Oleh: benmashoor | 25 Juli 2008

Muhammad Shohib Mirbath

Yang pertama kali dijuluki Shahib Mirbath adalah Imam Muhammad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir. Diberi gelar Shahib Mirbath, karena beliau bermukim di suatu tempat yang disebut Mirbath di Dhafar setelah pindah dari Tarim. Sedangkan kata Shahib yang sinonimnya kata Maula berarti seseorang yang bermukim atau berkuasa di suatu tempat.

Imam Muhammad Shahib Mirbath dilahirkan di kota Tarim. Ibunya ialah syarifah Fathimah binti Muhammad bin Ali bin Jadid bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir. Dikaruniai 4 orang anak laki-laki. Masing-masing bernama Abdullah, Ahmad, Alwi dan Ali. Dan yang hanya memberikan keturunan selanjutnya hanya Alwi dan Ali.

Kepribadian dan murid-muridnya.

Sebagaimana disebut oleh penulis buku al-Masyra’ al-Rawi, Sayyid Muhammad bin Ali adalah Syaikh Masyayikhil Islam (guru besar luar biasa ilmu agama Islam) dan ‘Ilmul-‘Ulama al-A’lam (Ilmunya kaum ulama kenamaan). Selanjutnya penulis buku tersebut mengatakan, ‘Seorang ulama ahli syariat dan thariqat dan guru besar terkemuka bagi kaum penghayat ilmu hakikat, ahli fiqih dan mufti negeri Yaman, seorang penasihat berbagai cabang ilmu dan pengetahuan agama di negeri itu …’. Beliau dikaruniai 4 orang anak laki-laki. Masing-masing bernama Abdullah, Ahmad, Alwi dan Ali. Abdullah dan Ahmad tidak menurunkan keturunan beliau. Ali adalah ayah dari al-Ustadz al-A’zham al-Faqih al-Muqaddam dan Alwi terkenal dengan sebutan Ammul al-Faqih al-Muqaddam. Dua orang itulah yang menjadi pangkal keturunan semua Sayyid kaum Alawiyin.

Imam Muhammad bin Ali belajar kepada ayahnya dan beberapa ulama besar di Hadramaut, Yaman, Mekkah, Madinah. Beliau juga hafal Alqur’an, alim, banyak beribadah, mengerjakan amal kebajikan, berkhidmat untuk lingkungannya dan menguasai berrbagai cabang ilmu.

Beliau banyak mencetak ulama, diantaranya Syaikh Saad bin Ali al-Zhufari, Syaikh Ali bin Abdullah al-Zhufari, Syaikh Salim Bafadhol, Syaikh Ali bin Ahmad Bamarwan, al-Qodhi Ahmad bin Muhammad Ba’isa, Syaikh Ali bin Muhammad al-Khatib, Syaikh Muhammad bin Ali Taj al-Arifin, keempat anak beliau dan lainnya.

Dari Tarim ke Zhufar.

Imam Muhammad bin Ali tinggal di Tarim dan sering bepergian ke beberapa daerah. Beliau seorang yang dermawan, mempunyai rasa kasih sayang kepada sesama dan peduli terhadap lingkungannya, sampai-sampai beliau menginfaqkan rumahnya yang berjumlah tujuh puluh rumah.

Dari Tarim beliau pindah ke Zhufar. Kepindahannya ke Zhufar kemungkinan disebabkan karena sampainya berita tentang kaum Khawarij di Gaza yang dipimpin oleh Usman bin Ali al-Zanji al-Takriti yang haus akan darah dan membunuh para ulama dan fuqaha. Di antara ulama Tarim yang dibunuh adalah dua bersaudara bernama : Ahmad dan Yahya Ibnu Salim bin Abi Akdar. Terbunuhnya mereka karena keduanya menganut paham Ahlu Sunnah Waljamaah.

Zhufar adalah daerah yang terletak di sebelah Timur Hadramaut, yaitu Zhufar lama. Dan terdapat pula Zhufar Habuzhi dimana nama kota tersebut dinisbahkan kepada Ahmad bin Muhammad al-Habuzhi yang mendiami Zhufar baru. Di Yaman selain Zhufar tersebut terdapat pula Zhufar yang lain yaitu Zhufar San’a dan Zhufar Asrof akan tetapi yang lebih dikenal adalah Zhufar Habuzhi.

Sesudah segala bencana dan kezaliman berlalu dari Hadramaut, maka keluarga Alawiyin menguasai negeri tersebut dan berubahlah negeri itu menjadi negeri yang aman. Setelah itu banyak keluarga Alawiyin yang bepergian keluar Hadramaut di antaranya ke Sawahil, Afrika Timur, Jawa, India dan negeri lainnya. Imam Muhammad Shahib Mirbath wafat di Mirbath pada tahun 556 hijriah.


Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: