Sya’ban 1315 tertulis, syarif-syarif ini adalah ulama, dan mereka mengantarkan penduduk kawasan ini kepada agama Muhammad yang mulia. Sementara itu, agama ini sudah mantap, kecuali di kalangan beberapa suku kecil di pulau Bali dan beberapa daerah pegunungan di Sumatra dan Borneo.

Kesimpulan seminar tentang masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia yang dihadiri oleh jumlah besar budayawan dan sejarawan Indonesia, diantaranya memutuskan bahwa Islam untuk pertama kali masuk ke Indonesia pada abad pertama hijrah dan langsung dari Arab, daerah pertama yang didatangi agama Islam adalah pesisisr Sumatera.[10] Menurut catatan sejarawan Cina, bangsa Arab sudah mendarat di pesisir pantai Sumatera sebelum lahirnya Islam. Dari hasil-hasil barang galian yang dilakukan oleh Departemen pendidikan dan Kebudayaan Indonesia telah ditemukan tiga ribu tulisan pada batu dan logam yang ditulis dalam bahasa Arab. Sebagian diukir dengan huruf Himyar, dan sebagian lainnya ditulis dalam bentuk syair Arab pada batu-batu nisan dan lain-lain dan dengan mencantumkan tahun hijrahnya pula.

Kini banyak sudah dilakukan penelitian intensif oleh beberapa sejarawan Indonesia. Hasil penelitian itu menyatakan adanya para pedagang Arab di Sumatera Utara atau lebih tepatnya di Aceh, sebelum lahirnya Islam sehingga penelitian ini menamakannya sebagai ‘Wajah Arab di Indonesia’. Bangsa Arab mempunyai pengaruh kuat dalam kebudayaan Indonesia yang memantul juga dalam sastra dan bahasanya sehingga sebelum penjajahan Belanda memasukkan huruf latin sebagian besar bahasa di Indonesia menggunakan huruf Arab. Kata-kata bahasa Arab hingga kini banyak yang diterima sebagai resmi Indonesia. Sudah tentu pengaruh Arab itu terutama dalam bidang kebudayaan terlihat makin kuat sesudah masuknya Islam ke seluruh kepulauan ini karena bahasa itu merupakan bahasa alquran dan lidahnya Islam.


[1] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah Dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, hal. 27.

[2] Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, hal. 82.

[3] Muhammad Dhiya’ Syahab & Abdullah Bin Nuh, Al-Imam al-Muhajir Ahmad Bin Isa, hal. 169.

[4] Muhammad Hasan Alaydrus, op cit, hal. 44.

[5] Azyumardi Azra, loc cit, hal. 27.

[6] Adil Muhyiddin Al-Alusi, Arab Islam Di Indonesia Dan India, hal. 11.

[7] Alwi Bin Thahir Al-Haddad, Sejarah Masuknya Islam di Timur Jauh, hal. 31.

[8] Muhammad Hasan Alaydrus, op cit, hal. 35.

[9] Muhammad Hasan Alaydrus, op cit, hal. 55.

[10] Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, hal. 265.


Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: