Oleh: benmashoor | 25 Juli 2008

Muhammad al-Faqih al-Muqaddam

Nasabnya.

Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali bin Alwi Khlai’ Qasam bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin al-Imam Ahmad al-Muhajir bin Isa al-Naqib bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Imam Ali bin Abi Thalib.

Gelar al-Faqih al-Muqaddam.

Soal gelar yang disandangnya, karena Imam Muhammad bin Ali seorang guru besar yang menguasai banyak sekali ilmu-ilmu agama diantaranya ilmu fiqih maka beliau diberi gelar al-Faqih. Salah seorang guru beliau Ali Bamarwan mengatakan, bahwa beliau menguasai ilmu fiqih sebagaimana yang dikuasai seorang ulama besar yaitu al-Allamah Muhammad bin Hasan bin Furak al-Syafi’i’, wafat tahun 406 Hijriah. Sedangkan gelar al-Muqaddam berasal dari kata Qadam yang berarti lebih diutamakan, dalam hal ini waliyullah Muhammad bin Ali sewaktu hidupnya selalu diutamakan sampai setelah beliau wafat maqamnya yang berada di Zanbal Tarim sering diziarahi kaum muslimin sebelum menziarahi maqam waliyullah lainnya. Berkata Syaikh Ahmad bin Muhammad Baharmi, ‘Saya melihat Syaikhoin Abu Bakar dan Umar ra dalam mimpi berkata kepada saya, jika engkau ingin berziarah maka yang pertama kali diziarahi ialah al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali, kemudian ziarahilah siapa yang engkau kehendaki’. Beliau adalah orang yang pertama kali membawa bendera tasawuf di Hadramaut.

Waliyullah Muhammad bin Ali dilahirkan di Tarim, beliau anak laki satu-satunya dari Imam Ali bin Muhammad Shahib Marbad yang menurunkan sekitar 75 leluhur kaum Alawiyin, sedangkan Imam Alwi bin Muhammad Shahib Marbad menurunkan kurang lebih 15 leluhur Alawiyin. Imam Muhammad bin Ali yang terkenal dengan nama al-Faqih al-Muqaddam ialah sesepuh kaum Alawiyin. Beliau dilahirkan pada tahun 574 H di Tarim. Beliau seorang yang hafal al-quran dan selalu sibuk menuntut berbagai macam cabang ilmu pengetahuan agama hingga mencapai tingkat sebagai mujtahid mutlak. Mengenai Imam al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali, Sayyid Idrus bin Umar al-Habsyi dalam kitabnya Iqdul Yawaqiet al-Jauhariyah mengatakan, ‘Dari keistimewaan yang ada pada Sayyidina al-Faqih al-Muqaddam adalah tidak suka menonjolkan diri, lahir dan batinnya dalam kejernihan yang ma’qul (semua karya pemikiran) dan penghimpun kebenaran yang manqul (nash-nash Alquran dan Sunnah)’. Penulis buku al-Masyra’ al-Rawy berkata, ‘Beliau adalah seorang mustanbith al-furu’ min al-ushul (ahli merumuskan cabang-cabang hukum syara’ yang digali dari pokok-pokok ilmu fiqih. Ia adalah syaikh syuyukh al-syari’ah (mahaguru ilmu syari’ah) dan seorang Imam ahli hakikat, Murakiz Dairah al-Wilayah alRabbaniyah, Qudwah al-‘Ulama al-Muhaqqiqin (panutan para ulama ahli ilmu hakikat),Taj al-A’imah al-‘Arifin (mahkota para Imam ahli ma’rifat) dan dalam segala kesempurnaannya beliau berteladan kepada Amir al-Mukminin (Imam Ali bin Abi Thalib). Thariqahnya adalah kefakiran yang hakiki dan kema’rifatan yang fitrah.” Imam al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali, wafat di kota Tarim tahun 653 hijriah.

Guru-gurunya.

Al-Faqih al-Muqaddam belajar dengan banyak guru, diantaranya syekh Ali bin Ahmad Bamarwan di mana beliau belajar ilmu usul fiqih. Ilmu tafsir dan hadits belaiu pelajari dari sayid Ali bin Muhammad bin Jadid. Ilmu tasawuf dan ilmu hakikat beliau pelajari dar sayid Salim bin Basri bin Abdullah bin Basri bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir. Selain itu beliau juga belajar kepada syekh Abdullah bin Abdurrahman Ubaid, syekh Ahmad bin Muhammad Baisa, syekh Muhammad bin Ahmad Abilhib al-Khatib, syekh Muhammad bin Ali al-Khatib dan sayid Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath.

Ada tiga orang guru yang banyak mempengaruhi al-Faqih al-Muqaddam, mereka adalah ayahnya sayid Ali Bin Muhammad Shahib Mirbath, syekh Ahmad Bamarwan, dan guru yang tidak pernah dijumpainya secara zahir tetapi merupakan guru yang membukanya ke alam gaib, yaitu syekh Abu Madyan.

Al-Faqih al-Muqaddam Dan Syekh Said bin Isa al-Amudi.

Thariqah al-Saadah Bani Alawi bermula dari Al-Imam al-Ustadz al-A’zham al-Faqih al-Muqaddam yang merupakan silsilah yang tinggi dan mulia, kemudian bergabung dengan Syekh Said bin Isa al-Amudi[1], keduanya menerima khirqah dari Syekh Abu Madyan al-Maghribi melalui Syekh Abdullah al-Saleh al-Maghribi. Dengan kedua ulama tersebut kokohlah Thariqah Abi Alawi di Hadramaut dan negeri lain, dengan banyaknya murid mereka. Anak-anak dan murid-murid kedua Syekh tersebut menyebarkan qaidah-qaidah thariqah tersebut. Berkata sayid Alwi bin Thahir al-Haddad,’Bersatunya keluarga al-Amudi dan Saadah Bani Alawi sejak dulu disebabkan oleh keberkahan yang menyambungkan antara al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali dengan Syaikh al-Kabir al-arif billah Syaikh Said bin Isa al-Amudi’. Al-Faqih al-Muqaddam dan Syekh Said bersama-sama membuat landasan thariqah mereka beserta dalil-dalilnya, diantara landasan tersebut adalah :

1. Meninggalkan cara kekerasan (mengangkat senjata) dalam menyebarkan thariqah mereka.

2. Menghindarkan perselisihan bila terjadi perbedaan dalam suatu perkara hukum.

3. Beramal berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan oleh manhaj ahlu sunnah.

4. Menyebarkan ilmu dan da’wah kepada Allah swt dengan cara hikmah dan mau’izhah hasanah.

Yang dimaksud dengan meninggalkan kekerasan (mengangkat senjata) yaitu mengganti cara penyebaran thariqahnya dengan tanpa mengangkat senjata dalam kehidupan masyarakat. Begitu pula dengan Syaikh Said bin Isa al-Amudi yang membawa cara damai dalam menyebarkan thariqahnya ke Du’an. Dalam kitab Taj al-A’rasy halaman 199 disebutkan bahwa al-Faqih al-Muqaddam selalu dihiasi dengan kefakiran dan meninggalkan senjata dalam menyelesaikan semua urusan. Beliau juga berdoa untuk anak cucunya agar mempunyai kedudukan (maqam) dan hal dengan perantaraan senjata bathin.

Dengan landasan tersebut Allah memperlihatkan kebesaran ilmu dan akhlaq setelah mereka menjauhkan diri dari berbagai perdebatan dalam hukum dan segala bentuk perselisihan. Dan mereka mewariskan sifat-sifat tersebut kepada anak cucu dan pengikutnya dengan menekankan kepada pentingnya perdamaian antara manusia dan membuat kesepakatan keamanan di jalan-jalan maupun di pasar-pasar dengan qabilah-qabilah yang berseteru, membuang jauh-jauh perselisihan yang membuat lemah kekuasaan masing-masing pemimpinnya dan sebaliknya bersibuk diri kepada pekerjaan yang bermanfaat seperti bercocok tanam karena Hadramaut adalah negeri yang luas tanah pertaniannya dan perkebunan kurma dan sayurannya. Bahkan keutamaan mereka dapat dilihat disebabkan mereka berusaha untuk memperbaiki keadaan tanah mereka dan menyibukkan diri mereka dengan mengolahnya seperti telah dikerjakan oleh al-Imam Muhammad bin Ali Shahib Marbath, al-Imam al-Syaikh Ali bin Alwi Khali’ Qasam dan al-Imam al-Faqih al-Muqaddam dan orang-orang setelah mereka.

Dapat dikatakan bahwa keluarga Bani Alawi, mereka telah berjalan di atas madrasah Bani Alawi, mereka tidak lagi mencari manhaj lain kecuali manhaj Saadah Bani Alwi yang mereka pelajari dan ajarkan kepada yang lainnya hingga saat ini.

Sehingga dapat dilihat beberapa ulama didikan madrasah Bani Alawi yang diberkahi dan selalu mengambil dan menghubungkan sanad-sanad keilmuan mereka kepada sanad-sanad ulama yang lurus dalam thariqah mereka, dan tidak terdengar dari perkataan mereka kecuali mereka dapat dari para salaf mereka, dan tidak kita baca, memutuskan dan menetapkan suatu hukum kepada para murid-muridnya kecuali dengan apa yang mereka dapat dari para keluarga dan salaf mereka yang sholeh.


[1] Syaikh Said bin Isa al-Amudi menyambung nasabnya kepada khalifah Abubakar al-Shiddiq Sebagaimana telah dikuatkan oleh para ahli sejarah, salah satunya dijelaskan dalam kitab al-Syamil Fi Tarikh Hadramaut karangan Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad dan kitab Idam al-Quut karangan Sayid Abdurahman bin Ubaidillah al-Saggaf .


Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: